Rabu, 09 Juni 2010

awal-sebuah-ketulusan


Awal Sebuah Ketulusan

Pada mulanya aku tidak begitu tertarik dengan namanya
chatting. Tetapi lama kelamaan aku jadi ketagihan dan setiap
hari aku selalu meluangkan waktu Untuk beberapa saat lamanya
sembari mengerjakan tugas harian di kantor. Baik itu melalui
MIRC ataupun di YM. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal
apa itu dunia cyber. Suatu hari aku chatting dengan
menggunakan nickname Jingga yang kebetulan aku suka banget
dengan warna purple.
Hingga sampailah aku di pertemukan dengan cewek yang berumur
17 tahun yang mempunyai nama asli Adinda. Adinda yang masih
berstatus pelajar di salah satu SMU negeri di Jakarta dan
tinggal di sekitar Jakarta Barat. Dengan paras yang cantik
serta bentuk tubuh yang sexy di dukung penampilannya yang
selalu mengenakan rok abu-abunya di atas lutut. Menjadikan
dirinya patut untuk di kagumi oleh setiap lelaki. Apalagi
dengan hem putihnya yang sedikit transparan setiap Adinda
berangkat ke sekolah. Begitu menerawang terbentuk segaris Bra
36 warna hitam kesukaannya menjadikan setiap mata yang
memandangnya tak akan berkedip sedetikpun.
Adinda adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang
di Jakarta. Kesibukan papanya sebagai seorang pengusaha,
menjadikan Adinda selalu merasa kesepian. Demikian juga dengan
Mamanya yang selalu sibuk dengan urusan arisan, shopping,
senam, salon dan banyak lagi kesibukan yang datang tak pernah
habisnya. Karena merasa kesepian setiap pulang dari sekolah
ataupun saat libur sekolah, menjadikan Adinda tumbuh tanpa
seorang figur dari keluarganya. Kalau melihat kepribadiannya
Adinda sebenarnya mempunyai kepribadian yang periang dan
ramah.Semua itu bisa di lihat dengan kesehariannya yang selalu
tersenyum kepada semua orang yang di jumpainya.
Demikian juga saat bertemu denganku lewat Chatting. Setiap
perjumpaan selalu diakhiri dengan kesan yang baik,
bagaimanapun juga aku sangat menghargai. Kejujurannya yang
menceritakan masalah keluarganya yang super sibuk dan mantan
cowoknya yang berpaling darinya, karena tidak bisa bersabar
menghadapi Adinda yang belakangan menjadi pemurung. Sifatnya
yang pemurung itu disebabkan oleh suasana keluarganya yang
mulai tidak harmonis lagi dan menjadikan sosok Adinda menjadi
minder di sekolahnya.
Hingga pada satu kesempatan dia memutuskan ingin bertemu
secara langsung denganku. Hari itu setelah kita chatting
beberapa saat, tiba-tiba dia menangis dan butuh teman untuk
curhat secara langsung dan alasannya, karena dia sudah akrab
dan percaya kepadaku.
Setelah menentukan tempat yang cukup aman, sejuk udaranya dan
tidak bising akhirnya aku sepakat menemuinya. Dengan perasaan
deg-degan, sepanjang perjalanan aku berpikir ada masalah apa
dengan Adinda. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika
aku benar-benar ketemu dengannya.
Sesaat Aku terkagum-kagum melihat penampilannya hari itu.

Berbeda dengan kesehariannya yang selalu mengenakan seragam
sekolah. Hari itu Adinda mengenakan stelan celana jeans agak
belel warna biru di padu dengan kaos putih ketat yang menonjol
di bagian dadanya. Rambut panjangnya di biarkannya tergerai
menyentuh bahunya melewati leher jenjangnya yang putih bersih.

Dari penampilannya yang mengagumkan aku sempat menelan ludah
sesaat. Adinda adalah sosok cewek idolaku. Mulai dari
wajahnya, dadanya, pinggulnya dan lekukan Pantatnya yang sexy
tecetak jelas di celananya yang ketat juga. Membuat aku
menelan terdiam sesaat, sambil membayangkan bagaimana jika aku
bisa bercinta dengan dia.
Di sebuah cafe yang suasananya pada siang itu tidak begitu
ramai, dengan hanya beberapa pengunjung, menjadikan
pertemuanku dengan nya akan sangat berkesan tentunya. Selama
pembicaraan di cafe, jantungku berdetak kencang setiap melirik
paras Adinda yang cantik dan manis sekali dan aku membayangkan
jika aku dapat menikmati bibirnya yang merekah. Untuk
menghilangkan rasa cemasku, aku berusaha membuka pembicaraan
dengan menanyakan bagaimana kesannya setelah bertemu dan ada
masalah apa sampai dia memintaku datang menemuinya.
Pertemuan itu sebenarnya hanya sekedar alasannya aja agar bisa
ngobrol denganku dan mengenal lebih dekat siapa diriku
sebenarnya. Hal itu aku ketahui setelah kami terlibat
perbincangan serius di cafe dan dia berterima kasih, kalau
selama ini aku bisa dengan penuh kesabaran mendengarkan semua
masalah yang di hadapinya.
"Diet... Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Adinda
tiba-tiba.
"Boleh... Ada apa emangnya?" tanyaku balik.
"Aku mulai merasakan semua kasih sayang kamu selama ini,"
jawabnya.
"Dan aku juga ingin memberikan hal yang sama buat kamu,"
lanjutnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua penjelasannya, dengan
lembut aku memeluk tubuhnya untuk meyakinkan bahwa semua yang
kulakukan tulus adanya. Dan dengan pelan aku genggam jemari
tangannya yang halus serta aku pegang dagunya dengan lembut
bibirku menyentuh bibirnya yang terbuka sedikit. Yang tak lama
aku telah menciumi leher Adinda yang terlihat sangat bersih
dan putih.
"Adinda aku sayang kamu...," bisikku di telinganya lirih.
Adinda semakin erat memelukku sebagai ungkapan kebahagiaannya
atas sikapku. Setelah perbincangan di cafe selesai, Adinda
mengajakku untuk bersantai sejenak sambil beristirahat dengan
memesan sebuah kamar di sebuah hotel yang tak jauh letaknya
dari cafe tersebut.
"Diet... Ohhh..," desah Adinda ketika aku mencumbu lehernya
setelah kita sampai di kamar. Lidahku semakin nakal
menjelajahi leher Adinda yang jenjang.
"Akhhh Diet..." tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk
menggerayangi payudara Adinda yang aku rasakan mulai
mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
"Ooohh... Diet..." desahnya lirih.
Adinda mulai terangang ketika ujung lidahku menjilati bukit
payudaranya yang berukuran 36 itu. Aku semakin berani untuk
melakukan yang Iebih jauh... Dengan meremas payudara yang
satunya.
"Adinda... Sayang, aku buka baju kamu yah..."? bisiku di
telinganya.
Adinda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan
pakaiannya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan Bra warna
hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih
nampak dengan jelas di depanku.
Setelah terbuka, kembali aku mengulum bibirnya yang merekah.
Lidahku menjelajahi rongga di langit-langit mulutnya dan
sesekali menghisap lidah Adinda yang mulai terangsang dengan
ciumanku. Tanganku yang nakal mulai melepas Bra warna hitam
miliknya. Dan... Wow... Tersembullah puting yang kencang...
Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Adinda untuk
kemudian mulai menjilati puting Adinda yang berwarna
kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat putingnya berdiri
dengan kencang... Sedangkan tangan kananku memilin puting yang
lainnya.
"Ooohhh Diet... Enak sekali sayang...," rintih Adinda.
Dan saat aku mulai menegang... Adinda berusaha bangkit dari
tempat tidur, tapi aku tidak memberikan kesempatan Adinda
untuk bangkit dari pinggir ranjang. Parfum Adinda yang harum
menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh
tubuhnya.
Aku beranikan diri untuk mulai membuka celana jeans serta CD
hitam berenda yang dipakainya. Dan darahku mendesir saat
melihat gundukan yang ditumbuhi dengan rambut yang hitam
lebat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjilati,
menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang
vagina Adinda.
"Oohhh... Diet... Nikmat... Sayang," Adinda merintih
kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaannya.
"Akhhh... Kamu pintar sekali sayaaang..." Desah Adinda disaat
jilatanku semakin cepat, Adinda sudah mulai memperlihatkan
tanda-tanda mau orgasme dan sesaat kemudian...
"Masss Adiet... Sayang... Aku nggak tahan... Oohh... Masss aku
mau..." Adinda menggelinjang hebat sambil menjepit kedua
pahanya sehingga kepalaku terasa semakin terbenam di
selangkangannya.
"Maaasss... Ookkhhh... Aakuu keluaarrr..." Jeritnya lirih.
Adinda merintih panjang saat mencapai orgasmenya yang pertama,
dia tersenyum puas. Aku biarkan dia terlentang menikmati
orgasmenya, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku
memperhatikan Adinda begitu puas dengan pemanasan tadi, itu
terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar.
Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya
yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan
tanpa pikir panjang penisku yang berukuran lumayan besar,
langsung menghujam celah kenikmatan Adinda sembari bibirku
mengulum payudaranya.
"Aaakhhh... Diet...," desah Adinda, saat penisku melesak ke
dalam lubang vaginanya.
"Diet... Penis kamu ohhh..." desahnya kemudian.
Aku merasakan setiap jepitan bibir vaginanya yang begitu
ketat, sampai terasa begitu nikmat lubang senggama Adinda. Aku
berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan
menetes diwajah Adinda yang pertama kalinya merasakan
nikmatnya bercinta. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu
membuat tubuh Adinda menggelinjang hebat karena dia mulai bisa
merasakan dan menikmati permainan ini.
"Diet... Sudah... Sayang... Akhh..." sembari berteriak panjang
aku rasakan denyutan bibir vagina Adinda menjepit batang
penisku.
Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina
Adinda. Aku tidak mempedulikan desahan Adinda yang semakin
menjadi, aku hanya berusaha memasukkan penisku lebih dalam
lagi. Tiba-tiba Adinda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu
tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.
Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat
kemudian.
"Diet... Aku... Mau... Keluarr lagi... Aaakkk... Sayang,
aku... Nggak tahan..."
Seiring jeritan itu, aku merasakan cairan hangat kembali
meleleh disepanjang batang penisku.
"Aaakhhh... Sayang... Enak sekali... Ooohh...," rintih Adinda
lirih.
Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas
tubuh Adinda. Disaat aku mulai mencapai klimaks, aku meminta
Adinda berganti posisi diatas.
"Adinda... Sayang kamu diatas yah..."Pintaku
Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Adinda bangkit
dan langsung menancapkan penisku dalam-dalam di lubang
kewanitaannya.
"Akhhh gila, penis kamu enak banget Maaas.. Ooohhh..." Adinda
merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
"Aduhhh enak Diet..." desahnya lagi.
Goyangan pinggul Adinda membuat gelitikan halus di penisku...
"Adinda... Sayang... Akh..," aku mengerang kenikmatan saat
Adinda menggoyang pinggulnya.
"Diet... Aku mau keluar nih...," sambil merintih panjang,
Adinda menekankan dalam-dalam
Tubuhnya hingga penisku amblas ditelan vaginanya dan bersamaan
dengan itu aku sudah mulai merasakan tanda-tanda akan mencapai
orgasme.
"Aaahhh... Ahh... Ohhh," teriakku
"Crottt..." bersamaan dengan menyemburnya spermaku. Aku
biarkan spermaku menyembur di dalam vaginanya. Sebagian dari
spermaku langsung meleleh di sekujur pahanya yang mulus.
Setelah itu Adinda berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera
mencuci spermaku yang baru keluar dari vaginanya. Permainan
itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua,
karena baru pertama kalinya Adinda bercinta denganku, dia
mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan
kata-kata.
"Diet... Kapan kamu ada waktu lagi untuk melakukan semua ini
sayang," tanya Adinda.
Aku menjawab lirih, "Terserah Kamu deh, aku akan selalu
sediakan waktu untuk kamu."
"Makasih sayang... Kamu telah memberikan apa yang selama ini
belum aku rasakan," kata Adinda.
Kemudian aku mengecup kembali Bibirnya yang merekah sebagai
tanda kasih sayangku kepada Adinda yang tulus.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar