Rabu, 09 Juni 2010

anak-kos-riri


Anak Kost Riri


Pertama kali kenalan dengan Ririn waktu saya mengantarkan pacar saya
pulang ke tempat kostnya. saya tidak tahu kalau tempat kost itu juga
menerima kost untuk hostes-hostes night club. Penghuninya kurang lebih
ada 16 orang, cewek semua. Mahasiswinya ada tiga, selebihnya cewek night club semua.

Suatu hari waktu saya ke tempat kost pacar, tidak tahunya di pintu kamar pacar ada note yang isinya dia pulang ke Bandung karena ada urusan keluarga. Ketika saya jalan mau turun tangga, eh Ririn baru keluar dari kamar mandi, dia tersenyum kepadaku. Saya balas senyumnya. Terus dia jalan masuk ke kamarnya. Saya pelan-pelan jalan melewati kamarnya. Seperti biasa kamarnya tidak dikunci dan kelihatan Ririn sedang berdiri di depan cermin merapikan rambut, bugil berat. Penisku langsung berontak. Tapi dia sepertinya tidak peduli, dia cuma melirik sekilas, terus melanjutkan nyisir rambutnya. Saya tegang banget, saya cepetin langkahku sambil menahan ngilunya penis saya yang kejepit CD.

"Mas Andi kecewa ya pacarnya tidak ada?", tiba-tiba suara Ririn menghentikan langkahku. Saya langsung berbalik kembali ke kamarnya. Saya berdiri di depan pintu.
"Ah tidak..., cuma kaget saja kok tiba-tiba pulang ke Bandung", jawabku pura-pura melihat ke lantai.
"Dari pada tidak ada mainan..., gimana kalau mainin Ririn saja Mas?", saya kaget banget dengar komentar vulgar seperti itu.
"Maksudnya?", saya pura-pura lugu. Ririn melirik genit terus matanya dikedipin.
"Ririn masih ada waktu satu setengah jam lagi kok...".
"Terus?".
"Kata pacar Mas, Mas suka mainin memeknya". Sialan juga pacarku, masak rahasia kencan diobral ke perempuan seperti gitu. Saya jadi kesel campur malu.
"Kalo Mas mau, mainin saja punya Ririn..., dari pada tidak ada yang bisa dimainin...", Ririn berkata sambil berjalan ke arahku. Lalu tangannya meremas penisku yang sudah tegang banget.
"Wow..., keras banget. tidak usah takut, Ririn bebas dari penyakit kok", saya tidak bisa jawab apa-apa lagi. Pintu lalu dibanting pakai kakinya. Terus tahu-tahu saya sudah bugil di depan Ririn. Penisku dikocokin lembut. Rasanya nikmat banget. Jauh lebih nikmat dari pada kocokan pacarku.

Ririn memajukan wajahnya yang manis, terus saya kulum mulutnya. Kita ciuman dengan buas, tanganku meraba clitorisnya, terus saya mainin clitorisnya, saya korek-korek liang kewanitaannya. Bulunya lebat banget. Tiba-tiba Ririn jongkok terus penisku disedotnya, dijilat-jilat seperti lagi menjilati permen lolypop. Saya lihatin kegiatannya. Saya setubuhi mulutnya, biji penisku juga dijilatinya.

Akhirnya saya dorong dia ke atas ranjang, terus kita ambil posisi 69. Saya melakukan survey dengan lidah. Saya hisap-hisap bulunya yang masih lembab, karena baru mandi. Dari celah kewanitaannya masih tercium bau sabun, harum sekali, saya buka bibir kemaluannya yang berwarna merah tua. Lubang bagian dalam warnanya merah muda, saya lihat ada lubang kecil, mungkin itu lubang pipis. Saya sedot clitorisnya, terus saya masukin lidahku sedalam-dalamnya. Ririn menjerit kecil, saya makin horny. Terus saya berbalik, sekarang saya sedotin puting susunya yang kecil, tangan saya meremas payudaranya dengan keras. Saya lihat dia menggigit bibir, tapi dia tidak mencoba berontak atas kekasaranku. Saya jadi makin gila, penisku yang sudah tegang langsung saya sodok ke lubang senggamanya, ketika masuk..., aduh enaknya bukan main. Saya jadi ikut-ikutan mengerang nikmat. Saya genjot penisku dengan cepat, kadang saya pelanin terus saya benamkan sedalam-dalamnya sampai Ririn menjerit lagi.

"Mas, Mas..., aduh..., nikmat banget..., tusuk lagi yang keras Mas..!" dia mengerang-erang, langsung saja saya ikutin permintaannya. Tak lama Ririn mendesah hebat sambil memeluk badanku erat-erat, badannya meliuk-liuk, tangannya meremas-remas pantatku. Sakit banget..., sialan. Padahal saya juga pingin keluar, gara-gara diremas begitu spermaku jadi balik lagi. Terus saya angkat kedua kakinya ke atas, langsung saya arahkan lagi penisku ke lubang kemaluannya. Ririn seperti ingin memberontak, tapi saya tahan terus sambil menyodok sekeras-kerasnya ke dalam lubang kemaluannya.

"Gila...! pelan-pelan..., aduh, sakit bangeet..., jangaan terlalu cepet dong ...", saya lihat dia sampai keluar air matanya karena kesakitan, tapi aku sudah tak tahan ingin keluar, penisku sudah masuk semua, jepitannya betul-betul membuat mataku nanar. Enak banget!

"Pelan-pelan genjotnya Mas..., kasar banget sich?", Tangan Ririn mencubit pantatku, saya sudah tidak peduli, saya genjot terus lubang kemaluannya. Lalu dia melenguh, tapi mencoba menggoyang supaya saya nikmat. Akhirnya saya tidak tahan lagi, buru-buru saya cabut penisku, terus secepat kilat saya sodok ke dalam mulut Ririn yang lagi megap-megap oleh rintihannya. Matanya langsung melotot seperti pingin keluar, tapi penisku sudah masuk dalam banget, saya lihat dia mau protes tapi yang saya rasakan dia mulai menyedot penisku sambil tangannya mengocok penisku. Rasanya tidak ada duanya, sungguh profesional banget cewek ini.

"Aakhh...", cuma suara itu yang keluar dari mulutku, selebihnya penisku seperti dipompa sampai bocor dalam mulut Ririn. Spermaku sepertinya tidak mau berhenti, rasanya nikmat. Penisku terus dikeluarin, lalu digosok diseluruh wajahnya. Tangannya mengurut penisku, sampai tetesan terakhir spermaku. Dia memandangku dengan pandangan sayu. Saya langsung roboh di atas tubuhnya, saya gigit pundaknya, saya sedotin lehernya, saya kulum telinganya. Dia memelukku sambil menjilati pundakku.

Setelah kejadian itu, saya kontrakin rumah kecil buat Ririn. Terus pelan-pelan saya putusin hubungan saya sama pacarku. Selanjutnya saya tinggal bersama Ririn. Dia terus kerja, saya juga terus kerja. Tiap malam kita bersetubuh sampai hampir pagi, dan itu berlangsung sampai sekarang.
TAMAT

2 komentar: