Gairah Di Masa Lalu

By ceritadewasa | Label:

Gairah Di Masa Lalu


Dino tengah konsen di mejanya menghadapi
lembaran-lembaran kertas gambar yang menutupi
mejanya. Sekejab sebuah wajah dari masalalunya
terbersit. Yani, seorang gadis yang pernah di
pacarinya saat masih kuliah dulu. Hubungan yang terbina berlalu begitu saja tak ada ujungnya.

Begitu jam menunjukkan pukul 16 Dino
langsung ngacir dengan tergesa-gesa. Ia masih ingat alamat dan no telpon Yani masih tersimpan dalam agenda lamanya terkunci di lemari pakaiannya. Tak sabar begitu sampai di rumah dengan terburu-buru setengah berlari seraya melemparkan sepatunya ia bergegas ke kamarnya, mengacak-acak seluruh isi lemarinya. Girang perasaannya melihat agenda bersampul kulit coklat yang telah lusuh tergeletak di sudut lemarinya. Dengan segera diraihnya agenda tersebut dan membalik tiap halamannya dengan tak sabar. Tertera nama Yani gadisnya dulu itu lengkap dengan nomer teleponnya. Segera dimasukkannya ke dalam tas kerjanya dan lalu bergerak untuk mandi…

Pagi hari Dino telah bergegas berangkat menuju ke rutinitasnya. Tenggelam dengan lembar-lembar kertas, kalkulator dan laporan-laporan yang memusingkan. Tepat istirahat makan siang dikeluarkannya agenda coklat yang dibawanya dan segera bergerak ke luar kantor menuju sebuah wartel. Diputarnya nomor yang dulu sangat akrab baginya. Terdengar nada sambung, (come on..come…on come.on seru hatinya tak sabar)

“Hallo….” Suara seorang wanita tua menyambutnya dari seberang sana.
“Yaninya ada bu…?” Tanya Dino agak keras.
“Dari siapa ya….?”selidik wanita tersebut.
“Dino bu……….”sahut Dino lagi
“Oooo, sebentar ya…”ujar wanita diseberang.

Terdengar suara teriakan memanggil nama yang dimaksud Dino, tak lama kemudian.

“Haloo….”suara ramah yang akrab dengannya beberapa tahun lalu kembali terdengar.
“Yan…Ini Yani….kan…?” Tanya Dino memastikan.
“Betul.., Ini siapa ya……?” Tanya gadis bersuara ramah di seberang sana.
“Dino, Ini Dino…………!”sahut Dino bersemangat.
“Dino, hmm……hmm…Dino hai apa kabar…….?” seru gadis di seberang sana.
“Masih ingat ya kamu…?”Tanya Dino.
“Masih dong……”sahutnya manja.

Dan pembicaraan merekapun mengalir seperti air bah yang tak terkendali, saling menanyakan kabar masing-masing sampai ke masalah teman teman mereka dulu dan juga kabar mengenai adik kakak juga orang tua masing-masing tak luput dari bibir mereka.

Sedikit flashback hubungan mereka berakhir karena waktu mereka masih menjadi kekasih, Yani adalah mahasiswi fakultas ekonomi 3 tahun dibawah Dino pada perguruan tinggi yang berbeda. Dino telah terpengaruh nafsunya sehingga berniat hendak merenggut kegadisan Yani pada saat bercumbu dikost-an milik teman kuliahnya pada suatu sore.

Saat itu kondisi mereka berdua telah polos tanpa sehelai benangpun. Yani yang bertubuh mungil berbaring menelungkup di atas ranjang. ‘Gadis ini bertubuh mungil tapi proporsional dengan lekuk tubuh yang menggairahkan, dan pinggulnya sangat bagus bentuknya, sangat menggoda ditunjang oleh dua bongkah bola pantat yang membusung padat’ batin Dino. Tak tahan akan dorongan birahinya Dino menempatkan tubuhnya diatas Yani yang kini telah berbaring menelentang. Seperti biasanya percumbuan mereka dengan posisi ini selalu mereka lakukan akhir-akhir ini. Menggesekkan kelamin masing-masing hingga puncak kenikmatan yang menjadi tujuan tercapai.

Tapi kali ini Dino tergerak secara naluriah terpicu gairahnya, menggenggam batang kejantanannya, menggosokkan ujung membulat yang telah mengkilat oleh kelembaban yang membasahinya milik lepitan vertikal milik Yani. Berusaha menusukkkan kejantanannya perlahan.

Terasa oleh Yani tusukan-tusukan kecil yang hangat pada kewanitaanya. Sadar ia Dino telah kalap dan kehilangan kendali. Dengan sigap ia bangkit , duduk dan menatap tajam pada wajah kekasihnya.

“Apa – apaan kamu kak….?”Tanyanya sengit.
“Kamu tau kan komitmen kita untuk tidak melakukan yang satu itu…?”tambahnya tajam
“Aku salah dan khilaf ‘Ni….”sahut Dino.
“Ya sudah, sekarang antarkan aku pulang…”nadanya lebih merupakan perintah buat Dino.

Bergegas mereka mengenakan pakaiannya kembali dan tanpa kata kata mereka beranjak menuju sepeda motor Dino. Dan langsung meluncur ke arah barat kota Bandung tempat tinggal Yani. Disepanjang jalan Dino berusaha mencairkan kebisuan diantara mereka tetapi Yani tak bergeming dan tetap diam. Sampai di depan rumahpun Yani turun dengan terburu-buru dan melangkah cepat tak peduli dengan Dino yang melongo tak bisa bicara . Itulah saat terakhir ia bertemu dengan Yani. Beberapa kali telepon dan jemputan di kampus tak pernah membuahkan hasil yang diharapkannya.. Hingga kesibukan dan tuntutan akan kuliahnya perlahan-lahan menghapus segala harapannya.

…………………………….

Sekarang telepon demi telepon menghiasi hubungan mereka. Ada saja yang mereka bicarakan seolah-olah kejadian dulu tak pernah terjadi di antara mereka. Pertemuan demi pertemuan mereka lakukan di sela-sela kesibukan mereka. Hingga satu saat mereka sepakat untuk bertemu dalam suasana yang lebih intim. Mereka sepakat tanpa ada paksaan menuju sebuah penginapan di utara kota Bandung pada suatu siang.

Setelah selesai seperti biasanya sebuah prosedur sebuah penginapan, mereka telah berada dalam penginapannya. Dino duduk di kursi sambil menghembuskan sebatang rokok. Sedangkan Yani berada di pinggir ranjang, duduk sambil menyaksikan sebuah acara infotainment yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Mereka mencoba berbincang-bincang, saling bercerita mengenai masa masa lalu, dengan siapa dan bagaimana mereka berhubungan dengan masing-masing pasangannya.

Sam,pai akhirnya sambil terisak-isak wanita manis yang pernah mengisi hari –harinya Dino ini bercerita mengenai hubungannya terakhir dengan seorang pria yang dia akatakan adalah mimpi buruk.

Yani menceritakan bahwa hubungan yang berlangsung lebih kurang selama 3 tahun itu adalah sebuah kejadian yang takkan pernah diharapkan oleh gadis manapun di dunia ini. Pacarnya itu menurut Yani seorang yang cukup gagah sepintas terlihat adalah orang yang sopan dan sangat santun, di tunjang pula dengan kemampuan financial yang kuat karena anak dari seorang pejabat.

Hubungan merekapun telah cukup jauh dan Yani pun terlena membiarkan kesuciannya terenggut pada satu percumbuan mereka yang sangat panas. Begitu juga dengan orang tua sang pacar yang telah memberikan restunya karena melihat begitu putranya berhubungan dengan Yani putra mereka berubah menjadi lebih terarah dan positif dalam menjalani hari-harinya. Hanya satu yang menjadi ganjalan bagi Yani, mereka berdua berbeda keyakinan dan masing-masing bersikukuh tetap mempertahankan keyakinan masing- masing apabila nanti sampai ke pelaminan. Hal ini tidak dapat di terima keluarga besar Yani.

“Terus………….?”Tanya Dino.
“Pada saat aku hendak mengakhiri hubungan itu dia marah. Marahnya sampai- sampai aku dipukuli, di jambak bahkan sempat ditodongkan pistol di kepalaku. Aku sudah pasrah, tetapi syukurlah tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku ga mau menjadi istrinya karena sifatnya itu, kalau sudahmarah pasti menjadi sangat kalap dan apapun atau siapapun yang berada di dekatnya dapat dipastikan menjadi tumpahan kemarahannya” ujar Yani sambil terisak-isak.

“Ya sudahlah, toh kamu sekarang selamat dan tak kurang suatu apapun, anggap hal yang kemarin itu adalah mimpi buruk dan ambil saja hikmahnya” hibur Dino seraya bangkit dan mengusap-usap rambut tebal Yani.

Sambil berdiri di hadapan Yani Dino merengkuh bahu gadis itu menariknya dan membenamkan wajah Yani pada dadanya. Perlahan mengelu-elus rambut lebatnya yang sebahu. Sambil sedu sedan Yani merangkul pinggang Dino dan memeluk erat menumpahkan perasaannya pada dada bidang yang pernah menjadi sandaran hatinya.

Dino membiarkan isak Yani berlangsung, hingga akhirnya mereda. Dino beranjak duduk disamping gadis mungil itu menatap tersenyum.

“Udah lega kan……? Tanya Dino, seraya mengelus pipi halus Yani.
“Heheh…………….”gumamnya perlahan.

Dino menggamit wajah Yani dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya dan menjatuhkan kecupan pada rambut dan kening Yani. Gadis itu memejamkan matanya meresapi hangatnya bibir Dino.

Tak mau menunggu lama kembali Dino mendekatkan wajahnya menjatuhkan kecupan-kecupan hanya kini kecupan itu mendarat pada bibir Yani yang mungil penuh. Perlahan kecupan itu menjadi lumatan-lumatan yang segera disambut Yani tak kalah bergairahnya.

Perlahan tubuh mereka turun dan rebah ke ranjang secara bersamaan. Serempak mereka bergeser ke tengah ranjang. Bibir mereka kembali bertaut erat memulai tarian asmara yang hangat bergelora. Lidah Dino menjalari rongga mulut yang wangi itu, menjilati langit-langitnya dengan lincah, kadang saling berpalun-palun dengan lidah lancip Yani. Saling membelit dengan dengan mesra bak teman lama yang baru bertemu lagi.

“Uhh……….”desah lirih terlontar dari bibir mungil gadis yang berada dalam dekapan Dino tatkala lidah lelaki itu meluncur ke balik telinga dan menjilat bagian itu dengan bersemangat. Kadang cuping telinga Yani tak luput dari hisapan-hisapan lembut bibir Dino.

‘Ugh.., mudah sekali gadis ini terbangkit gairahnya, dia masih seperti dulu yang ku kenal’ batin Dino. Memang itulah yang menjadi ciri gadis mungil ini dalam bercumbu, mudah terbangkit dan akan menjadi sangat agresif apabila pasangannya tau dan mengerti titik sensasi erotiknya.

Kedua lengan Yani telah mendekap erat tubuh Dino. Jemari lentiknya menggerumas rambut ikal Dino, diringi rintihan-rintihan kecil yang lirih menggoda.

Ciuman Dino beranjak turun menjalar sepanjang urat leher, menghisap lembut dan memutarkan lidahnya dengan tekanan-tekanan lembut, terus turun pada pertemuan leher dan bahunya yang melengkung kegelian dan kembali menghisap. Menemukan kancing kemeja dan dengan sedikit gigitan melepas kait kancing pakaian Yani secara berurutan satu demi satu hingga menampakkan kulit mulus yang terpampang mengkilat oleh keringat. Jari Dino menyelusup ke belakang punggung gadis mungil yang di tindihnya, melepaskan kancing bra yang cukup ketat membungkus dua buah bukit yang membusung hampir tak tertampungkan. Dan dengan giginya Dino menyingkirkan kain pembungkus tersebut.

Yani memandang sayu segala perlakuan Dino pada pembungkus dadanya, tubuhnya bergetar lembut. Kini lidah kasap Dino meluncur sepanjang lereng bukit yang membusung tersebut menuju puncaknya yang kecoklatan.

“Ahhh……………………….”pekiknya tertahan tatkala bibir Dino sampai pada puncak dadanya, melumat puncak tersebut dengan lembut. Wajah Yani langsung menengadah sambil membusungkan tubuhnya merasakan nikmat yang sangat mendera sekujur tubuhnya di picu lumatan Dino pada puncak dadanya.

Selama mereka berhubungan Dino tau bahwa sentuhan dan lumatan pada dada gadis mungil ini akan memberikan rangsangan yang sangat hebat dikarenakan bagian inilah yang menjadi salah satu titik sensasi erotik dominan bagi Yani. Dan Dino tau persis hal ini.

Kini telapak tangan Dino sebelah kiri telah menangkup bukit yang sebelahnya, meremasnya dengan perlahan. Terkadang memelintir lembut puncaknya dengan menggunakan jepitan jari telunjuk dan tengahnya. Yani makin menggerinjal-gerinjal kegelian bercampur sensasi nikmat. Kadang saking gemasnya bibir mungil yang penuh itu menggigit kecil cuping telinga Dino. Pergumulan mereka semakin memanas dan bergelora.

Dino bangkit dan dengan sigap meraih pantalon yang dikenakan Yani tepat pada pinggangnya. Melepaskan kancingnya dan meloloskan pantaloon tersebut dari kedua paha yang mulus bersih tersebut. Yani membantunya dengan mengangkat pinggulnya yang padat.

“Ouhhh…….”desis Yani saat lidah Dino mencucupi lekukan pada perut yang rata tersebut. Sedangkan jari Dino kini sibuk dengan bukit membusung pada dada Yani. Dino kembali bergerak meraih karet pakaian terakhir yang membungkus pertemuan kedua paha Yani, mencoba menariknya..

“Ja…jangan…kak………”rintihnya lirih.
Dino menghentikan tangannya, dan kembali menjilati setiap kulit tubuh gadis mungil itu dengan tekun, menghantarkan sengatan-sengatan birahi padanya. Lidahnya meluncur sepanjang karet pembungkus berbahan satin tersebut, perlahan turun menemukan gundukan berambut yang menerobos bahan satin tersebut Melumat bagian itu dengan giat.

“Ohhh……kak………….”erang Yani makin keras.

Merasakan tubuh Yani makin menggelinjang, Jari Dino menggeser pinggiran berbahan satin yang telah lembab itu tepat pada kewanitaannya Yani, menampangkan celah vertical yang merah muda itu. Aroma khas segera tercium oleh Dino. Kehangatannya terasa pada wajah Dino.

“Ahhhhhhhh…………….”jerit Yani saat bibir Dino melumat lepitan lembab tersebut, menghisapnya dengan gemas.

Lidah Dino mulai menelusup kedalam celah tersebut menjaelajahi kelembaban yang lembut tetapi sangat peka tersebut. Merasakan keleluasaannya terbatasi oleh bahan satin yang masih menghalangi aktifitasnya, Dino kembali meraih karet tersebut dan menariknya lepas diringi tatapan terkejut bola mata Yani.

“Jangan …kak………….”isaknya perlahan terdengar.
“Percaya deh…sama kakak, kakak tau yang kamu maksud….”sahut Dino.
“Nikmati aja dulu……….”ujar Dino menenangkan.
“Beneran ya kak…? Ni akan percaya……”sambungnya lirih.

Kembali kini lidah Dino bermain pada lepitan hangat di pertemuan kedua paha Yani. Yani membantunya dengan menggamit kedua kakinya sehingga Dino dengan leluasa melakukan eksplorasinya pada setiap mili selah vertical itu.

“Uhhhhh……..ahhhhhhh”erangan Yani makin sering terdengar seiring perjalanan lidah Dino menyelusup dan mengecup kelembutan yang berada disana.

Dino menemukan tonjolan sebesar kacang tanah di sana dan segera di lumatnya dan dijilatinya dengan lidahnya yang kasap.

“Ohh……………………”rintih Yani dengan kedua bola mata yang membeliak-beliak. Kadang hanya bagian putihnya saja yang terlihat diiringi dengan tubuhnya yang bergetar-getar pada setiap tekanan lidah Dino.

Keringat telah membasahi seluruh permukaan kulit mulus Yani, membuatnya mengkilat oleh terpaan sinar sore yang menerobos lewat lubang angin jendela kamar itu.

Dengus napas Yani yang memburu terdengar riuh mengiringi setiap langkah birahinya menuju satu keputusan. Keputusan puncak yang tengah didakinya di bimbing oleh lelaki yang pernah dekat sekali dengannya. Dino meyakini hal itu dan terus memberikan pasokan-pasokan gelora asmara lewat lidahnya, berusaha memenuhi kedahagaan gadis mungil ini.

“Ouhhhh,…….Ouh………..Ahhhhhhh………!”pekik Yani tatkala seluruh tubuhnya serasa tercabut dari kefanaan, melambungkannya ke awan berwarna-warni, melayang-layang seringan kapas. Tubuhnya menyentak kuat dengan kedua kaki menjepit bahu Dino. ‘Ingin rasanya berlama-lama merasakannya’ suara batinnya menggumam tak rela rasa tersebut sirna perlahan.

Saat gelombang itu mereda Yani dengan wajah bersemu merah membuka matanya menatap kearah Dino yang juga tengah memandangnya.

Tersungging senyuman manisnya pada wajah yang mengkilat oleh keringat disana sini. Ia bangkit meraih wajah Dino dan menjatuhkan kecupan bertubi-tubi pada lelaki itu. Memeluk dengan erat sambil merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu.

“Terimakasih kak……kakak bisa ‘Ni percayai…” ujarnya perlahan.


15 menit kemudian mereka beranjak membersihkan diri dan membenahi pakaian masing-masing. Sore itu mereka turun menuju kota Bandung kembali.

………………………………

Hubungan mereka hari demi hari semakin dekat. Mereka sering berjalan bersama. Pembicaraan- pembicaraan mereka di telefon pun tak kenal batas lagi. Kadang menjurus pada hal yang berbau seksual, berbagi fantasi – fantasi yang bergairah. Dino juga sering mendengar cerita Yani tentang aktifitas seksual yang dilakukannya dengan pacarnya terdahulu. Kadang itu membuatnya cemburu.

“Kenapa dengan aku kamu ga mau ML ‘Ni? Tanya Dino suatu saat.
“Bukannya ga mau, aku harus yakin dulu bahwa kita memang tertarik satu sama lain mengenai hal itu….”sahut Yani di smsnya.
“Aku ga mau kakak memperlakukan aku seperti sebuah barang….”sambungnya lagi.
“Setelah di pakai di buang dan dicuekin…….Aku menginginkan itu terjadi secara natural, terjadi dengan sendirinya.”tambahnya lagi.

Yani juga menceritakan bagaimana detil keinginan aktifitas seksualnya nanti bersama Dino apabila telah tiba saatnya. Cukup kita melakukan ’hotdog’ saja, maksudnya adalah cukup melakukan petting dengan batang kejantanan Dino dijepit dan diurut oleh lepitan kewanitaannya dan bukannya ‘disate’ (intercourse).

Dino penasaran dan bertanya lagi.
“Bagaimana kalau terjadi ‘penyatean’?”
“Ya sudah kalau itu terjadi ya tinggal nikmati saja….”ujar Yani dalam smsnya lagi.
“Habis bagaimana lagi kan……..?”sambungnya kembali.

……………………………….

Suatu siang di tengah kesibukannya, dering ponsel mengagetkan Dino, segera dirogohnya celana dan di layer LCD tertera ‘Yani’. Segera di pijitnya tobol ponselnya.

“Hai ‘Ni…, tumben nih….”sapa Dino
“Ga.., Cuma lagi suntuk……”sahut suara renyah dari seberang.
“Besok libur kan…?”Tanya Yani pemilik suara renyah tersebut.
“Hmm………………………”Gumam Dino.

Kebetulan besok adalah hari raya idul adha dan sudah pasti semua kegiatan kantor libur.

“Besok kerumah ya……….”ajak Yani lagi.
“Hmmm…………..jam berapa?”
“Ya sekitar 10 – 11-an deh………..”sahut Yani.
“Ok………………………..”sahut Dino.

‘Ada apa ya…?’pikir Dino. Hmm sepertinya inilah saatnya ‘hotdog’ gumamnya dalam hati.

Tak sabar ia melewatkan detik demi detik berlalu menunggu esok hari. Malamnya pun matanya tak dapat dipejamkan nyenyak. Gelisahnya berakhir tatlaka menjelang adzan subuh. Barulah matanya terpejam rapat.

……………………………….

Jam setengah 11 Dino telah berada di ruang tamu rumah Yani dimana ia tinggal bersama kedua orang tuanya, sedangkan kedua kakaknya telah menikah dan tinggal terpisah di wilayah lain kota yang sama.

“Sebentar ya dek bapak tinggal dulu mau ke mesjid bantu-bantu pembagian daging korban” ujar bapaknya Yani sambil menarik istrinya yang telah bersalin dari kamar.
“Oh, silakan..silakan pak, bu….”sahut Dino sambil tersenyum.

Tak lama berselang kedua orang tua Yani telah berada di halaman rumah, Yani keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Mengenakan kaos ketat membungkus tubuh mungilnya dipadu dengan kulot hitam, melangkah menuju pintu depan melewati Dino dan menutupkan pintu depan tersebut. Terbayang pada bagian dada putik dadanya yang lancip di balik kaosnya. Gadis itu tak mengenakan bra !!

Pinggulnya yang membulat indah melesak di sofa di samping Dino.

“Segar……..ya…..?”sapa Dino.
“Segar banget……..”terang gadis mungil itu renyah sambil menyisir rambut sebahunya.

Obrolan mereka berlansung seru, terkadang Yani tertawa kecil oleh gurauan Dino, kadang ia terpekik kesil tatkala Dino menggelitiki pinggang rampingnya. Yani pun kadang membalas memukuli bahu lelaki itu tak tahan oleh geli yang timbul.

“Kamu makin lucu dan mengemaskan aja ‘Ni”ujar Dino saat merapikan helaian rambut yang jatuh di kening gadis berkulit langsat tersebut.
“Ngegombal……….nih……?”kelakar Yani.
“Ga, beneran ko……………..”terang Dino.
“Perasaan aku ga berubah deh ……………” bantah Yani.
“Betul……………………….”yakin Dino.
“Menggemaskan apanya……? Tanya Yani membelalakkan mata bulatnya seraya wajahnya mendekati wajah Dino.
“Hayo……….apanya yang menggemaskan?Tanya Yani lagi mengulangi lirih.
“Ini………….”Ujar Dino menggamit dagu lancip gadis itu dan mendekatkan wajahnya.

Kecupan Dino mendarat pada bibir mungil nan penuh tersebut. Menghisap bibir bawahnya yang lembut, dan kembali menarik wajahnya.

Menatap bola mata gadis mungil didepannya dengan tatapan tak lepas. Bibir Yani yang setengah terbuka terlihat sangat seksi sekali, merah muda tak dilapisi oleh pemerah. Yani juga menatap bergantian pada bola mata dan bibir lelaki itu. Terlihat ada liur mereka masih mengait bak sehelai benang antara kedua abibir yang trepisah jarak beberapa senti saja.

Dengan cepat kembali bibir Dino telah melumat bibir mungil Yani. Kali ini dengan gairah yang meledak-ledak. Yani juga bereaksi tak kalah panasnya. Mereka tenggelam dalam permainan lidah dan bibir yang panas bergelora.

Bibir dan lidah Dino beranjak menyusuri leher jenjang terus ke belakang dimana bulu-bulu halus tumbuh, terus ke atas ke balik telinga lancip. Menjilati bagian itu dengan sangat lincah, sesekali melumati cuping telinga yang berbau wangi itu.

“Hmmmh…………..”desis Yani lirih.

Kedua tangan Dino telah berada di balik kaos ketat gadis itu, menyentuh kelembutan yang padat pada lereng bukit dadanya. Rabaannya meluncur menuju puncaknya yang bernoktah coklat.

“Uhhh……………….”desahan lirih mengiringi jari Dino memijit puncak dadanya yang mulai membengkak.

Tak leluasa, jari Dino menyingkapkan kaos gadis itu keatas, membebaskan dari kungkungan pakaian ketat. Bukit membusung sebelah kiri tersebut langsung di lumat Dino. Menggesekkan lidah kasapnya mengeliling berputar menuju puncak lancip yang mulai tegak mengeras.

“Ouhhhh……………..”rintih Yani seraya membeliakkan matanya saat bibir Dino mengulum puncak kecoklatan di dadanya. Sambil menghisap putik tersebut lidah Dino membelai puncak yang berada dalam mulutnya tersebut, sementara bukit yang sebelah kanan tak luput dari jamahan tangan Dino.

Serasa deraan gelombang demi gelombang nikmat menyeret Yani. Membumbung perasaan gatal geli di sekujur tubuhnya yang menggigil.

Sementara itu dalam posisi berada di bawah dekapan Dino, jemari lentik gadis itu telah berada didalam celana khaki lelaki berwajah manis itu. Menyelusup lewat pinggang terus ke balik pakaian dalam dan mengenggam- mengurut disana. Batang tegar milik Dinopun mulai menegak dan membesar. Aliran gelombang birahi yang dirasakannya mengalir lewat sentuhan, rabaan jemari lentik yang ahli ke seluruh tubuhnya.

Saling berganti kini bukit membusung di dada Yani mendapatkan kuluman dan hisapan-hisapan sporadis dari mulut dan bibir Dino. Punggung Yani melengkung keatas memberikan keleluasaan bagi lelaki yang pernah menjadi raja hatinya, untuk menjelajahi seluruh permukaan kulit dadanya yang mulus memasok gelombang demi gelombang ke seluruh permukaan erotiknya.

‘Ah, teruskan…teruskan lelakiku………, berikan aku lebih banyak lagi’ batin Yani.

Dari bukit dada yang membusung padat bibir Dino meluncur turun menemukan dekikan di permukaan perut yang rata itu. Menjilat dan membelainya dengan lidahnya yang kasap. Sementara itu kedua tangannya telah menemukan pinggiran kulot yang telah semrawut. Melepas kaitnya dengan sigap dan menarik turun sekalian dengan kain pembungkus pertemuan kedua paha Yani. Pandangannya Dino nanar menatap gundukan berambut halus di antara kedua paha gadis mungil itu. Mencium aroma khas yang terbit ke indra penciumannya.

“Ahhhhhhhh……………………………..”erang Yani menggeliatkan tubuh mungilnya tatkala bibir dan lidah Dino beraksi pada organ kewanitaannya.

Jilatan lidah Dino membelai lepitan memerah muda yang telah basah itu dengan intens. Kadang mencucupi lepitan tersebut dengan bibirnya. Kini yang ada di pikiran gadis mungil itu adalah penuntasan seluruh gairah yang telah menggulungnya, tak terbersit sedikitpun untuk menghentikan semuanya.

Lidah Dino kini menyelusup ke dalam kelembutan lepitan memerah muda gadis mungil itu, menjelajahi seluruh permukaan nya yang hangat dan telah lembab. Akhirnya menemukan tonjolan sebesar kacang tanah yang segera di kulum dan di hisapnya dengan cepat.

Yani semakin menggila, rintihan dan pekik kecil makin sering terdengar diantara gemuruh napasnya yang memburu. Geliat liar tubuh mungil itu akhirnya membuat Dino untuk menggerakkan tubuhnya berganti posisi. Kini lelaki itu terlentang di atas sofa, sedangkan Yani langsung membukai gesper dan kait celana khaki Dino, menurunkannya sekaligus dengan celana dalam yang menutupi batang tegak miliknya.

Begitu batang tegak kejantanan Dino mengacung ke udara bak sebuah monumen kokoh, segera bibir Yani melahapnya, menghisap dan mengulumnya dengan gemas. Kini Dino merasakan aliran gelombang kenikmatan menjalar melalui hisapan dan kuluman kehausan bibir mungil tersebut. Kadang lidahnya membelai ujung membola kejantanan Dino. Tak lama berselang Yani pun mengambil posisi mengangkangi batang kejantanan Dino. Dan dengan jemari mungilnya gadis itu menempatkan batang tegak lelaki itu pada belahan lepitan kewanitaannya.

Kini tubuh mungil itu bergerak maju mundur, menggesekkan lepitan kewanitaan pada batang kejantanan lelaki di bawahnya. ‘Oh inilah maksud dari hotdog’batin Dino.

“Ohh..kak………………”erang Yani sambil bergerak maju mundur diatas tubuh Dino. Gatal dan geli berpadu dengan keringat yang membasahi dada membusungnya yang turut bergoyang seiring.

“Uhhh…………………..”rintih Yani terputus – putus sambil merebahkan tubuhnya rata diatas tubuh lelaki itu. Gerakannya makin bervariasi dengan gerakan memutar melingkar bak kincir.

Dino bergerak bangkit, turun dari sofa dan menarik tubuh Yani agar bersandar pada sofa, menempatkan tubuhnya diantara kedua kaki Yani. Dengan menggunakan tanganya Yani menempatkan kembali batang kejantanan Dino terjepit pada lepitan vertikal miliknya.

Dino bergerak memacu pinggulnya menggosokkan batang kejantanannya pada lepitan basah tersebut. Yani juga mengimbangi dengan menyambut setiap gerakan Dino. Hingga…

“Ahhhhhhh………………”pekik Yani lirih tatkala ujung membola kejantanan Dino tergelincir dan menyelusup sesaat pada lepitan basah kewanitaannya. Matanya mendelik sesaat dengan tubuh memggigil merasakan nikmat yang sangat.

“Ni………………………”ujar Dino serak.
“Ouhhhh……………….kak..”sahutnya sambil menatap sayu mata Dino.

Dino tak dapat lagi menahan diri. Dino menggenggam batang kejantanannya dan menempatkan ujung membola kejantanannta tepat pada permukaan lepitan kewanitaan Yani. Mata mereka terpaut lekat, dan Yani menganggukkan kepalanya…………………..

‘Lakukanlah…..kak…lakukanlah segera’suara hati Yani berdentum riang.

Dino bergerak.

“Oohhhhhh…………………”erang Yani saat Dino mendorong pinggulnya, mencoba membenamkan batang kejantanannya pada kewanitaan gadis mungil itu.

Terasa ketat liang tersebut. Mili demi mili batang tersebut terus mendesak masuk merasakan seluruh permukaan liang yang telah basah itu ikut menyambutnya dengan denyut-denyut berirama.

Terasa sesuatu berdetus saat perjalanan batang tersebut membenamkan dirinya sedalam mungkin diiringi pekik kecil Yani. Dibarengi tarikan kedua tangan Yani pada pinggangnya Dino mendorong keras hingga amblaslah sudah seluruh batang kejantanannya. Memenuhi, menyesaki kewanitaan yani untuk menyempurnakan persetubuhan mereka.

Dino bergerak perlahan memompakan gelombang demi gelombang bergelora mendaki lereng kenikmatan menuju puncak. Yani pun tak tinggal diam mengiringi setiap hunjaman Dino dengan gerakan memutar-mutar. Kecipak-kecipak seksi terdengar dari pertemuan kulit mereka yang telah basah oleh keringat disana sini.

“Uhhh……….ouhhhhhhhhh”erang gadis mungil berulang kali.

Gerakan mereka tak terburu-buru mengalir pasti menghantarkan gelombang birahi yang makin membulak. Kini kedua tangan Yani mendekap ke sandaran sofa. Tubuhnya melengkung ke belakang dengan kepala yang menggeleng-geleng, membuat Dino leluasa menggapai puncak bukit dada yang membusung dengan mulutnya. Bergantian kedua bukit itu mendapat hisapan dan kuluman yang diselingi gigitan lembut pada putikmya.

“Kakk………..kakk………..”jerit Yani berulang ulang dengan suara serak.

Gerakan Dino makin mantap dan bertenaga memompa pinggulya menyesaki kewanitaan Yani dengan hunjaman hunjaman tak kenal lelah. Memacu hasrat mereka berdua demi penuntasan puncak yang diinginkan.

“Kak…………….Ohhh….Ohhhh”jerit – jerit kecil Yani makin sering seiring makin dekatnya ia pada titik puncak. Kedua kaki mulus gadis mungil itu kini menggapit kebelakang kaki berbulu Dino. Menyilangkan dan mengunci disana.

Terasa makin basah permukaan dalam kewanitaan Yani membuat Dino dapat bergerak makin cepat. Kebasahan itu melumasi persentuhan batang kejantanannya dengan permukaan lembut bagian dalam kewanitaan Yani yang terkadang berdenyut mencekal. Tubuh yani yang mungil itu menggelinjang-gelinjang dalam pelukan Dino. Hingga…..

“Aahhhhhh………..Kakak…..”pekik Yani seraya menyentakkan pinggulnya menyambut hunjaman-batang kejantanan Dino yeng memenuhi liang kewanitaannya. Terasakan oleh Dino denyut-denyut kecil mencekal batang kejantanannya. Bibir mungilnya menggigit dada Dino menikmati gelombang demi gelombang surgawi mengalir disekujur tubuhnya, merasakan dirinya terlontar ke angkasa berwarna warni, mengambang melayang di sepanjang antero maya. Menerbangkan jiwanya ke awan melenakan. Tubuh mungilnya bergetar dan bergerak liar menyempurnakan penyampaian keputusan puncaknya yang membahana.

Dino bergerak makin cepat memompa dengan segenap hasratnya yang makin penuh. Memacu biduk birahinya semakin kencang menuju pelabuhan gairahnya yang makin meledak-ledak. Lecutan-lecutan membara telah mulai terbentuk di tulang punggungnya, terus mengalir dari seluruh tubuh menyatu melalui seluruh pembuluh darahnya melesat di sepanjang urat batang tegangnya berkejaran menuju pintu pelepasannya, dan……

“Arghhhh………………..”geram Dino seraya menarik lepas batang kejantanannya, menggelincir di lepitan kewanitaan Yani dan naik ke atas, menggelegak sesaat lalu menyemburkan isinya. Berkali-kali semburan materi hangat dan kental itu membasahi perut dan pusar gadis mungil itu hingga akhirnya melemah.

Terdiam mereka meresapi kenikmatan yang masih tersisa dengan berpelukan ketat. Akhirnya dengan bergerak lemah Dino duduk disamping gadis mungil itu. Menarik kepalanya rebah didadanya.

“Ni……………………”panggil Dino.
“Hhmm……………….”gumamnya Yani perlahan.
“Maafkan……………..” perkataan Dino terputus oleh jari lentik yang menempel di bibirnya.
“Ni juga menginginkannya kak……..”terang gadis mungil tersebut perlahan.
“Dan ‘Ni………tak menyesalinya….” sambungnya lagi.

Setelah mereka berkemas-kemas merapihkan diri, mereka kembali duduk nerhadapan di sofa tersebut, berbincang-bincang mesra bak sepasang kekasih. Dino juga sempat menanyakan kegadisan Yani yang sepertinya direnggutnya tadi. Menurut penuturannya, kejadian tadi disebabkan oleh ukuran kejantanan Dino melebihi ukuran milik pacarnya terdahulu yang menurutnya dibawah ukuran standar, sehingga tak tuntas memerawaninya. Lega hati Dino mendengarnya meskipun bukan sebagai yang pertama setidaknya ialah yang menuntaskan..

Tak lama berselang kedua orang Yani kembali dari mesjid, Dino pun pamit pulang diringi bisikan Yani.

“Lain waktu kita ulangi kak…………..”

0 komentar:

Poskan Komentar