Jumat, 25 Juni 2010

Pengalaman Dengan Mbak Yati


Pengalaman Dengan Mbak Yati


Aku pernah punya pengalaman menarik dengan
Mbak Yati. Mulanya aku kenal Mbak Yati
sewaktu ia bekerja menjadi juru masak
di rumah seorang asing, Mr. Bernard;
sedangkan aku memiliki hubungan kerja dengan Mr. Bernard. Pertemuan kami pertama kali adalah sewaktu ada jamuan makan malam di rumah Mr. Bernard. Secara tak sengaja kami berkenalan.
Suatu ketika Mr. Bernard pulang ke negerinya untuk memperpanjang visa sekaligus cuti selama satu bulan. Aku diminta untuk sesekali datang menengok rumahnya, sedangkan Mbak Yati datang sesekali untuk memasak bagi tukang kebon yang datang dua kali seminggu mengurus halaman rumah dan memperbaiki bagian tertentu rumah Mr. Bernard yang mengalami sedikit kerusakan.
Suatu hari aku mampir ke rumah Mr. Bernard dan memperhatikan tukang kebon yang sudah bersiap-siap pulang ke rumahnya sebab sudah sore. Aku menunggu Mbak Yati membereskan dapur sambil menikmati masakannya. Sewaktu makan, aku tidak sadar, Mbak Yati sudah ada di belakangku dan kurasakan tangannya menyentuh pundakku sambil bertanya, “Enak masakanku, Mas?” “Hmm, lezat betul, Mbak,” jawabku sambil merasakan betapa bagian belakang kepalaku pelan-pelan secara tak sengaja sudah bersentuhan dengan dadanya. Entah ia sadar atau tidak atas keadaan tersebut, tangannya menepuk bahuku sambil berkata, “Tambah lagi Mas. Habiskan saja, aku sudah makan koq.” “Ya Mbak, so pasti. Aku suka masakan Mbak, apalagi yang masak orangnya cantik.” “Ah, bisa aja Mas menggodaku, awas ntar kucubit lho!” “Awww!” jeritku karena ternyata ia benar-benar sudah mencubit daguku. Aku yang tidak menduga demikian, kaget, apalagi saat itu sedang minum, sehingga gelas yang kupegang terguncang dan sebagian isinya tumpah ke celanaku. “Aduh, gimana sih Mbak?” kataku pura-pura marah. “Aduh, maaf ya Mas,” sesalnya sambil mengambil lap membersihkan celanaku. Aku agak bergetar waktu lap itu ia sapukan di pangkuanku dan penisku merasakan sentuhan tangannya. “Nggak apa-apa Mbak,” kataku sambil mengendus harum rambutnya yang ada di bawah daguku sewaktu ia mengelap celanaku. Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba ia terjatuh sehingga tubuhnya terjatuh ke pangkuanku dan kurasakan payudaranya di atas pangkuanku. “Wah, koq malah terpeleset. Maaf ya Mas, aku tidak sengaja,” katanya hendak bangkit berdiri. Tapi aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat kubalikkan tubuhnya yang masih di atas pangkuanku dan melabuhkan ciuman pada bibirnya. “Ehmphhh,” erangnya mencoba menolak, tapi tak kuasa melawan apalagi aku langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Mula-mula ia melawan, tapi lama kelamaan ciumanku mendapatkan balasan.
Aku kemudian tersadar dan memegang kedua lengannya agar berdiri. “Aku …. aku minta maaf Mbak, sudah begitu lancang,” kataku menyesali diri. Ia kelihatan gugup dan wajahnya memerah, tapi kemudian ia berkata, “Nggak Mas, jangan minta maaf. Aku yang salah koq,” sambil membereskan peralatan makan di meja dan membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Kudengar suara kran air tanda ia mencuci perabot di dapur. Lalu aku mencoba mencari kesibukan sambil menenangkan gejolak di dada, dengan mencari-cari majalah di ruang keluarga. Aku membaca-baca majalah sambil menonton TV. Tak lama kemudian Mbak Yati datang dan duduk di seberangku sambil bertanya, “Belum ada rencana pulang Mas?” “Ntar lagi deh Mbak. Baru selesai makan, makanannya masih di leher nih,” candaku untuk mengenyahkan kekakuan akibat kejadian tadi. “Tapi kalau Mbak sudah mau pulang, nggak apa-apa duluan aja, nanti aku yang bereskan rumah dan titipkan kunci ke rumah Mbak,” lanjutku. “Nggak apa-apa Mas, aku pulang juga tidak ada siapa-siapa di rumah, anak-anak sedang libur ke rumah neneknya; tadi siang suamiku mengantar mereka ke Surabaya dan malam ini aku sendirian di rumah,” jawabnya.
Aku membaca-baca sambil setengah rebahan. Kurasakan Mbak Yati memperhatikan aku agak lama, lalu kudengar suaranya, “Mas kelihatan lelah ya? Dari tadi kuperhatikan kayak kurang tidur?” “Cuma capek dikit, Mbak. Semalam ada tugas kuliah, jam tiga baru tidur, padahal pukul tujuh tadi sudah ke kampus karena ada ujian. Tapi emang dari tadi rasanya pegal-pegal, kayak masuk angin,” kataku. “Bagaimana kalau Mas Agus kupijat?” ia menawarkan. “Wah, mimpi apa semalam dapat tawaran untuk dipijat orang secantik Mbak Yati?” batinku. Mendengarku tidak segera menjawab, ia kemudian menambahkan, “Ya udah deh Mas, kalau tidak mau juga nggak apa-apa sih. Mbak emang tidak pintar ngurut, tapi kalau cuma menghilangkan pegal-pegal, Mbak sudah biasa ngurut suami dan kata suami Mbak, yah lumayan sih.” “Nggak usah deh Mbak. Aku sungkan,” jawabku setelah mendengar kata-katanya. “Lho, kenapa gitu Mas? Mas Agus malu ya karena kejadian di kamar makan tadi?” desaknya. “Bukan itu Mbak, walaupun memang ada sedikit sih. Aku nggak kuat bayarnya ntar, abis mana punya duit buat bayar tenaga Mbak ngurut badanku,” godaku sambil berharap ia meneruskan niatnya untuk memijat tubuhku. “Ihhh, Mas ini kayak orang lain aja. Kan Mbak sudah kayak keluarga sendiri, masak harus bayar sih? Malah Mbak bangga kalau bisa menyenangkan hati Mas Agus, seorang mahasiswa yang sebentar lagi jadi sarjana,” pujinya. “Oke deh Mbak. Tapi kalau capek nggak usah lho, ntar malah aku dimarahin suami Mbak kalau dia tahu,” kataku sambil menyelidiki hatinya. “Kan Mbak tidak usah cerita-cerita sama dia. Tapi Mas Agus juga tidak usah bilang siapa-siapa. Itu aja syaratnya. Bagaimana Mas? Jadi? Biar kuambil minyak gosok?” jawabnya. Aku menjawab dengan anggukan kepala. Kulihat dia berjalan ke arah kamarnya yang terletak di bagian belakang, dekat dapur rumah Mr. Bernard. Tidak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebotol minyak, bantal dan tikar kecil. “Ayo Mas, baring di sini,” katanya sambil menggelar tikar dan meletakkan bantal di salah satu ujung tikar tersebut. Aku membaringkan tubuhku. “Bajunya dibuka dong Mas!” pintanya. Agak kikuk rasanya membuka baju, tapi sudah kepalang basah. Kubuka baju dan kaos singletku. “Kalau Mas tidak segan, pakai kain sarung aja,” katanya lagi. “Waduh, benar-benar pucuk di cinta ulam tiba, kayak dapat durian runtuh nih,” pikirku, “Berarti ia akan pijat tubuhku mulai dari kaki, bukan cuma punggung?” “Aku ambilin kain sarung suamiku ya? Ada di kamarku,” katanya tanpa meminta persetujuanku lagi, ia kembali ke kamarnya dan kemudian keluar sambil membawa kain sarung. “Maaf ya Mbak, aku buka celana panjang di sini aja,” kataku meminta sambil mengambil kain sarung dari tangannya dan memasukkan dari kepalaku menutupi celana panjangku kemudian kulepaskan ikat pinggang dan celanaku. “Ya Mas, nggak apa-apa,” jawabnya. Maka lengkaplah sudah. Aku berbaring telungkup di tikar dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana dalam serta kain sarung milik suaminya.
Mbak Yati mulai memijat ujung kakiku. Kurasakan jari-jarinya mengurut dengan lihay, sehingga kurasakan betapa nikmat pada betis dan kakiku. Saking enaknya pijatannya, tanpa terasa mataku terpejam dan rasa kantuk menyerangku. Aku benar-benar menikmati remasan dan pijatan jari-jarinya, hingga lagi-lagi tanpa terasa mataku benar-benar terpejam sejak ia memijat bagian belakang kepala, leher, punggung sampai ke bagian pinggulku. Entah sudah berapa lama aku tertidur, dan kudengar lapat-lapat suaranya, “Ayo Mas, sekarang terlentang …..” Dengan setengah sadar kubalikkan tubuhku mengikuti perintahnya. Kembali ia mengurut dari jari-jari kakiku, naik ke tumit, betis dan lututku. Nikmat benar kurasakan sehingga kembali mataku terpejam serasa ingin tidur lagi. Sempat aku curiga jangan-jangan ada obat tidur dalam masakannya tadi. Tapi aku tidak mau memusingkan otak dengan prasangka macam-macam, sebab memang semalam aku kurang tidur.
Aku hampir pulas sewaktu kurasakan jari-jarinya semakin naik mengurut dari bagian lutut dan naik kembali ke bagian pahaku dan perlahan-lahan tangannya menyingkap kain sarung yang kupakai. Rasa nikmat semakin menjalari diriku sewaktu kusadari jari-jarinya yang sesekali mulai menyentuh pangkal pahaku, bahkan entah disengaja atau tidak, testisku tersentuh jarinya, hingga perlahan-lahan kesadaranku mulai pulih. Tapi aku pura-pura tertidur sewaktu kudengar suaranya memanggil, “Mas Agus, Mas … udah tidur ya? Wah, Mas malah tidur, capek banget rupanya?” Kurasakan tangannya menggoyang-goyang pahaku, tapi mataku pura-pura kupejamkan, ingin tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Namun tanpa dapat kucegah, penisku kurasakan semakin tegang. Kurasakan jari-jarinya mengurut pahaku dan pelan-pelan menyusup dari celah-celah celana dalamku serta membelai-belai testisku, sehingga ketegangan penisku semakin bertambah. Sambil menahan nikmat, dengan mata agak memicing, kuintip kelakuan Mbak Yati. Dari celah-celah kelopak mataku yang sedikit terbuka, kulihat bagaimana ia memandangi pangkal pahaku dengan tatapan sayu dan kurasakan sesekali jari jemarinya menyentuh pangkal penisku dan membelai rambut-rambut di sekitarnya. Jari-jari tangan kirinya masih terus memijat paha kananku, tetapi tangan kanannya semakin cekatan membelai testis dan pangkal penisku yang terus bertambah tegang. Aku rasanya ingin merintih, tapi kutahan agar ia tidak tahu bahwa aku berpura-pura tidur. Belaiannya pada rambut lebat di pangkal pahaku begitu nikmat apalagi ketika kurasakan jari-jarinya menekan-nekan lembut wilayah pangkal penis hingga ke anusku. Kupejamkan mataku menahan nikmat tak terperikan. Aku masih terus pura-pura tertidur, sebab penasaran ingin tahu aksi berikut yang akan dilakukannya. Bahkan kurasakan kain sarung yang kukenakan telah turun hingga ke lututku dan di hadapannya aku terbaring terlentang hanya dengan mengenakan celana dalam. Sebenarnya aku risih dan malu menyadari hal itu, tetapi perasaan itu semakin lenyap karena rasa penasaran atas ulah Mbak Yati dan memang di hati kecilku terbersit keinginan ingin bersetubuh dengannya, tapi khawatir tak terwujud sebab ia sudah bersuami. Sambil memejamkan mata, tanpa dapat kucegah lagi, rintihan keluar dari bibirku, “Ougghhhh … ahhhh ….”
Sekonyong-konyong kurasakan tubuh Mbak Yati menindih tubuhku dan bibirnya dengan liar mencari-cari dan mengulum bibirku diiringi erangannya, “Ohhhh … Massss … aku tidak kuat mau ciumanmu seperti tadi lagi … akhhhh ….. ” Bahkan dengan garangnya, Mbak Yati memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Tanganku tidak lagi merangkulnya tapi mulai bermain di bagian dadanya dan pelan-pelan kususupkan tanganku merasa payudaranya dari celah-celah bajunya. Ia makin mengerang, “Oughhh …. ahhhh, jangan Mas … ohhhhh,” erangnya tapi tetap membiarkan tanganku terus meremas-remas payudaranya dan memilin putingnya. Tangannya tak mau ketinggalan, mulai membelai-belai dadaku dan membukai kancing bajuku. Jari-jarinya bermain dengan lincahnya pada puting dadaku, sehingga rasa nikmat semakin menjalari diriku.
Aku merebahkan dirinya ke atas tikar, pakaiannya acak-acakan, karena tadi sudah kubuka beberapa kancingnya. Aku kembali menciumi bibirnya sambil meremas payudaranya. Baju atasnya sudah terbuka dan tali pengait BH-nya sudah kulepaskan, sehingga jari-jariku dengan bebasnya membelai puting payudaranya. Matanya semakin membeliak waktu puting payudaranya kuciumi dengan perlahan. Putingnya semakin tegang dalam kuluman mulutku. “Uhhh, luar biasa payudara Mbak Yati ini,” pikirku, “Anaknya sudah tiga dan yang tertua sudah kelas 2 SMA, tapi payudaranya masih kenyal? Apa resepnya hingga ia bisa begini?”
“Ahhhh ….. enaknya Mas, Ougghhhh ….,” rintihnya.
“Enak mana sama ciuman suami Mbak?” tanyaku di sela-sela jilatan dan kuluman bibirku pada payudaranya.
“Ehmm … ahhh … enakan jilatan Mas …. Suamiku maunya langsung tancap kontolnya di kemaluanku. Ougghh … ia … ia … tidak biasa lama-lama seperti Mas yang begitu pandai memainkan buah dadaku. Ohhhh … nikmattt … Massss” rintihnya. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu jilatanku turun ke perutnya dan pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya membuka dan kusingkapkan rambut-rambut di vaginanya yang kuraba mulai basah. “Ahhhh … jijik Mass … jangan cium itu …. bau akhhhh,” jeritnya saat lidahku mulai membelai-belai klitorisnya yang makin tegang.
“Nggak koq Mbak, siapa bilang jijik? Ini justru bisa membuat Mbak menikmati surga dunia. Emangnya suami Mbak tidak suka menciumi vagina Mbak?” tanyaku di sela-sela jilatan lidah dan bibirku pada vaginanya.
“Ehsstt … akhhh … suamiku tidak pernah menciumi seluruh tubuhku seperti Mas. Begitu ia mau bersebadan denganku, langsung saja cium bibirku, remas-remas dadaku dan menancapkan kontolnya dengan ganas dan baru juga sepuluh menit, ia sudah keluar,” pengakuannya padaku.
“Gila betul, masih ada suami begitu kunonya bermain seks dengan istri secantik ini?” batinku sambil terus menciumi klitoris dan mulai memasukkan lidahku menggelitik liang vaginanya.
“Ohhhhhh … diapain kemaluanku Mas?” erangnya. “Disayang, Mbak. Pokoknya Mbak Yati tenang aja, nikmati saja bagaimana aku membawa Mbak ke langit ketujuh,” kataku berseloroh sambil terus menjilati vagina dan klitorisnya bahkan sesekali mengisap klitorisnya hingga pinggulnya terangkat menahan kenikmatan yang ia rasakan semakin meninggi. “Mbak, kita main 69 ya?” tanyaku sambil memandang matanya yang terpejam. “Ah … nggak ngerti Mas, gimana caranya?” katanya sambil memandangiku dengan sorot mata keheranan. “Wah, ada lagi perempuan yang sudah bertahun-tahun kawin tidak ngerti posisi gini,” rutukku sambil menatap wajahnya yang sayu. “Yah, sudah deh. Mbak ikuti saja. Ntar aku yang ngajarin ya!” kataku sambil membaringkan tubuh berlawanan dengan arah tubuhnya dan memintanya naik di atas tubuhku dengan posisi kemaluannya tepat di atas wajahku dan kepalanya menghadap penisku. “Nah, udah Mbak? Gini maksudku. Sudah sering begini dengan suami Mbak kan?” tanyaku lagi menegaskan. Kurasakan napasnya di sela-sela pahaku sewaktu menjawab, “Belum pernah Mas. Kan sudah Mbak bilang tadi kalau suamiku maunya langsung masukkan kontolnya di kemaluanku?” akunya terus terang. Aku tidak tahan lagi, kuremas susunya yang kenyal sambil menarik kakinya dan kami membentuk “posisi 69” dan sepertinya Mbak Yati pasrah dengan perlakuanku. “Nah, sekarang Mbak jilati dan isap kemaluanku sambil kumainkan kemaluan Mbak ya?” pintaku sambil kembali merabai pahanya dan kembali menciumi vagina dan klitorisnya. “Yah …. oughhh … yaaaa Mas,” erangnya mulai mencium penisku dan perlahan-lahan kurasakan lidahnya menjilati kepala penisku.
Sementara batang kejantananku berada di dalam mulutnya, terasa lidahnya yang sebentar-sebentar dipermainkan (maklum dia tidak punya pengalaman blowjob). Aku merasa semakin tegang dan nafsu ditambah dengan posisi 69 terlihat liang senggama Mbak Yati yang kemerah-merahan dikelilingi bulu-bulu yang lebat. Kujilati bibir serta klitorisnya yang terasa agak mengeras dan beberapa saat kemudian terasa cairan membasahi lidah dan mulutku disertai kedua pahanya menjepit kepalaku, terdengar erangan Mbak Yati. Kedua tanganku merabai paha hingga lututnya terus ke arah tumitnya dan berhenti pada kedua belah pantatnya. Di situ tanganku bermain lembut meremas pantatnya dan jari-jariku kumainkan di anusnya. Saat lidahku menjilati dan bibirku mengisap klitorisnya dengan lembuat dan sesekali lidahku mengait-ngait ke liang vaginanya sambil jari telunjuk tangan kananku mulai menerobos masuk anusnya, rintihannya makin meninggi dan kurasakan betapa vaginanya semakin ditekan ke wajahku, sehingga lidahku semakin dalam memasuki liang kemaluannya yang sudah begitu basah. “Maaassss …. Akkkhhhh nikmat Massss ……..!” jeritnya sambil menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatnya secara tak beraturan. Goyangannya semakin menghebat kurasakan dan tekanan vaginanya di wajahku semakin dahsyat, sehingga bibir vaginanya benar-benar menempel pada mulutku dan kurasakan cairannya semakin deras mengalir. Aku benar-benar terangsang dengan keadaan itu, sehingga lidah dan bibirku semakin giat menjilati dan mengisap cairannya. Hentakan pantatnya begitu kuat dan ia membenamkan vaginanya ke wajahku hingga membuatku sulit bernapas. “Ahhhhhh …. akuuuuu …. nggak kuat lagi Maassssss….. ooooohhhhhhh ……….” rintihnya, tubuhnya bergetar dan kulumannya pada penisku makin menjadi-jadi, bahkan penisku ia masukkan ke mulutnya hingga hampir pangkalnya. Telunjuk tangan kananku yang sudah kuolesi dengan ludah masuk hingga pangkal ke dalam anusnya dan ujung lidahku masuk begitu dalam ke liang vaginanya dan kurasakan cairan kenikmatannya yang begitu gurih masuk ke dalam mulutku. Dia sudah mengalami orgasme. Kutelan habis-habisan cairan liang senggamanya.
Pada saat hampir bersamaan aku juga merasa kenikmatan yang luar biasa, dan tanpa bisa dibendung lagi kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut, spermaku mendesak dan menyemprot keluar di dalam mulut Mbak Yati. Kurasakan dia tidak melepaskan batang kejantananku dari mulutnya pada saat spermaku keluar. “Mungkin ia mau membalas mengisap spermaku, karena cairan vaginanya kutelan habis,” pikirku. Ah.. luar biasa Mbak Yati ini. Kugeser badannya dan kami berdua tergeletak lemas di sofa sambil berpelukan. Kuelus-elus rambutnya yang sebahu sambil mengecup pundaknya. Ia menggelinjang kegelian sambil meraba pusar dan penisku. Nafsuku kembali bangkit dan dengan gerakan yang tak terduga olehnya, kutempatkan tubuhnya tepat di bawah tubuhku sambil menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya, penisku menusuk-nusuk lembut vaginanya. Kembali ia mengerang dan membalas gerakanku dengan jalan memegang penisku dan mengarahkannya tepat pada vaginanya. Perlahan-lahan penisku mencari jalan masuk dan mulai kugerakkan masuk keluar liang vaginanya yang masih lembab. “Ahhhh … Mas Agus, terusss …. Oukhhh … nikmatnyaaaa …..” erangnya sambil menggerakkan pinggulnya ke kanan kiri. Aku semakin mempercepat gerakan naik turun di atas tubuhnya, hingga tak lama kemudian ia mengejang sambil mencakar punggungku dengan liarnya. Kurasakan perih bercampur nikmat di punggung. Kubuat gerakan memutar memasuki liang vaginanya sambil mengisap puting payudaranya. Tak lama kemudian, ia merintih dengan panjang dan kurasakan vaginanya mengisap penisku dengan ketatnya hingga kurasakan gerakanku terhenti sebab jepitannya begitu kuat. “Uhhhh …. oghhh …. nikmatnya sayangkuuuu ….” jeritnya. Kuhentakkan pantatku kuat-kuat menghunjam vaginanya sambil mengulum puting dan mengisap payudaranya dengan kuat. Kurasakan bagaimana vaginanya mengeluarkan cairan dengan begitu banyak dan mpot-mpotan liang vaginanya menjepit habis penisku. Segera kucabut penisku dan kugantikan dengan jari-jariku kutusukkan masuk ke liang vaginanya, sedangkan jari tengah tangan yang lain kugunakan untuk mencoblos anusnya yang kuperhatikan bergerak-gerak penuh rangsangan. Kurasakan jepitan liang vaginanya pada jari-jari tangan kananku, sedangkan jari tengah tangan kiriku begitu kencang dijepit oleh anusnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sambil berteriak, “Massss …. aaaakku … dapat … ahhhhhh …..” Jari-jariku masih terus merangsak masuk keluar dalam liang kenikmatannya, tetapi kukombinasikan gerakanku dengan mencium labia vaginanya serta menjilati dan mengisap kuat-kuat klitorisnya serta mengisap cairan kenikmatan yang putih kental mengalir dengan derasnya dari dalam vaginanya. Ia begitu liar menggerakkan pantat dan pinggulnya akibat terjanganku pada liang vagina, klitoris dan anusnya sekaligus. Kurasakan pahanya menjepit kuat-kuat kepalaku dan getaran pahanya begitu kuat menghimpit kedua telingaku. Lalu ia tergolek lemas sambil memandangiku dengan tatapan sayu dan napas terengah-engah. “Mas, ngaso dulu ya? Mas belum dapet kan?” tanyanya sambil mengelus-elus lembut penisku. “Aku puas banget lho Mas, belum pernah begitu nikmat kurasakan dengan suamiku,” tambahnya. “Tenang aja, Mbak. Bila perlu kita nginap di sini malam ini untuk mereguk kenikmatan,” kataku sambil menyudahi aktivitasku menjilat dan mengisap cairannya serta merebahkan diri di sampingnya sambil memeluk dan menciumi bibirnya. Mulanya ia agak menolak waktu kucium bibirnya, mungkin merasa jijik sebab mulutku baru saja menyedot cairan vaginanya, tapi setelah kupaksakan bibirku mengulum bibirnya, ia malah terangsang lagi untuk menyambut ciumanku dan malah lidahnya masuk dengan ganas ke dalam mulutku menjilati cairan kenikmatan yang masih tersisa dalam mulutku. Kami berbaring telanjang sambil saling mengusap dan sesekali berciuman.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit, sementara ruangan semakin gelap. Barulah aku sadar bahwa hari telah menjelang senja. Kutoleh jam dinding yang menunjukkan pukul 15.45. “Lama juga kami bercumbu, tadi aku makan masih pukul 14,” pikirku.
Setelah permainan kami tadi yang begitu panas usai dan kami berdua masih berbaring dalam keadaan telanjang di tikar, Mbak Yati berbisik di telingaku, “Mas, antarin aku ke rumah sebentar ya, aku mau nyalain lampu, agar tetangga tidak curiga kalau rumahku kosong dan kita bisa bebas main di rumah ini.” Aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil mencium bibirnya yang tipis sambil meremas payudara kanannya. “Aihhh, Mas Agus genit,” pekiknya sambil mencubit lenganku. Kami berdua pun berpakaian dan dengan sepeda motor kuantar ia ke rumahnya yang letaknya hanya sekitar 1 km dari rumah Mr. Bernard. Aku sengaja tidak mengantarnya persis di depan rumahnya, tapi sekitar 100 meter sebelumnya agar tetangganya tidak curiga melihatnya diantar seorang lelaki, padahal suami dan anak-anaknya sedang tidak di rumah. Tak lama kemudian, kutoleh dari kaca spion sepeda motor, Mbak Yati berjalan mendekatiku sambil membawa bungkusan plastik berisi pakaiannya. “Rupanya ia benar-benar jadi nginap denganku di rumah Mr. Bernard?” batinku senang. “Yuk Mas, kita jalan,” katanya sambil duduk di belakangku dan memeluk pinggangku erat-erat. Aku menghidupkan sepeda motor kembali ke rumah Mr. Bernard.
Sesampainya di sana, Mbak Yati segera memintaku memasukkan sepeda motorku ke dalam garasi mobil Mr. Bernard dan mengunci gerbang, kemudian menyusulku masuk ke dalam rumah. Aku baru duduk di sofa ruang keluarga, ketika kemudian ia masuk dengan langkah ringan dan mendekatiku sambil mencium bibirku dari arah belakang. “Ternyata romantis juga wanita ini,” kataku dalam hati sambil menerima kulumannya yang memabukkan. “Mas, masih mau lanjutin yang tadi, kan? Tapi kita mandi bareng ya biar segar!” ajaknya. Aku tak menolak ajakannya dan dengan berpelukan kami berdua masuk ke dalam kamar mandi Mr. Bernard. Setelah masuk kamar mandi, Mbak Yati mengaliri bathub dengan air dari kran dan meneteskan bath foam ke dalam air yang semakin banyak menggenang. Kucium bibirnya sambil memeluk pinggangnya. Ia membalas, tetapi kemudian menolak tubuhku sambil berkata, “Ntar Mas, aku ambil handuk dulu di kamarku.” Kulepaskan tubuhnya dan membuka baju dan celanaku serta menempatkan pada sampiran. Tak lama kemudian Mbak Yati masuk kembali ke kamar mandi. Tapi ia tidak segera membuka berpakaiannya. “Koq belum buka pakaian, Mbak?” tanyaku lugu. “Aku minta dibukain, ada Mas Agus ini …” rajuknya manja. Kudekati dia dan kupeluk pinggangnya sambil mencium bibirnya. Tangannya melingkari leherku dan ia membalas ciumanku dengan hangat, bahkan dengan liar lidahnya memasuki rongga mulutku dan membelit lidahku. Kubalas permainan lidahnya dengan gelitik lidahku pada lidah dan langit-langit mulutnya. Ia mendesah dan meliuk-liukkan pinggul dan pinggannya hingga penisku tertekan ke pangkal pahanya. Ciumanku kuarahkan ke dagunya, turun ke lehernya yang jenjang dan pundaknya, sesekali kuisap kulitnya dan lidahku kugerakkan menggelitik hingga ia menggeliat geli bercampur nikmat. “Ohhh, geli Mas ….” desahnya. Tanganku mengelus punggungnya sambil mencari-cari resleting bajunya, dengan sekali sentak, terbukalah bagian baju di belakangnya dan kucari pengait BH-nya serta membukanya. Maka pundaknya semakin terbuka akibat turunnya bajunya dan perlahan-lahan kulepaskan baju dan BH-nya sambil terus menciumi leher dan pundaknya bahkan bibirku mulai kuarahkan ke bagian dadanya. Kulihat matanya terpejam dan bibirnya setengah terbuka sambil terus mendesah menahan nikmat yang semakin memuncak. Setelah kubuka pakaian dan BH-nya, kucantelkan ke sampiran, maka kini ia hanya mengenakan celana dalam. Sengaja masih kubiarkan untuk serangan akhir. Bibirku mulai terpusat pada payudaranya. “Mbak, koq masih kenyal payudaramu? Diapain sih masih begini bagus?” tanyaku ingin tahu. “Ihhhh, udah tua gini koq masih dibilang bagus, kan udah agak kendor juga,” jawabnya dan lanjutnya, “Aku tetap rajin minum jamu agar tetap nampak segar. Makanya payudaraku masih bagus walaupun sudah meneteki anak dan suami. Jamu sari rapet pun kuminum agar suamiku puas, walaupun ia sangat egois, abis bersetubuh dan puas, ia tidak peduli apakah aku sudah dapet atau belum” protesnya. “Kasihan Mbak Yati, secantik ini dan sebagus ini tubuhmu, tapi punya suami yang kurang memuaskan Mbak,” komentarku sambil mengisap puting payudaranya yang semakin tegang dan memerah akibat kuluman bibir dan isapan mulutku.
Selain menyedot putingnya, mulutku mengisap payudaranya yang tidak seberapa besar, tetapi kenyal hingga mulutku begitu penuh. Ia mendesah sambil menekan kepalaku makin rapat ke arah dadanya dan mengusap-usap rambutku. Jari-jari tanganku tidak lagi hanya bermain di punggungnya, tetapi mulai turun ke pinggang dan pinggulnya. Satu tanganku bermain di belahan pantatnya sedangkan yang lain mulai mengusap-usap paha bagian depannya. Ia semakin meliuk-liukkan tubuhnya menahan nikmat, “Aaaakhhhh … Mas, jangan kau siksa aku begini rupa ….” Aku tidak menjawab, tapi malah memperkeras sedotan mulut pada payudara kanannya sambil meremas payudara kiri. Tanganku yang bermain di pahanya mulai membelai rambut-rambut halusnya dan mencari klitorisnya. Begitu kutemukan tonjolan sebesar kacang tanah itu karena sudah menegang, kuusap dengan gerakan melingkar, kugesek ke kanan dan kiri, muka dan belakang, sehingga ia semakin merintih, “Ooougghhhh … aduh nikmatnya sayanggg ….. aaaakkkkhhhhh ….” Aku terus mengisap putingnya dan kedua belah payudaranya secara bergantian.
Dengan gerakan cepat, kuturunkan tubuhku berlutut di depannya dan mulai menjilati klitoris dan vaginanya. Kuangkat sebelah kakinya dan menempatkannya agar menapak di pinggiran bathtub, sehingga belahan vaginanya terkuak lebar. Kedua labia vaginanya kusentuh lembut dan sambil mengusap-usap labia dan klitorisnya, kubuka makin lebar dan mengarahkan lidahku ke sana. “Aaaauuukkkhhhhh …. ooooohhhhh … nikmat amat Massss ….” pekiknya sambil meremas-remas rambutku. Kujilati klitorisnya yang makin tegang dan sesekali kugunakan bibirku untuk mengisap klitorisnya dengan lembut. “Ya, terusin Mas, yaaa …. gitu Massss, aduhhhhh nikmatnyaaa ….” desahnya. Jari-jariku mulai menerobos masuk ke dalam liang kenikmatannya. Kurasakan vaginanya makin basah dan terasa dindingnya berdenyut-denyut hingga mendatangkan sensasi tersendiri bagi diriku. Setelah mencoba dengan satu jari, sekarang kumasukkan telunjuk dan jari tengah tangan kananku ke dalam liang vaginanya. Mula-mula hanya sejauh satu ruas jari, namun kemudian kumasukkan semakin dalam sambil terus mencium dan menjilat klitorisnya yang sudah mengeras.
Tangan kiriku meremas pantatnya dan mengelus-elus pahanya, sehingga ia menggeliat-geliat semakin liar. Apalagi ketika telunjuk tangan kiri kuberi air ludah dan kuarahkan memasuki anusnya, geliatnya makin tak beraturan dan rintihannya semakin tinggi. Tapi aku tak kuatir suara Mbak Yati terdengar oleh tetangga, sebab rumah ini besar dan tetangga terdekat adalah orang asing yang tak pernah mau ambil pusing urusan orang lain. Kami tak peduli lagi air di bathub sudah memenuhi dan meluap keluar. Kini kedua kakinya bertumpu di lantai kamar mandi, tetapi agak mengangkang sehingga terlihat betapa merah warna vaginanya. Kedua tanganku menerobos liang vagina dan anusnya semakin cepat dan lidahku terus bermain di klitorisnya, Mbak Yati kulihat semakin jauh dan semakin cepat mendaki puncak kenikmatan. “Terus … terussss …. Massss ….. Oooohhh, nikmatnya …. Aihhhh kau pintar sekali Mas memuaskan aaaakkuuuu …. Ooookkkkhhh.” Dua jari tangan kananku yang ada dalam liang vaginanya kurasakan mendapatkan perlawanan sengit, sebab denyutannya semakin kencang menjepit kedua jariku. Aku mempercepat gerakan tangan kananku masuk keluar vaginanya, sementara jari telunjuk tangan kiriku mengimbangi gerakan di bagian depan tubuhnya dengan semakin dalam memasuki anusnya, bahkan hingga ke pangkal jari. Tak kuasa lagi menahan nikmat, ia melenguh panjang dan berteriak, “Oooooohhhhh ….. akuuuuuu dapat Massss …..” Dengan satu sentakan panjang, kumasukkan jari-jariku yang ada di vaginanya sedalam-dalamnya dan lengkaplah sudah kenikmatan yang diperoleh Mbak Yati sewaktu liang vaginanya menjepit kedua jariku sementara cairan putih kental menyemprot dari dalamnya dengan deras bercampur air seninya. Sedangkan jariku yang ada di dalam anusnya mendapat cengkeraman yang kuat disertai denyutan yang luar biasa. Aku terpesona oleh begitu banyaknya cairan yang keluar dari liang vaginanya. Rupanya vagina Mbak Yati punya kelebihan dahsyat, sebab saat orgasme bisa sekaligus menyemprotkan air seni dari lubang lain yang bersebelahan dengan saluran yang menuju rahimnya. Kuarahkan mulutku tepat menempel pada kedua labia vaginanya dan menghirup cairan yang keluar, tetapi tak urung ada juga yang tak sempat kutampung, sehingga dengan kencangnya menyemprot wajahku hingga wajahku basah kuyup.
Tubuh Mbak Yati masih bergetar, apalagi bagian pinggul, pinggang dan pahanya kulihat begitu kuat bergetar, giginya gemeletuk menahan rasa nikmat yang tak terhingga. Lalu, dengan suatu gerakan ia menjatuhkan tubuhnya memelukku, hingga kami berdua jatuh bertindihan di lantai kamar mandi. Ia menciumi bibirku yang berbau cairan vagina dan air seninya, sekarang ia tidak jijik lagi, bahkan begitu menikmati cairannya sendiri.
“Mas, ntar giliranmu ya… Aku capek nich … Abis Mas begitu nakal mempermainkan aku!” tukasnya sambil memeluk leherku. “Ya, sayang … aku sabar koq menantikan pelayanan dirimu,” ujarku sambil memeluk pinggangnya sambil duduk dengan memangku tubuhnya. Kurasakan betapa penisku yang tegang mendapatkan tekanan akibat pantatnya yang ada di atas pangkuanku. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku sambil mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Tapi aku menolak sambil berkata, “Ntar aja Mbak, di tempat tidurmu saja, biar lebih nikmat.” “Ihhhh, Mas Agus curang, aku sudah dapet, tapi kau tidak mau kupuasi,” rengeknya. “Bukan gitu Mbak, aku mau memuaskanmu beberapa kali biar lebih berkesan awal permainan kita ini. Ntar giliranku bisa menyusul, waktu kita masih banyak koq,” kataku.
Tak berapa lama kemudian, ia bangkit dan masuk ke dalam bathtub. Kuikuti dia masuk ke dalam air hangat dan berendam berdua. Ia kemudian mengusap-usap leherku, turun ke dada dan perutku lalu berhenti pada penisku yang tegang. Di sana ia melakukan elusan lembut pada glans penis, hingga kenikmatan mulai menjalari kepalaku. Mungkin ia masih berusaha untuk membujukku untuk main di situ.
“Udah say, ntar kita main di kasur aja. Aku belum pernah main di bathtub,” kataku, walaupun sebenarnya penasaran bagaimana rasanya main di situ.
“Aku juga belum pernah dengan suamiku main di bathub, Mas. Tapi aku penasaran sebab pernah lihat Mr. Bernard main di sini dengan istrinya padahal pintu kamar mandi ini tidak tertutup rapat, sehingga aku bisa mengintip mereka main dengan segala gaya. Wuih, hebat bener lho Mas, apalagi kuperhatikan barangnya Mr. Bernard begitu panjang dan besar, bikin istrinya merem melek waktu dicoblos,” paparnya.
“Panjang mana punyaku dengan punya Mr. Bernard?” godaku.
“Jelas punyanya dia dong, Mas. Kan orangnya lebih tinggi, karena orang asing, pasti barangnya pun beda,” jawabnya.
“Koq Mbak nolak waktu digoda Mr. Bernard? Tidak pengen cobain barangnya?” godaku lagi.
“Ihhh, apa-apaan sih Mas nanya itu? Walaupun penasaran, tapi kalau main sama dia lalu aku hamil dan punya anak dari dia, pasti orang-orang pada heboh, karena tahu itu bukan anak suamiku. Bisa-bisa aku dicerai dengan rasa malu sebab orang tahu bahwa aku selingkuh. Mana mungkin orang percaya kalau aku diperkosa, iya nggak?”
“Ya, ya, ya,” kataku menirukan iklan di TV. “Repot juga punya anak bule, padahal jelas-jelas suami Mbak bukan bule ya? Kalau gitu gimana dong jika Mbak hamil oleh perbuatanku?” tanyaku.
“Kalau sekarang aku tidak mungkin hamil lagi, Mas, sebab dua bulan yang lalu aku sudah bicara dengan suamiku dan kami setuju aku operasi, sehingga sehebat apapun permainan kita, aku takkan bisa hamil lagi. Tapi aku hanya bilang ini pada suami dan Mas aja orang lain selain kami yang tahu. Ntar takutnya kalau Mr. Bernard tahu, bisa-bisa ia menggodaku lagi saat ada kesempatan dan merasa tak ada penghalang yang bisa kujadikan dalih untuk menolak ajakannya. Sebab dulu aku bilang seperti tadi: jika aku hamil olehnya, lalu lahir anak bule, aku bakal malu seumur hidup.”
Kemudian kualihkan percakapan. “Mbak, kalau mau main, ntar aja dech. Aku mau permainan pertama denganmu di atas ranjang, biar nikmatnya sampai ke ubun-ubun,” kataku.
“Ahhh, alasan aja, Mas. Kan tadi di atas tikar kita udah main beneran, waktu kontolmu masuk ke dalam memekku,” katanya lagi sambil memencet hidungku dan berusaha mengusap-usap penisku lagi.
“Itu kan lain, Mbak. Aku belum sampai orgasme. Apalagi aku sendiri baru kali itu melakukan hubungan badan,” keluar pengakuan jujurku.
“Masak sih Mas? Koq Mas Agus begitu pandai memuaskan aku sejak tadi sore. Bahkan bisa-bisanya belum keluar sama sekali,” katanya tidak percaya.
“Yahh, gimana sich Mbak. Aku jujur nich, buat apa bohong? Kalau nggak percaya, silakan. Tapi aku baru kali ini benar-benar main yang sebenarnya.”
“Percaya, percaya, tapi tetap tidak bisa yakin. Mana ada sich laki-laki seganteng Mas Agus, sudah hampir sarjana, bahkan pernah kulihat bawa pacar ke sini, tapi koq belum pernah main sama sekali?” katanya lagi berusaha mengorek informasi tentang diriku.
“Kalau sama pacarku itu aku sering ciuman bibir dan beberapa kali kami bercumbu dan melakukan petting. Mbak tahu petting kan?” tanyaku. Ia menganggukkan kepala. Lalu kutambahkan, “Tapi kami cuma sebatas itu aja, aku tidak mau merusak keperawanan pacarku. Takut kalau-kalau kami tidak jadi kawin padahal ia tidak perawan lagi. Ntar kasihan kalau suaminya nanti mempersoalkan hal itu.”
“Ihhh, masih ada ya laki-laki sekolot Mas di jaman globalisasi ini. Biasanya laki-laki sekarang begitu buas. Malah sangat bangga kalau bisa memperawani banyak gadis sebelum menikah dengan salah satunya,” godanya sambil mengusap-usap wajahku dan sesekali mencium bibirku.
“Aku nggak tahu apa terlalu kuno, tapi yah begitulah Mbak. Aku pernah dipesan Omku, untuk tidak merusak keperawanan perempuan sebelum ia menjadi isteriku. Makanya aku berhati-hati banget. Bahkan pernah suatu ketika pacarku sampai nangis-nangis waktu suatu ketika kami bercumbu sampai ia begitu bernafsunya ingin berhubungan badan, tetapi kutolak dan kutinggalkan dia setelah menerangkan alasanku. Ia pikir aku sudah tidak cinta lagi kepadanya. Untungnya ia makin ngerti sekarang dan tidak lagi sakit hati kalau kami bercumbu tanpa melakukan hubungan badan yang sebenarnya.”
“Wah, beruntung banget perempuan yang bisa mendapatkan keperjakaan Mas Agus,” puji Mbak Yati. “Siapakah perempuan itu?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Memang aku belum pernah berhubungan badan dengan perempuan manapun sebelumnya, tetapi memang akibat bacaan porno dan blue film yang sering kulihat, aku banyak pelajari trik dan kiat untuk melakukan hubungan badan. Kupikir biarlah Mbak Yati menjadi guruku yang pertama untuk itu, sebab selain cantik dan masih muda, ia tentu sudah berpengalaman dan tidak ada risiko dibanding jika aku main dengan pacarku yang bisa hamil dan aku akan diminta mengawininya, padahal belum tentu ia cocok menjadi istriku kelak. Melepas keperjakaan merupakan salah satu hal yang menurutku harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Makanya setelah berciuman pertama kali dengan Mbak Yati di ruang makan tadi siang, aku memutuskan akan melepas keperjakaanku hari ini.
“Hei, koq malah ngelamun. Udah deh, nggak usah dipikirin. Aku tahu Mas juga tadi sore tidak sungguhan main denganku, makanya tidak sampai puas waktu menindih tubuhku di tikar, kan?” desaknya.
Kucium bibirnya dengan lembut sambil mengusap payudaranya, lalu kujawab, “Sudah lama aku mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Mbak. Mungkin Mbak tidak pernah perhatikan, tetapi aku suka banget ama Mbak. Kalau Mbak belum nikah, malah mau kujadikan isteriku. Sayangnya Mbak sudah bersuami dan malah punya anak-anak yang sudah remaja. Aku sudah pikirkan beberapa hari ini, Mbak. Keputusanku, kalau Mbak tidak keberatan, maukah Mbak menerima keperjakaanku malam ini?” Kutatap lekat-lekat matanya sambil menantikan jawabannya.
Kulihat matanya berkaca-kaca sewaktu menjawab, “Terima kasih kalau Mas Agus mau memilihku sebagai perempuan yang akan menerima keperjakaanmu. Aku masih perawan waktu dinikahi suami pada umur 16 tahun, tetapi suamiku yang waktu itu berusia 27 tahun setahuku sudah melakukan hubungan badan dengan beberapa gadis dan bahkan pernah kuselidiki dan kutanyakan, dia akui hal itu, termasuk hubungannya dengan janda dan isteri orang lain.”
“Kasihan nasibmu Mbak, padahal kau begitu cantik. Moga hatimu terhibur mendengar pengakuan jujur dan menerima keperjakaanku nanti,” kataku menghiburnya sambil menciumi matanya dan mengisap air matanya yang terasa agak asin.
“Aku pernah mikir mau nyeleweng dengan laki-laki lain yang sudah beristeri. Bahkan pernah Mr. Bernard menggodaku untuk berhubungan badan waktu isterinya pulang dua minggu ke negeri mereka. Tapi aku masih bertahan untuk tidak selingkuh. Tapi anehnya malah dengan Mas Agus aku bisa begitu terbuka dan bersedia melakukan apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan suami-isteri,” akunya sambil merengkuh tubuhku agar memeluknya. Kami pun berpelukan di bathtub sambil mencari bibir dan kembali saling melumat dengan rasa cinta yang berkobar-kobar.
Kami pun akhirnya mandi setelah berendam sambil saling menyabuni tubuh. Setelah usai mandi, kami berdua keluar dari bathtub dan saling mengeringkan tubuh dengan handuknya. Usai mengeringkan tubuh, saat ia mengambil pakaiannya untuk ia kenakan, sekonyong-konyong tanpa ia duga, kuangkat tubuh telanjangnya dan kubopong keluar kamar mandi. Ia menjerit kaget, “Auuww, Mas … awas jatuh lho!” tetapi ia tidak menolak perbuatanku, malah melingkarkan kedua tangannya merangkul leherku. Dengan keadaan telanjang, kami berdua keluar dari kamar mandi. Sesekali kulabuhkan bibirku mencium bibirnya sambil melangkah ke arah dapur, sebab setahuku kamarnya terletak di dekat dapur. Beberapa kali main ke rumah Mr. Bernard, sering kuperhatikan ia masuk kamar tersebut dan belakangan aku tahu, meskipun jarang tidur di rumah itu, ia diberikan kamar tersendiri apabila ingin beristirahat siang harinya. Dan pernah Mrs. Bernard bercerita tentang Mbak Yati yang rajin dan tak menolak apabila diminta tidur di situ jika kebetulan ada tamu keluarga itu yang datang hingga larut malam, di mana Mbak Yati harus melayani makan minum mereka dan membereskan segala sesuatunya. Ia kemudian berbisik lirih, “Mas, jangan ke kamarku, dipannya kecil. Kita ke kamar Mr. Bernard saja. Sekalian besok spreinya mau sekalian kucuci.” Mendengar kata-katanya, dengan tetap menggendongnya, aku berbalik ke arah kamar Mr. Bernard. Terasa hawa sejuk menerpa tubuh kami ketika memasuki kamar tersebut. Entah kapan Mbak Yati menghidupkan AC di kamar itu. “Lho, koq AC-nya nyala, Mbak?” tanyaku. “Tadi sebelum kita mandi, aku masuk kamar sini dan menyalakan AC, baru ambil handuk ke kamarku dan menyusul Mas Agus ke kamar mandi,” jawabnya. “Pantas ia agak lama tadi meninggalkanku di kamar mandi,” pikirku. Tanpa menutup pintu, tokh tidak ada orang lain selain kami berdua di rumah itu, kubaringkan tubuhnya yang tak ditutupi sehelai benang pun ke atas ranjang Mr. Bernard. Ukuran ranjang yang king size membuat tubuhnya begitu kecil berbaring di sana, padahal Mbak Yati termasuk tinggi, mungkin sekitar 165 Cm tingginya, sebab kalau berdiri di sampingku, tingginya sebatas telingaku. “Bbrrrr, aku kedinginan Mas …… Tolong kurangi AC-nya dong!” pintanya sambil menutupi tubuhnya dengan bedcover. Aku mengambil remote control AC, kuamati angka yang ada di situ, pantas begitu dingin, sebab angka yang tertera di situ adalah 17, kemudian kutekan tombol suhu untuk menaikkan suhu ruangan hingga angka 230 Celcius. Setelah mengembalikan remote ke tempat semula, kumatikan lampu besar dan kunyalakan lampu tidur, sehingga kami berbaring di ruang tidur itu dalam temaram lampu yang romantis. Jam di dinding kulihat menunjuk angka 07.12. Aku naik ke atas ranjang dan menyusulnya masuk ke balik bedcover.
“Mas, aku deg-degan lho,” bisiknya di telingaku waktu kuciumi wajah, bibir dan lehernya lembut.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang telanjang.
“Aku jadi ingat waktu jadi penganten baru dulu. Rasanya seperti itu. Koq bisa ya?”
“Mbak mau cerita tentang Mbak dan keluarga? Sudah berapa tahun kawin dengan suami? Dan berapa orang anak Mbak, sebab aku cuma pernah liat yang perempuan umur 7 tahun?” tanyaku.
“Asalku dari Malang, tapi suamiku dari Sidoarjo. Aku hanya tamat SMA, karena orang tua tidak punya uang untuk menyekolahkan aku ke fakultas, walaupun aku berhasil meraih ranking kelima waktu lulus. Kami sudah 15 tahun kawin. Anak kami tiga orang. Yang tertua laki-laki, kelas 3 SMP. Yang kedua juga laki-laki kelas 1 SMP dan yang bungsu perempuan, kelas 6 SD,” paparnya. Kuusap-usap anak rambut di keningnya sambil sesekali mengecup pipinya. “Keterampilanku membuat masakan luar negeri dan kebolehanku berbahasa Inggris membuatku bisa melamar menjadi tukang masak di beberapa orang asing. Mula-mula aku menjadi tukang masak di rumah orang Belanda, lamanya 3 tahun. Waktu ia kembali ke Belanda, ia merekomendasikan aku kepada temannya yang juga orang Belanda, sehingga aku jadi tukang masaknya selama 2 tahun. Orang itu pindah tugas ke Australia, tetapi seperti yang sebelumnya, karena mereka terkesan akan kemampuanku, aku dikenalkan dengan temannya orang Italia, yaitu Mr. Bernard ini. Sudah 2 tahun aku di sini. Saking baiknya mereka, aku diberikan kamar sendiri, padahal tukang masak yang sebelumnya hanya datang pagi-pagi untuk memasak, kemudian sorenya pulang tanpa diberikan fasilitas khusus. Kadang-kadang aku risih, apalagi Mr. Bernard suka memandangiku lama-lama tanpa sepengetahuan isterinya dan bahkan pernah beberapa kali membujukku untuk berhubungan intim. Semula aku takut terus bekerja di sini, tetapi karena isterinya baik hati, tidak tega keluar, apalagi gaji suami hanya cukup untuk hidup sampai tanggal 10 tiap bulannya, padahal anak-anak butuh uang untuk sekolah. Akhirnya kukuatkan diriku untuk terus di sini dan dengan halus menolak godaan Mr. Bernard. Akhirnya ia mau menerima dan menghargai alasanku untuk tidak menerima ajakannya, bahkan ketika kutolak permohonannya untuk hanya meminta ciuman bibir. Sebab kupikir jangan-jangan aku tidak kuasa menolak dirinya jika sudah ia cium. Aku juga sadar, laki-laki seganteng Mr. Bernard pasti pandai merayu dan main seks, sebab beberapa kali, entah disengaja atau tidak, dia dan isterinya pernah bermain cinta padahal mereka tahu saya belum pulang ke rumah.”
“Emang mereka tidak liat kalau Mbak memperhatikan mereka?” tanyaku penuh selidik.
“Entahlah, apa karena mereka menganggap itu urusan pribadi dan tidak peduli apakah orang lain setuju atau tidak, apalagi tokh di rumah mereka sendiri? Bukan hanya di kamar mereka melakukan itu, pernah malah kupergoki mereka sedang bersetubuh di sofa ruang keluarga sewaktu melintasi ruangan itu mau meletakkan masakan ke meja makan. Tapi Anehnya, mereka bukannya malu hati dan menghentikan lalu pindah ke kamar, aku yang jadi mundur ke dapur sambil mendengar mereka tertawa lalu melanjutkan kegiatan mereka sambil merintih-rintih. Ihhhh, serem ….”
“Mbak tidak terangsang waktu melihat mereka sedang gituan?” tanyaku lagi.
“Orang gila tuch kalau tidak terangsang liat sepasang manusia sedang bergulat gitu, Mas. Aku ya terangsang sich, tapi karena malu, cepat-cepat ke dapur. Lucunya, aku penasaran juga pengen liat lagi tanpa diketahui mereka. Akhirnya, dari celah-celah pintu dapur kuintip mereka main sampai beberapa ronde. Aku sampai terangsang berat dan celanaku basah kuyup saat menyaksikan perbuatan mereka. Ah, udah ah, jangan cerita itu lagi, bikin basah ntar,” katanya mengelak.
“He he he, ntar juga kita bakal main lagi kan, Mbak? Malah harus basah tuch vagina Mbak, kalau nggak gimana penisku bisa mendarat?” godaku sambil mencium bibirnya dengan gemas. “Oh ya, terus gimana tentang suami Mbak?” tanyaku.
“Oh ya, suamiku pegawai negeri golongan II. Gajinya sich kecil, tapi entah bagaimana caranya, banyak perempuan suka pada dia. Mulanya aku cemburu banget asal liat dia jalan pulang kantor kadang-kadang mampir rumah minta ijin ngantar temannya. Kayak sengaja tunjukin perempuan yang ia bonceng. Aku kadang sebel, tapi mau gimana lagi, anak-anak sudah makin besar, mau minta cerai, malu pada orang tua, walaupun dia pilihan orang tuaku sendiri. Semula aku anggap isu aja waktu dengar dari teman kantornya bahwa suamiku suka jalan dan berhubungan dengan perempuan lain, bahkan bukan cuma teman kantornya. Anehnya, atasannya tidak pernah berani menegur kelakuan suamiku dan ia tidak pernah mendapatkan peringatan atas ulahnya. Lima bulan yang lalu karena kuancam minta cerai, biar sekalian orang tuanya malu kalau kami cerai, keluar pengakuannya, kalau dia hanya pernah berhubungan dengan lima perempuan, tetapi dia berjanji tidak mengulanginya lagi. Orang tuanya sangat baik dan sayang padaku, sekarang ayah mertuaku sedang sakit-sakitan dan ia sangat marah kalau tahu perbuatan anaknya yang pernah selingkuh. Padahal sekarang malah aku yang selingkuh dengan Mas Agus,” katanya.
“Mbak nyesal atas hubungan gelap kita?” tanyaku. Dalam hati bertanya juga, jangan-jangan tidak jadi main dengan dia, karena percakapan kami ini.
“Nggak koq Mas. Aku memang pernah kesal atas ulah suamiku, tapi hubungan dengan Mas Agus adalah atas keikhlasan hatiku. Aku juga cinta pada Mas, walaupun tidak tahu apakah setelah ini kita masih akan berbuat seperti tadi lagi atau hanya untuk sekarang ini, kemudian kita kembali seperti sebelumnya?” jawabnya berfilsafat.
Hatiku bersorak, namun tidak kunampakkan secara nyata. Aku berbisik di telinganya, “Mbak sayang, aku berterima kasih atas pengakuan tulusmu. Aku tidak memaksa koq kalau Mbak merasa terpaksa menerima keperjakaanku. Kalau Mbak tidak berkenan, yah sudah, kita hanya kissing dan petting aja, nggak usah sampai bersetubuh. Aku juga tidak mau kalau nanti Mbak menyesali semua yang terjadi di antara kita dan malah jadi kendala dalam hubungan Mbak dengan suami,” ujarku walaupun dalam hati merasa menyesal juga karena berlama-lama bicara, sehingga rasanya bisa batal main dengan perempuan cantik ini.
“Nggak apa-apa Mas. Aku rela menyerahkan ragaku untukmu. Seluruh tubuhku adalah milikmu malam ini. Aku rela kau apakan sekalipun demi cintaku pada Mas Agus. Sebab Mas Agus kuperhatikan selama ini begitu baik, sopan, malah tidak begitu saja menyetubuhiku walaupun kesempatan sudah terbuka sejak tadi. Aku malah malu sebab begitu birahi terhadap Mas sejak tadi siang. Malah waktu Mas tertidur pas kupijat tadi sore diam-diam aku merabai kemaluan Mas sambil menahan nafsuku,” keluarlah pengakuannya.
“Aku sempat tertidur tadi Mbak, saking enaknya pijatan jari-jarimu. Waktu Mbak memainkan penisku, aku sebenarnya sudah bangun, tapi aku pura-pura tidur supaya bisa terus menikmati perlakuan Mbak,” kataku.
“Idiiihhh, Mas Agus jahaattt … aku jadi malu nich ….” rajuknya sambil mencubiti lengan dan pinggangku.
“Aduhhh, ampun …. ampun Mbak,”
“Biarin, biar Mas tahu rasa, biar kapok. Enak aja mempermainkan aku,” katanya sambil terus mencubiti tubuhku. Aku menggeliat-geliat kegelian bercampur sakit, tapi nikmat juga kurasakan cubitannya. Akhirnya ia diam setelah kupeluk erat-erat tubuhnya dan kucium bibirnya dengan French kiss style. Ia mendesah dan kembali memeluk leherku dengan kedua lengannya. “Hhhhmmm, ohhh Mas ….”
“Sekarang Mbak ceritakan bagaimana kehidupan seks Mbak dan suami,” desakku ingin tahu, setelah kami berciuman beberapa saat.
“Buat apa sih nanya-nanya itu? Kan tadi sudah kuceritakan?” elaknya.
“Kalau keberatan, yah sudah, Mbak. Aku hanya ingin tahu sejauh mana kehidupan seks kalian, sebab aku tidak percaya waktu Mbak tadi bilang cuma tahu satu posisi, yaitu posisi klasik di mana suami di atas dan Mbak di bawah.”
“Entahlah Mas. Sejak perkawinan kami, aku hanya mau berhubungan dengan satu macam posisi dengan suami. Apalagi setelah tahu bahwa sebelum dan sesudah kami kawin, ia juga main dengan perempuan lain, rasanya tidak punya hasrat untuk melakukan hubungan dengan berbagai gaya. Padahal suami pernah memutar BF di waktu anak-anak tidak di rumah, agar aku terangsang dan mau melakukan gaya yang lain. Tapi aku tetap menolak, hingga ia tidak pernah lagi memaksa. Mungkin itu juga yang membuat suamiku bosan dan suka selingkuh.”
“Kalau gitu, bagaimana dong kalau ntar Mbak kuajak main dengan bermacam-macam gaya?” desakku. “Jangan-jangan Mbak menolak?”
“Jangan kuatir Mas. Kan sudah kubilang tadi, malam ini aku adalah milikmu. Perlakukan aku sesukamu, sebab aku percaya Mas tidak akan menyakiti aku, tetapi justru ingin membahagiakan aku. Ayolah Mas, bahagiakan aku. Mari mereguk kenikmatan bersama diriku,” pintanya dengan puitis.
Kuperhatikan airmatanya menitik di bawah cahaya lampu tidur, sewaktu mengatakan hal itu, hingga membuatku terharu. Kuusap beberapa tetes air matanya dan kucium lembut bibirnya.
“Sudahlah Mbak. Maafkan pertanyaanku tadi. Ayolah, sekarang ijinkan aku membahagiakan dirimu dan menjadikanmu wanita sejati,” ajakku sambil memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Bedcover yang menutupi tubuh kami berdua, mulai acak-acakan karena gerakan kami yang semakin liar dan akhirnya terbukalah tubuh kami, seakan-akan dua bayi raksasa sedang bergelut.
Ia menyambut ajakanku dengan ciuman panas dan kurasakan lidahnya memilin lidahku, bahkan bibirnya mengisap lidahku sesekali, hingga aliran darahku kurasakan semakin deras. Jari-jariku mengusap pipinya, belakang telinganya dan lehernya. Bibirku kuarahkan mencium kedua matanya, bulu-bulu matanya yang lentik kuciumi dengan lembut, turun ke keningnya dan menciumi hidungnya yang mancung. Pipinya tak luput dari sasaran ciumanku, turun ke dagunya, kemudian melingkar ke belakang telinganya. Di situ lidahku bermain ke dalam rongga telinganya, hingga matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka menahan nikmat yang semakin merambati dirinya. Setelah itu kuarahkan ciuman ke lehernya lalu naik lagi ke belakang telinganya yang lain. Bibirku terus menciumi daun telinganya sambil menjulurkan lidahku ke dalam telinganya, membuatnya semakin menggeliat dan mengerang. “Aaahhh geli Mas, tapi ….. oookhhhh nikmat …. Terusin Mas …. Aduh kau pintar amat merangsang aku sayang …. ooouggghhhh ….. puaskan aku Masss…..”
Puas bermain di seputar wajah dan lehernya yang jenjang, bibir dan lidahku merambat turun ke pundaknya. Sambil menciumi pundaknya, lidahku kugerakkan menggelitik kulit, membuatnya kembali terangsang hebat. Apalagi ketika kubuat gerakan menggigit lembut, sehingga ia membusungkan dadanya menampilkan payudara dengan putingnya yang kuperhatikan makin tegang. Tanganku kuarahkan merangsang kedua ketiaknya dan perlahan-lahan menekan kedua belahan payudaranya. Remasan demi remasan yang kulakukan di bagian itu kubarengi dengan ciuman dan jilatan bibir dan lidah pada pundak dan dadanya, tapi sengaja putingnya belum kusentuh. Ia merasa penasaran dan menekan wajahku ke dadanya, sehingga mau tak mau putingnya kurasakan pada bibirku. Mula-mula kuciumi dan kuisap puting payudara kanannya sambil terus meremas kedua payudaranya, beberapa saat kemudian giliran puting payudara kirinya. Kedua tangannya menekan kepalaku semakin kuat hingga sulit bernapas, tetapi aktivitasku memesrai kedua gunung indahnya tidak berhenti. Geliat tubuhnya sudah bak cacing kepanasan. Tangannya tidak lagi hanya membelai rambutku, tetapi turun ke punggung dan pinggulku serta mulai meremas-remas kedua belah pantatku. Aku paham, ia sudah ingin dimasuki, tapi aku masih mau melakukan foreplay yang tak terlupakan olehnya, bahkan bila perlu hingga ia orgasme dulu. Saat tangannya mulai mencari penisku, aku bangkit dan duduk di sampingnya menghindari agar penisku jangan mendapatkan rangsangan hebat, aku kuatir tidak kuat menahan permainan tangannya dan ejakulasi sebelum melakukan penetrasi. Itu sebabnya aku kemudian duduk bersimpuh di antara kedua pahanya tanpa dapat ia cegah dan kembali meremas kedua payudaranya sambil menciumi pusarnya, pinggangnya dan pinggulnya. Beberapa saat di situ, ciumanku kemudian turun ke sela-sela pahanya, membuatnya semakin menguakkan kedua belah pahanya, sehingga kuamati vaginanya yang merona merah semakin mekar. Kucium dan kujilati sela-sela pahanya, sambil membelai-belai rambut vaginanya yang tak seberapa lebat tetapi tumbuh dengan baik, tetapi pada bagian labia vaginanya kulihat rambutnya tak seberapa banyak. Saat membelai-belai rambut vaginanya, kulihat ada setitik noktah hitam di paha kirinya, juga ada satu lagi dekat labia sebelah kanan. Kukuakkan rambut-rambut di bagian itu, dan saat kudekatkan wajahku, terlihat adanya tahi lalat. Waktu mengamati bagian klitorisnya yang makin tegang, kulihat ada tahi lalat juga persis di bagian atas klitorisnya, “Wah, pantas nich orang begitu kuat nafsunya, ada beberapa tahi lalatnya di sini,” pikirku.
“Ada apa sich Mas, koq liatin barangku kayak gitu?” tanyanya penasaran.
“Nggak Mbak. Aku sedang meneliti vaginamu. Soalnya aku kagum akan daya tahan seks Mbak. Kuliat ada beberapa tahi lalat. Makanya jadi maklum akan kemampuan seksual Mbak,” jawabku.
“Ah, ada-ada aja. Jadi malu aku …” katanya tersipu-sipu. “Udah dong, jangan diliatin terus …”
Kuteruskan aksiku melakukan eksplorasi dengan membelai-belai celah-celah kedua pahanya, ciumanku juga berlabuh di sana sambil menggigit lembut karena gemas. Ia terpekik atas ulahku, “Auuuwww … diapain pahaku Mas?”
“Tenang sayang ….. nikmati saja ya? Rileks ya biar kuantar Mbak ke gerbang kenikmatan yang takkan terlupakan.”
Usai mencium dan menggigit lembut, lidahku mulai kujulurkan ke klitorisnya tanpa menyentuh vaginanya sama sekali. Ia menggelinjang dan kembali mendesah. Kedua tanganku masih terus bermain di pahanya, membelai rambut-rambut halusnya, dan kadang-kadang menekan lembut kulit pahanya, hingga membuat desahannya berubah menjadi rintihan. Kurasakan klitorisnya semakin tegang, membuatku tak kuasa menahan diri untuk tidak mengisapnya. Kuarahkan bibirku dan menjilat sambil mengisap klitoris, mula-mula dengan perlahan, lama-kelamaan semakin gencar kuisap. Sewaktu klitorisnya yang sudah tegang sebesar biji kacang tanah sedalam-dalamnya ke dalam mulutku, lidahku kugunakan untuk merangsang klitorisnya dalam mulutku. “Ooooohhhh, sayang ….. aaaakkkkhhhhh nikmatnya ……., teruskannnn … yahhhh ….. ougghhhh…” rintihnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya seperti penari Spanyol. Bibirku kini bukan hanya bermain di klitorisnya tapi juga mengisap kedua labianya secara bergantian. Akibatnya ia semakin horny dan kedua kakinya ditekukkannya ke kasur sambil menaik-turunkan pinggulnya, sehingga vaginanya semakin merekah dengan rona merah dan cairan yang semakin banyak mengalir. Akhirnya tak kuasa lagi membendung gelora birahinya, kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat ke vaginanya, hingga mulutku menyatu dengan vaginanya, sedangkan cairan vaginanya menetes keluar dengan derasnya. Saat kuisap cairannya, tiba-tiba kudengar bunyi, “Crooott … crott … crottt …..” Rupanya seperti kejadian tadi sore, ia mengalami orgasme yang begitu hebat, hingga mengeluarkan cairan vagina bersamaan dengan air seninya. Semua cairan itu kuhirup dengan bibir dan mulutku meskipun ada juga yang muncrat mengenai wajahku. Aku menyesal juga tak sempat memasukkan jari ke dalam vagina dan anusnya saat ia mengalami orgasme lagi.
Beberapa saat ia menggelinjang-gelinjang menahan nikmat, kemudian gerakannya perlahan-lahan melemah dan ia tergolek di ranjang dengan mata terpejam penuh kepuasan.
“Nikmat sayang?” tanyaku.
“Yahh, nikmat sekali Mas …. Aku puas,” jawabnya.
Aku masih penasaran ingin memasukkan jari ke vagina dan anusnya, kemudian mengangkat kedua kakinya ke pundakku, sehingga ia terkejut. “Mas, ntar dulu, aku masih capek …..”
“Aku yakin kau masih sanggup, Sayang. Tenang aja. Aku takkan menyakiti dirimu,” kataku sambil menempatkan kedua kakinya di pundakku. Kembali kuserang vaginanya dengan jari-jariku dan sisa-sisa cairannya kugunakan juga untuk merangsang anusnya.
“Aduh Mas, aku nggak kuat. Nanti dulu dong!” rengeknya. Tapi ucapannya tidak kupedulikan. Jari telunjuk mulai mengeksplorasi liang vaginanya, sedangkan jari tengah tangan kananku memasuki anusnya. Kedua jari tersebut kugerakkan perlahan-lahan sementara jari-jari tangan kiriku kugunakan untuk menekan lembut perutnya tepat di bagian tulang-tulang yang ada di atas kemaluannya. Aku pernah melihat teknik demikian di suatu film porno di mana si perempuan benar-benar merasakan kenikmatan. Sekarang aku mempraktekkannya pada perempuan di depanku. Meskipun tadi ia sempat menolak karena sudah orgasme, tetapi begitu mendapatkan rangsangan hebat lagi, kembali ia menggeliat-geliat. Aku yakin perempuan ini mampu dalam waktu yang berdekatan mendapatkan orgasme, sebab tadi saja ia sudah mencapai multi-orgasme, dan melihat tahi lalat di vaginanya serta pengetahuanku tentang seks selama ini, pasti aku dapat memberikan kepuasan berantai baginya.
Benar saja. Tak lama kemudian kembali Mbak Yati mengerang-erang, bahkan pinggulnya bukan hanya menggeliat ke kanan kiri, tetapi juga menyodok-nyodok jariku ke arah atas hingga pantatnya bergerak juga atas bawah. Pemandangan itu membuatku semakin bersemangat dan mempercepat aksiku. Terlebih lagi waktu ia memintaku, “Ayo Massss, teruskan, lebih kuat Mas …. Ooooohhhh nikmatnyaaaa ….” Tiba-tiba kuhentikan gerakanku dengan tetap menempatkan jari-jariku pada vagina dan anusnya. “Kenapa Mas? Koq berhenti?” tanyanya penuh rasa penasaran.
“Yang di anal Mbak sakit nggak? Kalau sakit biar kustop,” tanyaku.
“Nggak koq, enak banget. Suamiku aja tidak pernah bisa memuaskanku seperti ini. Ayo dong Mas, terusin lagi …. tanggung nich. Jangan bikin aku tersiksa …. Maasss …” rintihnya memohon.
“Katanya tadi capek, koq sekarang malah minta lagi?” godaku sambil tersenyum.
“Abis Mas pinter banget menaikkan nafsuku. Tadi sih benar-benar sudah lemas, tapi begitu dirangsang hebat, mana tahan, aku jadi pengen lagi nich … Ayo dongggg…. Mas! Tega ya menyiksaku?” kembali ia memohon.
“Ok sayang, terimalah persembahanku untuk kenikmatanmu,” kataku puitis, sambil kembali melakukan gerakan seperti semula. Perlahan-lahan birahinya naik lagi, gerakan tubuhnya kembali semakin liar, apalagi ketika kugesekkan jari-jari tangan kiriku pada klitorisnya sambil mempercepat gerakan jari-jari yang lain ke dalam vagina dan anusnya. Rintihnya kini semakin meninggi bahkan ia mulai menjerit-jerit. “Tenang Mbak, ntar kedengaran orang, kita bisa ketahuan lho!” kataku. “Iyaaa …. Ooohhh , iyaahhhh Masss…. Abis enak banget sichhhh ….” rintihnya sambil menurunkan suaranya.
Pahanya kukuakkan selebar-lebarnya, sehingga terpampanglah vaginanya dan seisinya di hadapanku. Bahkan anusnya nampak terangkat beberapa kali karena pantatnya naik turun. Dengan rintihan panjang, ia mencapai orgasme lagi untuk kesekian kali. Kurasakan betapa kuat denyutan anusnya dan jepitan vaginanya, sedangkan klitorisnya kulihat berdenyut beberapa kali. “Begini rupanya gerakan klitoris jika sedang klimaks,” pikirku. Kembali cairannya muncrat dan kujilati, walaupun tidak sebanyak yang tadi lagi. Lalu kuturunkan kakinya dari pundakku dan rebah di sampingnya sambil mencium bibirnya. Ia dengan sangat bernafsu menciumi bibirku dan lidahnya mengait-ngait rongga mulutku, bahkan sesekali mengisap lidahku. Setelah itu napasnya makin reda, tidak lagi terengah-engah. Kami berdua berbaring bersisian sambil berpegangan tangan.
“Mas, terima kasih ya. Kau benar-benar luar biasa memuaskan diriku,” katanya. “Kau hebat banget lho Mas, bisa-bisanya menahan diri padahal aku sudah berulang-kali orgasme.”
“Demi dirimu, Mbak. Aku mau memberikan berapa banyak pun orgasme yang kau inginkan. Malam ini milik kita berdua. Kenanglah malam ini sebagai malam yang paling berkesan bagi kita berdua,” pintaku.
“Ya sayang. Aku puas banget. Giliranku sekarang mengantar Mas kepada kenikmatan yang Mas dambakan,” katanya sambil membelai-belai dadaku dan memainkan putingku. Tak berapa lama ia mulai menggerakkan tubuhnya dan mencium bibirku. Birahiku mulai naik sewaktu lidahnya ia julurkan ke dalam mulutku mencari-cari lidahku dan mengisapnya dengan gemas. Kemudian bibirnya bergerak menciumi telingaku seperti yang kulakukan terhadap dirinya tadi, turun ke leher dan pundakku. Ketika sampai di bagian dada, putingku dijilatinya bahkan kadang-kadang digigitnya lembut. Perasaanku makin tak menentu sewaktu bibir dan lidahnya menyapu sekujur dada, perut dan pinggangku. Kemudian diraihnya penisku dengan jari-jarinya, memainkan rambut di sekitar penisku dan menekan glans penisku dengan lembut.
Agar permainan seimbang, cepat kuraih tubuhnya dan dengan setengah paksa kubaringkan terlentang di ranjang. Lalu dari arah yang berlawanan, kutempatkan tubuhku di atasnya, sehingga ujung kaki kami berdua terletak berlawanan arah namun kepala kami bertemu. Kuciumi ubun-ubunnya terus mengarah ke mata dan hidungnya, sedangkan ia dari arah bawah juga menciumi mata dan hidungku. Selanjutnya bibir kami bertemu. Lidahku mengait-ngait lidahnya dan mengisap lidahnya. Dagunya kuciumi lalu terus ke lehernya. Ia pun membalas dengan ciuman pada dagu dan leherku di bawah tubuhku. Mulutku mulai mencari-cari payudara kanannya, sementara bibirnya sudah menciumi dadaku sebelah kiri. Lama menciumi putingnya sambil meremas dan mengisap belahan dada kanannya, kemudian aku berpindah ke payudara kirinya, sedangkan Mbak Yati beralih ke dadaku sebelah kanan. Setelah puas menciumi dadanya, aku makin turun ke perutnya dan menciumi pusarnya, sedangkan dia melakukan hal yang sama di bawah. Seterusnya kuciumi pangkal paha dan rambut-rambut halusnya serta mulai menjilati celah-celah pahanya dan mengarahkan mulutku ke vaginanya. Ia mendesah sambil mencari-cari penisku dengan bibirnya. Sesaat kemudian ia menemukan glans penisku. Ujung lidahnya mengait lubang pipisku, membuat darahku mengalir makin cepat menambah ketegangan penisku. Gerakan lidahnya memutari leher penisku membuatku makin menggeliat, rasa geli bercampur nikmat melanda diriku. Apalagi ketika bibirnya kemudian mengulum penisku perlahan-lahan, hingga sebatas lehernya. Sambil mengulum glans penis, ia menggerak-gerakkan lidahnya menyapu glans penisku dan sesekali menusuk-nusukkan ujung lidahnya ke lubang kencingku.
“Ahhh … nikmatnya Mbak …” desahku menahan nikmat yang semakin memuncak. Aku merasa ia kurang bebas melakukan kegiatannya dengan posisi di bawah, sehingga dengan suatu gerakan kugulirkan tubuhku ke sampingnya kemudian kedua tanganku yang memegang pantatnya menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Kini ia berada di atas dengan posisi wajahnya menghadap penisku, sementara aku di bawahnya dengan posisi wajah tepat berada di bawah vaginanya. Kudengar erangannya saat lidahku kembali mengait klitorisnya dengan gerakan memutar. Penisku kembali ia telan, bahkan bukan hanya sebatas kepada dan lehernya, ia memasukkan penisku semakin dalam ke dalam rongga mulutnya hingga kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit mulutnya. Lidahnya terus bermain menjilati kulit batang penisku, glans penis dan lubang kencingku pun tak luput dari sasaran lidahnya. Aku menggeliat atas perlakuannya, ia makin pintar memainkan lidahnya dan tangannya tak ketinggalan meremas-remas pantatku. Dari bawah, kutusukkan lidahku makin dalam ke liang vaginanya, hingga cairan vaginanya semakin membanjir turun menetes ke wajahku. Aku sibuk menjilati cairannya. Klitorisnya pun menjadi sasaran bibirku. Kuciumi, kujilat dengan lidahku berulang-ulang dan beberapa kali kuisap hingga pantatnya kurasakan bergerak naik turun akibat rasa nikmat yang ditimbulkan perbuatanku. Jari telunjuk tangan kiriku mencari sasaran lain, yaitu lubang anusnya. Cairan vaginanya kuoleskan di jariku sebelum mencari permukaan lubang anusnya, dan blesss …. masuklah jari telunjukku ke dalam lubang tersebut, hingga ia semakin mengerang nikmat. Jilatan lidah dan bibirku pada liang vagina, labia dan klitorisnya membuatnya birahinya makin menjadi-jadi.
“Mas, aku nggak kuat lagi…. Ayo, masukin kontolmu, sayang! Oooohhh…. ” pintanya sambil merintih-rintih menahan nikmat yang tak terperikan.
“Baiklah sayang, kuturuti perintahmu,” kataku sambil membalikkan tubuhnya ke samping dan menempatkan tubuhku terlentang lalu menarik tubuhnya agar naik di atas tubuhku. “Mbak di atas ya, biar cepet dapet,” kataku.
Ia mencoba protes, “Tapi aku belum pernah melakukan posisi begini dengan suamiku.” “Wah, repot juga nich, ada perempuan yang sudah 15 tahun kawin tapi cuma bisa satu macam posisi,” rutukku dalam hati. “Udah deh Mbak, ntar bisa sendiri koq. Ayo rebahan aja di atas badanku,” ajakku sambil menarik kedua lengannya ke atas dan memeluk punggungnya. Ia merebahkan tubuhnya, tapi kuangkat sedikit tubuhnya dengan cara menolakkan perutnya ke atas dan kuraih pinggulnya agar vaginanya tepat berada di atas penisku. Karena vaginanya sudah begitu basah tadi, maka otomatis glans penisku yang tepat berada di bawahnya mendapatkan keleluasaan untuk mencari pintu masuk ke liang vaginanya. Saat ia merasa ujung penisku sudah menyentuh labia dan klitorisnya, secara alamiah ia menggesekkan vaginanya semakin rapat ke arah penisku, dan mulailah penisku terbenam ke dalam liang vaginanya yang berdenyut-denyut. Rasa hangat di liang vaginanya sangat merangsang diriku. Ia tak kuat duduk di atas perutku, sehingga ia hanya merebahkan tubuhnya menelungkup di atas badanku sambil mencium bibirku. Aku membalas ciumannya dengan lilitan lidah pada rongga mulutnya, sambil kedua tanganku mencari-cari dan memilin putingnya serta meremas-remas kedua payudaranya. Pantatnya mulai bergerak naik turun dan kadang-kadang bergerak secara memutar di atas perutku, hingga kurasakan penisku mendapatkan rangsangan yang luar biasa, apalagi mpot ayam yang ia miliki begitu dahsyat meremas-remas penisku yang bergerak masuk keluar liang kenikmatannya. Sesekali ia bergerak memutar di atas perutku hingga penisku kurasa seperti diputar-putar. Lain waktu, ia naik turunkan pantatnya hingga penisku masuk keluar vaginanya dengan ritme yang semakin cepat. Dari bawah aku melakukan gerakan memutar, tetapi kadang-kadang kulakukan gerakan menekan penis ke liang vaginanya dengan kuatnya, sehingga sesekali pantatnya terlihat terangkat akibat hentakan penisku pada vaginanya.
“Ahhh…. aku mau keluar lagi, Mas…. Aku nggak kuattt lagiiiii …. ooookhhhhh …. nikmat …. sayang …” rintihnya sambil memeluk tubuhku erat-erat dan menggigit pundakku dengan mesra.
Kurasakan penisku seakan-akan diremas-remas dengan kuatnya dan glans penisku seperti disedot oleh sesuatu nun jauh di ujung liang kenikmatannya. Cairan vaginanya kurasakan membanjiri penisku dan menetes turun ke pangkal penis dan sela-sela pahaku. Aku merasakan sesuatu mendesak dari dalam diriku yang semakin memusat pada penisku. “Agaknya aku juga akan orgasme,” batinku. Kedua belah pahanya kujepit dengan kedua pahaku dan penisku kutekan sekuat-kuatnya memasuki liang vaginanya.
Saat puncak kenikmatan semakin mendekat, tiba-tiba kurasakan pantatnya kembali naik turun dan Mbak Yati menghempaskan pantatnya kuat-kuat hingga penisku ditelan vaginanya hingga pangkalnya, bahkan kedua testisku kurasakan terjepit sedemikian rupa di celah-celah pahanya dan kembali kurasakan aliran air yang deras mengalir dalam liang vaginanya. “Nampaknya air seninya kembali muncrat bersamaan dengan orgasmenya,” pikirku sambil terus menjepit pahanya dan semakin mempercepat gerakan tubuhku. Lalu dengan suatu lenguhan panjang, aku mengalami orgasme berbarengan dengan semprotan air seninya pada penisku.
“Ahhhh …. Mbak Yati, aku sayang kamu ….” desahku.
Kurasakan betapa banyak cairan kami yang keluar membasahi sprey ranjang tersebut. Tapi semua tidak kami pedulikan, yang penting puncak kenikmatan telah kami raih bersama-sama. Masih dengan nafas tersengal-sengal kami berciuman sambil berbaring miring saling berhadapan. Payudaranya kuremas-remas dan putingnya kumainkan dengan jari-jariku, sedangkan tangan kirinya memainkan penis dan testisku yang basah kuyup akibat siraman liang kenikmatannya.
Kami berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Kudengar ucapannya lembut, “Mas, aku puas banget lho ….. Bagaimana denganmu Mas? Sudah puas?”
“Ya Mbak, aku puas. Kau begitu luar biasa melayaniku,” jawabku sambil meremas jari-jarinya. Ia diam dan kuperhatikan beberapa saat kemudian matanya sudah terpejam, mungkin ia akan tertidur. Jari-jarinya masih kuusap dan remas, gerakannya membalas remasan jariku makin pelan dan akhirnya berhenti. Kulihat matanya benar-benar sudah terpejam dan kuamati ia sudah tidur pulas. Kubiarkan ia tertidur dan sambil menatap wajahnya, dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, “Betapa nikmatnya bersenggama. Akhirnya kulepas keperjakaanku pada seorang perempuan, walaupun bukan pada pacarku, melainkan pada isteri orang. Namun aku tidak menyesali hal ini, sebab kami melakukannya dengan cinta kasih, kecuali jika kuserahkan keperjakaanku pada perempuan tuna susila.”
Kubiarkan pikiranku mengembara hingga lelah sendiri dan mataku ikut terpejam. Agak lama tertidur, kurasakan rabaan jari-jari pada bagian dada dan perutku. Kutoleh ke sebelah kiriku, ternyata Mbak Yati sudah bangun dan memesrai tubuhku kembali. “Mas, aku mau lagi ….. Boleh nggak minta lagi, Mas?” bisiknya mesra.
“Kalau nggak boleh, gimana?” godaku sambil tersenyum.
“Yah sudah. Tidur aja deh. Aku nggak maksa koq,” ujarnya cemberut.
“Ha … ha … ha … mana bisa aku menolak permintaan perempuan secantik kau, Mbak? Sekarang kita pakai gaya apa nich?” tanyaku.
“Terserah Mas dech. Aku ngikut aja,” jawabnya.
Kubalikkan tubuhnya hingga telungkup dan aku menciumi pundak, punggung dan turun ke pinggul dan pinggangnya. Kemudian kedua belah pantatnya kuremas-remas dan jari-jariku mengait-ngait lubang anusnya. Lidahku kuarahkan menciumi anusnya hingga ia terpekik, “Ahhh …. diapain lubang yang itu, Mas?”
“Aku gemas pada dirimu Mbak. Tapi percayalah, aku akan memuaskan dirimu lagi.”
Lidahku kugerakkan memutari permukaan lubang anusnya bahkan sesekali menusuk lembut ke dalam, meskipun tidak bisa dalam kumasukkan lidah ke situ, tetapi beberapa kali tusukan sudah cukup menaikkan birahinya kembali. Setelah itu, aku menjilati celah-celah pahanya dan turun ke arah vaginanya. Kuciumi labianya dan lidahku kujulurkan masuk ke liang vaginanya. “Ehhhssssttt … Massss … yahhh enak tuch, terusin yaaa…” rintihnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya. Kurasakan vaginanya mulai basah lagi dan kuperhatikan liang vaginanya berdenyut-denyut mengembang dan menguncup dengan warna merah muda dan aroma yang harum. “Heran, koq bisa-bisanya vagina perempuan ini begitu indah padahal sudah 15 tahun kawin dan melahirkan tiga orang anak?” pikirku. Sambil berpikir demikian kurasakan gejolak darahku semakin deras dan penisku semakin tegang. Akhirnya kuarahkan penisku tepat di belakang pantatnya, lalu kutarik sedikit ke belakang kedua belah pantatnya hingga agak nungging. Perlahan-lahan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya setelah mengusap-usap labianya dengan glans penisku.
“Oooukkhhhh …. Mas …. Aduhhhh …. koq bisa begini enak ya?” desahnya dengan suara yang hampir tak kedengaran. Aku tahu birahinya sudah semakin tinggi, sebab pantatnya dengan cepat melakukan adaptasi terhadap penisku. Ia gerakkan pantatnya maju mundur ke arah penisku, sehingga aku tidak mengalami kesulitan untuk memasukkan dan mengeluarkan penisku ke dalam liang kenikmatannya. Kedua tanganku menjangkau kedua belah pantatnya yang masih terlihat sexy, lalu kumaju- mundurkan pantatnya agar penisku bebas masuk keluar vaginanya. Ia semakin mempercepat goyangan pantatnya maju mundur dan sesekali melakukan gerakan ke kiri dan ke kanan. Aku menekan penisku semakin dalam ke liang vaginanya, sehingga kurasakan betapa glans penisku mulai menemukan ujung vaginanya, sebab terasa sudah buntu. Saat kusentuh ujung rongga vaginanya dengan glans penisku dan kulakukan gerakan memutar saat penisku berada sepenuhnya di dalam vaginanya, ia merebahkan tubuhnya ke kasur, tidak lagi nungging. Kuikuti gerakannya dengan menempatkan tubuhku tepat di atas tubuhnya, tanpa melepaskan penisku dari liang vaginanya. Kedua payudaranya di bagian depan tubuhnya kuremas-remas sambil menghentakkan penis semakin dalam ke liang vaginanya dari arah belakang. Pantatnya semakin liar bergerak-gerak. Aku pun tak mau kalah action, kupercepat goyangan pantatku naik turun hingga penisku terbenam sedalam-dalamnya ke dalam vaginanya dan dengan suatu lolongan panjang, ia menjerit sambil tangannya meremas bantal yang ada di wajahnya. “Ohhhhhh …. Masss .…..” Ia kembali orgasme sedangkan aku masih belum apa-apa. Cairannya kembali menetes dan membasahi liang vaginanya dan penisku.
Penasaran ingin melakukan gaya yang lain lagi, aku terlentang dan kuraih tubuhnya dan kutempatkan di atas, tetapi dengan posisi punggungnya bersentuhan dengan dadaku dan pinggangnya di atas perutku. Ia tidak lagi berusaha menolak seperti tadi. Mungkin karena pasrah atau malah penasaran juga ingin mencoba berbagai posisi denganku?
Setelah kurasakan posisi tubuhnya sudah benar-benar relaks di atasku, kuangkat sedikit pantatnya dengan satu tangan dan tanganku yang lain memegang penisku untuk kuarahkan ke liang vaginanya. Mula-mula penisku gagal mencapai liang vaginanya, tetapi kemudian Mbak Yati sendiri berinisiatif memegang penisku dan dengan posisi agak duduk di atas perutku, ia mengarahkan penisku memasuki liang vaginanya. Lalu ia kembali terlentang di atas tubuhku, maka jadilah penisku ditelan lagi oleh vaginanya. Posisi kami sebenarnya masih sama seperti tadi, hanya bedanya yang tadi merupakan doggy style di mana tubuhku menguasai tubuhnya secara utuh; sedangkan posisi sekarang tubuhnyalah yang menguasai tubuhku walaupun tidak seutuhnya, sebab ia membelakangi aku. Kunaik-turunkan pinggulku agar penisku masuk keluar vaginanya, sedangkan tanganku meremas-remas payudaranya sambil lidahku menciumi leher dan pundaknya. Kembali ia mengerang. Sekitar sepuluh menit kami dalam posisi itu, kurasa ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhku. Sedangkan Mbak Yati sendiri juga tak kalah hebatnya meliuk-liukkan pinggulnya menerima hunjaman penisku. Sambil merintih-rintih, ia menekan pantatnya agar penisku semakin dalam masuk ke dalam vaginanya dan aku tak kuasa lagi membendung birahiku yang sudah memuncak, “Akkuuu keluar Mbakkkkk ….” aku melenguh sambil menusukkan penisku sedalam-dalamnya hingga ujungnya kurasakan berhenti sebab telah mencapai ujung dinding liang vaginanya.
“Oookkkhhh kita bareng Mas…. Aku juga dapet lagi nich …. Akkkhhhh … oougghhh,” jeritnya.
Kedua tubuh kami sudah bersimbah keringat, meskipun AC di ruangan itu cukup dingin. Nafas kami masih memacu dengan kencangnya saat menuntaskan permainan kami. Dengan suatu ciuman panas, Mbak Yati memagut bibirku dan rebah terlentang di atas tubuhku. Di bawah sana kurasakan cairan dari vaginanya meleleh ke penis, perut dan pahaku. “Luar biasa kenikmatan yang kureguk dari perempuan ini. Tak percuma kulepas keperjakaanku baginya,” batinku. “Mbak Yati, makasih ya atas pelayananmu. Mungkin suamimu pun belum pernah mendapatkan pelayanan begini rupa ya?” kataku dengan tulus sambil menyelidik.
Ia menciumi wajahku dan berbisik lirih, “Mas, aku hanya serahkan tubuhku seutuhnya padamu. Suamiku sendiri pun belum pernah bersebadan hingga aku puas berkali-kali. Saat ini aku adalah isterimu, sayangku …..”
Beberapa saat kemudian, dengan hanya mengenakan celana dalam dan BH, Mbak Yati bangkit meninggalkan aku keluar kamar. Lalu ia masuk lagi sambil membawa segelas air untukku. Aku pun menenggak air tersebut hingga habis dan gelas yang sudah kosong itu ia taruh di meja kecil dalam kamar tersebut. Kutoleh ke arah jam dinding, sudah pukul 22.45. Berarti kami sudah main selama kurang lebih tiga jam. Rasanya agak letih, tetapi entah mengapa kami berdua seperti lupa waktu dan seakan-akan ingin memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada. Melihatnya dengan celana dalam dan BH bukannya membuat nafsuku mereda, malah timbul keinginanku untuk kembali menyetubuhinya. Kuraih tubuhnya ke arah tubuhku hingga kami kembali berpelukan.
“Mas tidak capek? Koq minta lagi sih?” rajuknya sambil menciumi dadaku.
“Tahu tuch, aku juga heran koq maunya main lagi nich. Padahal sudah dua ronde kudapatkan, Mbak sendiri sudah beberapa kali ya?”
“Sekarang maunya apa lagi, Mas?” bisiknya di telingaku sambil mengusap-usap dadaku dan menciumi pipiku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, melainkan menarik tubuhnya ke pinggir ranjang. Ia tidak melawan atau protes. Aku tahu ia juga penasaran ingin mencoba gaya lain lagi. Kutarik kedua kakinya hingga menjuntai ke lantai sedangkan pantatnya hingga ujung rambutnya berada di ranjang. Kujilati tumit kakinya, naik ke betis dan lututnya hingga pahanya. Ia mulai mengerang lagi sewaktu kuperlakukan demikian. Erangannya lagi-lagi meninggi sewaktu kuciumi dan jilati sela-sela pahanya, dan kusibakkan labia vaginanya ke kanan kiri agar leluasa merambah wilayah tersebut. Kurasakan aroma harum pada vaginanya. Kesimpulanku ia tadi sempat membasuh bagian tersebut di kamar mandi sewaktu keluar kamar mengambilkan air minum untukku.
“Mas … nikmat amat sich?” desahnya, “Aku jadi ketagihan kau ciumi memekku…” lanjutnya.
“Segalanya kupersembahkan demi kenikmatanmu, sayang … Nikmatilah apa yang kuberikan padamu malam ini, Mbak …” kataku di sela-sela kesibukan melakukan penjelajahan-ulang pada kemaluannya yang begitu merangsang. Aku heran, sudah berkali-kali ia orgasme dan kutusukkan penisku pada vaginanya, tetapi tidak terlihat tanda-tanda keletihan pada dirinya atau labianya semakin melebar. Bahkan kulihat labianya tetap seperti pertama kali kuamati tadi sore.
Kutusukkan lidahku pada klitorisnya dan jari-jariku membenam masuk ke liang vaginanya. Jariku yang lain kembali mencari liang anusnya dan mulai memasukinya perlahan-lahan. “Mas, aku nggak kuat, pengen kau tusuk lagi nich … Jangan pake tanganmu lagi, aku mau kau tusuk pakai kontolmu yang gagah itu,” pintanya.
“Emang barangku gagah ya Mbak?” tanyaku setelah mendengar permintaannya. “Besar mana dengan barang suami Mbak?”
“Masih besar punya suamiku sih, tapi gaya mainnya jauh di bawah Mas Agus yang begitu luar biasa,” katanya memuji.
“Ah, bisa aja Mbak. Karena kita sedang berdua aja makanya Mbak ngomong begitu. Di hati Mbak pasti menertawai aku, kan?” desakku.
“Apa gunanya aku berbohong Mas? Kontol Mas Agus kulihat biasa saja, malah lebih kecil daripada punya suamiku. Tapi sampai sekarang masih bisa tegang terus, tidak seperti punya suamiku, baru sekali main sudah letoy. Makanya aku capek jika diminta meladeni dia. Baru juga goyang sepuluh menit, sudah muncrat, padahal aku belum apa-apa. Jarang aku bisa puas dengannya. Entahlah, apa karena aku suka jijik membayangkan dia main dengan perempuan lain, sehingga aku tidak pernah merasa enjoy kalau bersetubuh dengannya.” Aku tertawa kecil mendengar penuturannya sambil terus menciumi dan menjilati klitorisnya. Lagi-lagi ia merintih dan berkata lirih, “Maaasss, jangan siksa aku lagi, ayolah masukin kontolmu dong!”
Dengan kedua kakinya tetap menjuntai di pinggir ranjang dan telapak kakinya menyentuh lantai kamar, kulabuhkan tubuhku ke atas tubuhnya. Penisku kuarahkan ke klitorisnya, beberapa gesekan kulakukan di situ sebelum memasukkan penis ke liang vaginanya. Ia merengek manja sewaktu klitorisnya kurangsang dengan jari-jariku sambil memasukkan penis semakin dalam.
“Ooohhh, lagi … lagi … lebih dalam lagi, Mas!” rintihnya
Kutempatkan tubuhku di antara kedua pahanya dan kedua tanganku menggenggam kedua telapak tangannya sambil memaju-mundurkan penisku ke dalam vaginanya. Kurasakan kedua pahanya semakin lebar membuka memberikan ruang bagi kedua pahaku, dan sekonyong-konyong kedua pahanya dikatupkannya membelit pahaku. Aku tak kalah garang, kedua tanganku kutarik dan dengan bertumpu pada kedua tanganku di atas ranjang, aku mendapatkan ruang gerak lebih untuk melakukan tekanan pada bagian intimnya. Rintihannya kembali memenuhi kamar tidur tersebut. Goyangan pantatnya semakin tak menentu, namun kedua belah pahanya tidak melepaskan jepitan mautnya pada pahaku. Sementara denyutan vaginanya pada penisku kurasakan semakin kuat. “Memang dahsyat stamina Mbak Yati ini di atas ranjang, tak kenal lelah dan mampu mengimbangi setiap langkahku,” kataku dalam hati.
Untuk menambah sensasi, kutarik sedikit demi sedikit penisku keluar vaginanya, walaupun pantatnya berusaha mengikuti gerakan mundurku agar tetap dapat menguasai penisku. Ia tidak tahu maksud gerakanku, sebab kudengar ucapannya, “Jangan ditarik dong Mas, aku sudah mau dapet lagi nich?”
Aku tak menjawab, melainkan menarik hingga batas leher penis, lalu tanpa ia duga, kutekan kuat-kuat penisku masuk ke dalam liang vaginanya hingga ujung penisku membentur ujung dinding vaginanya.
“Aaaaaahhhhhh …..” rintihannya begitu kuat terdengar. Rupanya ia tak menyangka taktik yang kupersiapkan, sehingga tanpa dapat ia cegah, ia tiba pada puncak kenikmatan yang sebenarnya masih akan ia capai beberapa saat lagi. Kurasakan siraman cairan kenikmatannya pada penisku. Kutarik lagi penisku hingga hampir lepas dari jepitan vaginanya hingga ia melolong seakan-akan tak mau melepas begitu saja penisku saat kenikmatan melanda dirinya, “Jangan cabut Massss …. Aku masih mau jepit kontolmu …. Oooohhhh …….” Aku hanya tersenyum sambil kembali melakukan gerakan menghentakkan pantat kuat-kuat dan membenamkan penis sambil membuat gerakan mengebor hingga ujung vaginanya benar-benar terasa di ujung penisku. Putaran pantatku hingga penis meliuk-liuk dengan gaya ‘mur memasuki baut’ membuat Mbak Yati mendapatkan orgasme lagi. Cairan vaginanya membasahi penisku lagi walaupun kurasakan tidak sebanyak orgasme-orgasmenya yang sebelumnya.
Saat ia meredakan ketegangan dengan nafas yang tersengal-sengal, aku masih tetap menancapkan penis pada vaginanya. Lalu kuraih punggungnya. Mungkin ia pikir aku akan rebah di atas tubuhnya, sehingga ia diam saja. Tapi setelah memegang kedua pundaknya, kutarik tubuhnya mendekati tubuhku, kedua tangannya kuarahkan merangkul leherku. Kurasakan jepitan pahanya mulai mengendor, lalu kulilitkan lagi ke pahaku, bahkan naik ke pinggangku. Kemudian dengan suatu sentakan, kurangkulkan kedua tanganku ke pinggangnya lalu berdiri, sehingga kini ia benar-benar bergantung pada pinggangku. Mulutnya membuka secara spontan, kaget bercampur takjub atas kenikmatan yang ia rasakan, membuat mulutnya mendesis, “Sssshhhh …. Akkhhh, Mas Agussss …. kau benar-benar lihay ….. Ohhhhh, gerakan apa lagi nih?”
Sambil merangkul pinggangnya, aku naik turunkan tubuhnya, sehingga penisku yang tegang kembali maju mundur di dalam liang vaginanya. “Ini gaya monyet menggendong anaknya, Mbak. Enak nggak?” jawabku sambil menantikan reaksinya.
“Enaakkk sayang ….. tapi apa aku tidak jatuh ntar?” desahnya disertai rasa kuatir.
“Asal Mbak tetap merangkul leherku, nggak bakalan jatuh deh,” kuyakinkan dia sambil mulai menggerakkan kakiku melangkah berjalan di dalam kamar tersebut. Luas kamar itu kutaksir sekitar 5 X 6 meter, dikurangi ranjang berukuran king size, masih tersisa ruangan yang cukup untuk menggendongnya dalam posisi tersebut.
“Okkkhhhhh, nikmat sekali sih, Mas? Aneh-aneh aja gayamu ya? Tapi semuanya bikin aku .… puasssss …. Ahhhhh,” rintihnya.
“Mbak juga bisa coba gerakkan badan naik-turun dengan berpegangan pada leherku,” tukasku mengajarinya.
“Iya Mas, aku sedang berusaha nich…. Okkhhh benar sekali, nikmat amat sih?”
Kuperhatikan usahanya untuk menarik-turunkan tubuhnya agar penisku bisa maju-mundur di dalam liang vaginanya. Tangannya dilingkarkan erat-erat di leherku, tetapi kini ia sudah semakin pandai menaikkan dan menurunkan tubuhnya. Saat menaikkan tubuhnya, penisku keluar hingga sebatas lehernya, dan sewaktu ia menurunkan tubuh, penisku terbenam hingga ke pangkalnya. Aku masih terus berjalan tertatih-tatih sambil menikmati permainannya dan memegangi pinggangnya. Pada klimaks kenikmatannya, ia meracau dan mengerang, memeluk leherku kuat-kuat dan menggigit dadaku serta menurunkan tubuhnya sedemikian rupa hingga penisku terbenam seluruhnya di dalam liang kenikmatannya. Getaran pahanya yang membelit serasa merontokkan pinggangku. Kembali cairannya kurasakan meleleh di penisku turun hingga testis dan pahaku. Aku sendiri belum mendapatkan orgasme lagi.
Kuletakkan tubuhnya ke kasur dalam keadaan menelungkup. Kubaringkan diriku di sampingnya sambil berbisik, “Mbak, keberatan nggak kalau aku mencoba sesuatu yang agak berbeda?”
“Apaan maksudmu, Mas?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
“Aku mau melakukan penetrasi pada analmu, Mbak. Boleh nggak?” bujukku lagi.
“Tapi aku belum pernah tuh? Apa enak? Nggak sakit anusku dimasuki kontolmu yang cukup besar ini, Mas?”
“Ya kita coba dulu. Kalau nanti Mbak benar-benar sakit, ya kuhentikan,” kataku lagi.
“Idihhh, Mas Agus ini benar-benar kuda liar ya? Aku belum sempat ngaso, sudah mau diperkosa lagi?” ledeknya.
“Kalau tak bersedia, yah sudahlah Mbak. Aku nggak mau maksa koq. Udah deh, tidur aja kalau gitu,” aku pura-pura merajuk dan membalikkan badan membelakanginya.
“Jangan ngambek dong Mas. Ntar aku marah lho,” katanya sambil membalikkan tubuhku agar kembali berhadapan dengannya. “Tapi tunggu bentar ya, biar aku sempat bernafas dulu,” sambungnya.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengelus keningnya. Kami berbaring miring dalam posisi saling bertatapan.
Sekitar 10 menit kemudian, ia menepuk punggungku sambil berkata, “Ayo Mas. Masih mau nggak? Mumpung aku belum tidur lho,” godanya.
Aku bangun dari rebahan, kutempatkan diriku di belakang dirinya yang masih berbaring miring. Ia mencoba menghadap ke arahku, tetapi tubuhnya kutahan, “Mbak nggak usah berbalik, begini saja. Ntar perhatikan apa yang kulakukan ya?”
Kaki kanannya yang menindih kaki kirinya kuangkat dan kuletakkan agak ke depan hingga paha dan lutut kaki kanannya menyentuh kasur. Lalu kusentuh vaginanya dari arah belakang. Kuraba dengan perlahan-lahan, kucari labianya dengan jari-jariku dan kusentuh klitorisnya yang sudah mengecil. Berkat sentuhanku, klitorisnya mulai membesar lagi dan labianya mulai basah. Kuambil sedikit cairannya dan kuoleskan pada duburnya. Masih merasa kurang basah, kuambil air ludahku dengan telunjuk dan kutaruh di permukaan anusnya. Gerakanku itu membuatnya mendesah lirih. Kemudian dengan posisi berlutut dekat pantatnya, kuarahkan penisku yang juga sudah kuolesi air ludah hingga tepat berada di muka liang anusnya. Perlahan-lahan kugerakkan glans penisku masuk ke anusnya.
Kudengar rintihannya, “Aduhhhh, sakitttt Mas…..”
“Apa kustop aja Mbak, kalau sakit?” tanyaku sambil menghentikan gerakanku.
“Nggak, terusin aja Mas, tapi pelan-pelan ya, sayang …”
Aku bersorak dalam hati. Wah, dalam semalam ini sudah beberapa style kulakukan. Benar-benar pelajaran seks yang takkan terlupakan seumur hidup.
Kubasahi lagi penisku dengan air ludahku dan kembali kumasukkan perlahan-lahan ke liang anusnya. Glans penisku sudah masuk makin dalam hingga batas leher penis. Kuamati wajah Mbak Yati. Tadi ia masih meringis, tetapi sekarang kulihat mulutnya setengah membuka dan matanya terpejam, namun tidak tampak tanda-tanda kesakitan lagi. “Masih sakit Mbak?”
“Udah nggak begitu sakit lagi, Mas. Mulai terasa enak … tapi jangan kencang-kencang ya, pelan-pelan aja,” jawabnya.
“Ya Mbak, aku tidak akan menyakitimu, bahkan aku bermaksud memberikan kenikmatan seutuhnya pada dirimu,” kataku meyakinkan dirinya sambil memasukkan penis makin dalam ke liang anusnya. Setelah setengah penisku berada di dalam anusnya, kutarik keluar, lalu kumasukkan lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya, hingga ia merintih-rintih, “Aaaahhhh …. koq sekarang sakitnya makin hilang Mas? Nikmatnya seperti vagina yang dimasuki penismu kayak tadi …”
“Makanya kita perlu uji-coba, Mbak. Kalau sudah enak Mbak rasakan, biar kuteruskan ya?” kataku meminta persetujuannya.
“Yahhh …. ooohhh … terusin aja Mas. Sudah semuanya masuk?”
“Belum Mbak. Sabar ya sayang. Tiba saatnya kumasukkan semuanya,” kataku sambil menghunjamkan penisku semakin dalam.
“Oooooohhhhhhh …. nikmatttt …. Sayangkuuuu ….” rintihnya.
Setelah penisku melesak hingga pangkalnya, kutarik lagi sebatas glans penis, lalu kumasukkan kembali sedalam-dalamnya, begitu kulakukan berulang-ulang, hingga rasa nikmat kembali merasuki diri Mbak Yati. Denyutan anusnya pada penisku pun kurasakan begitu dahsyat, tak kalah dengan denyutan vaginanya. Apalagi sama sekali ia belum pernah diperlakukan demikian oleh suaminya, sehingga akulah yang mendapatkan kehormatan memerawani anusnya. Sambil melakukan penetrasi pada anusnya, jari-jariku mulai kugunakan untuk merangsang vaginanya dan tanganku yang lain kupakai meremas-remas payudaranya. Rintihannya semakin menjadi-jadi demi mendapatkan serangan pada tiga bagian tubuhnya, “Maassss, kau pinter amat sihhh memuaskan akuuuu? Ayo Mas, makin cepat dong nusuknya, aku mau dapat lagi nich!”
Mendapatkan tawaran begitu rupa, aku semakin bersemangat melakukan tusukan maut ke dalam anusnya. Bahkan beberapa kali kubuat gerakan mengebor di anusnya, seperti pada vaginanya tadi, sambil memasukkan jariku ke dalam liang vaginanya. Kedua pahanya kemudian semakin rapat dan kurasakan anusnya menjepit penisku hingga tak mampu bergerak maju maupun mundur. Akhirnya aku hanya dapat meliuk-liukkan pinggulku agar dengan gerakan memutar tersebut dapat memberikan sensasi tinggi bagi dirinya. Jariku makin dalam menusuk liang vaginanya yang semakin kuat berdenyut, dan akhirnya jeritan panjangnya kembali terdengar, “Aaaaaahhhhhhhhhh …. Massss…. aku dapet lagi ………. ooooohhhhhh ………..” Penisku mendapatkan himpitan yang luar biasa dan tanpa dapat kutahan lagi, akupun mencapai orgasme bersamaan dengan keluarnya cairan dari vaginanya. Napas kami berdua terdengar begitu kencang, seperti desahan dua kuda liar yang habis berpacu. Kutarik penisku keluar dari anusnya. Kuperhatikan ada sedikit cairan merah di ujung penisku. Mungkin saking kuatnya tusukanku tadi, terjadi sedikit pendarahan pada anusnya, pikirku. “Mbak, sakit nggak anusnya?” tanyaku sambil merebahkan diri di sampingnya dan memandang wajahnya.
“Cuma sedikit perih, Mas. Tapi itu tak berarti dibanding kenikmatan yang barusan kuperoleh lagi,” jawabnya sambil memeluk leherku. Aku mencium bibirnya dan mengelus pundaknya. Sambil menarik bedcover menutupi tubuh kami berdua, aku memejamkan mata. Sekarang baru terasa lelah. Ia pun tertidur lebih dulu, diikuti olehku. Pukul 2 pagi kembali aku bangun dan mengajaknya main lagi dengan gaya lotus, gaya berdiri dan gaya gunting. Benar-benar tangguh Mbak Yati. Tapi iapun mengakui kehebatanku bermain seks, katanya, “Mas, kalau aku kangen, jangan tolak permintaanku untuk main lagi besok-besok ya?”
“Mbak tidak takut ketahuan suami atau orang lain?” tanyaku memancing.
“Yah, kita pandai-pandai aja mengatur kapan kita main. Selama suamiku belum pulang dari Surabaya dan Mr. Bernard masih di negaranya, kita main aja. Kalau aku tidak nginap di sini pun, datang aja siang-siang pas cuma aku di sini, supaya kita bisa main dengan bebas. Asal aman, Mas Agus akan kusms,” katanya.
Begitulah pengalamanku dengan Mbak Yati. Hanya malam itu kami menginap berdua di rumah Mr. Bernard, tetapi agar tetangganya tidak curiga ia tidak pulang selama 4 hari suaminya di Surabaya, kami hanya bertemu dan main pada siang hingga sore hari. Itupun setelah ia memberi tanda lewat sms, setelah tukang kebon pulang. Praktis 4 hari lamanya kami habiskan bersama, walaupun hari pertama semalaman kami bertempur, sedangkan tiga hari berikutnya hanya kami pergunakan 3-4 jam setiap harinya. Setelah suaminya pulang dari Surabaya, masih ada beberapa kali kami main tanpa ada yang tahu, sebab Mr. Bernard belum kembali dari negaranya. Namun setelah Mr. Bernard kembali, kami sudah jarang bertemu, apalagi untuk bercinta. Kadang-kadang smsnya datang menanyakan kabar dan rindunya kepadaku. Aku menjawab bahwa aku juga rindu padanya dan takkan melupakan pelajaran cinta yang kami rajut berdua.
Pada episode selanjutnya akan kuceritakan bagaimana Mbak Yati kembali bermain denganku di rumah Mr. Bernard yang sedang bepergian dengan keluarganya ke Bali dan Lombok selama dua minggu. Bahkan permainan kami jauh lebih gila dan liar, sebab saat itu ada seorang gadis desa yang lugu, pembantu baru di rumah itu yang berhasil kami bujuk untuk bermain cinta bertiga. Bagaimana hingga gadis itupun turut dalam permainan gelap kami, menjadi kisah tersendiri yang tak kalah serunya untuk dikenang, bahkan setelah sekarang aku berumah tangga dengan gadis dari seberang pulau. Harap para pembaca bersabar menantikan episode ketiga tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar