Rabu, 09 Juni 2010

main-lagi-dengan-kepala-cabang


Main lagi dengan kepala cabang

Weekend berikutnya, pak Kacab dinas ke Jakarta,
siangnya setelah kantor tutup, dia ngajak aku untuk kencan lagi.
Aku ok saja sambil membayangkan nikmatnya di***** kont*l yang besar lagi.
DIa menjemputku di rumah, aku membawa pakaian, termasuk daleman yang tipis,
mini dan seksi untuk merangsang napsunya. Aku memakai pakaian tank top dan rok mini.

Dia tersenyum dan mengatakan aku cantik sekali dengan pakaian seperti itu, apalagi puserku sering tersingkap karena tanktopku hanya sepinggang. Dia juga membawa beberapa makanan kecil dan minuman kaleng. “KIta mau kemana pak”, tanyaku. “Ke hotel tempat aku nginep”, jawabnya. Di mobil, dia selalu mengelus2 pahaku yang tersingkap lebih dari separuh karena rok miniku terangkat ke atas. Hal ini perlahan2 membuatku terangsang. “Kamu udah makan Nes”, tanyanya. “Belum pak”, jawabku. Kita kemudian pergi cari makan dulu.

Di kamar, aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat dipipiku. Aku berdebaran. DIa menggandengku dan duduk di sofa empuk yang ada di kamar. Kamar hotelnya cukup besar, berisi satu tempat tidur besar dan seperangkat sofa, selain meja rias. Mulutku terkunci karena masih harap2 cemas dengan kenikmatan yang sudah menungguku untuk menikmatinya. Dia mengambil minuman kaleng yang dibawanya, dibukanya dan diberikan kepadaku. Selalu dia menunjukkan perhatiannya tanpa aku minta. “Ayo minum, santai saja, mau mandi dulu enggak, kan tadi panas diluar”, katanya sambil menepuk2 pahaku. Sambil tersenyum-senyum dia berlalu ke kamar mandi. Aku heran juga kenapa dia tidak mengajakku mandi bersama, tapi aku diam saja. Gak lama kemudian, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan bersarungkan handuk dipinggangnya. “Gantian deh mandi biar segar”. Di kamar mandi, di bawah shower, aku mengelus2 toketku dengan busa sabun, demikian pula dengan jembut dan mem*kku, sehingga napsuku menjadi ber kobar2. Selesai mandi aku memakai dalemanku yang seksi, bra dan CD mini yang tipis model bikini, sehingga bra hanya ditalikan di belakang leher dan punggungku, sedang CD mininya ditalikan di kiri dan kanannya. Karena branya tipis, otomatis pentilku yang sudah mengeras menonjol sekali, demikian juga jembutku yang lebat sangat berbayang dengan CD tipis itu. Karena bentuknya yang mini, jembutku menyembul di bagian atas, kiri dan kanan CD ku. Dia yang sedang duduk di sofa membelalakkan matanya ketika melihat aku keluar dari kamar mandi hanya berbalut bikini tipis dan seksi itu. “Lama sekali sih mandinya, pasti deh ngelus2 diri sendiri, ya. Kamu cantik sekali Yang, seksi sekali” katanya. Aku duduk disebelahnya dan menjawab “Habis bapak sih mandinya gak ngajak2, sehingga terpaksa Ines ngelus2 sendiri. Bapak suka kan ngeliat Ines pakai bikini seperti ini”. “Suka banget, kamu napsuin deh Yang”. “Udah ngaceng dong pak”. Aku yakin melihat pemandangan yang menggairahkan ini pasti mengungkit nafsu nya. kont*lnya terlihat mulai bergerak-gerak dibalik handuk yang disarungkan dipinggangnya.”Ines tahu, pasti bapak suka, tak usah khawatir, kan weekend ini sepenuhnya milik kita.” Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami sudah lekat berpagutan. Aku direngkuh dengan ketat ke dalam pelukannya. Tangannya mulai bergerilya me remas2 toketku. Pentilku yang sudah mengeras dipelintir2 nya dari balik bra tipisku, Ini membuat rangsangan yang lebih hebat lagi buat aku. Aku menggeliat-geliat sambil mulutku terus menyambut permainan bibir dan lidahnya. Lidahnya menerobos mulutku dan bergulat dengan lidahku.

Tanganku pun aktif menerobos handuk yang dikenakannya dan me remas2 kont*lnya yang sudah mulai ngaceng itu. Membalas gerakanku itu, tangan kanannya mulai merayapi pahaku yang mulus. Dia menikmati kehalusan kulitku itu. Semakin mendekati pangkal pahaku, aku membuka pahaku lebih lebar, biar tangannya lebih leluasa bergerak. Peralahan-lahan tangannya menyentuh gundukan mem*kku yang masih tertutup CD bikini tipis. Jarinya menelikung ke balik CDku dan menyentuh bibir mem*kku dan menggosok2 itilku. Aku mengaduh tetapi segera dibungkam oleh permainan lidahnya. Badanku mulai menggeletar menahan nafsu yang semakin meningkat. Tanganku terus menggenggam kont*l yang besar dan panjang itu. Ukurannya ketika ngaceng mungkin sekitar 18 cm dengan diameter sekitar 5 cm. kont*l inilah yang membuat aku menjadi ketagihan. “Pak, besar banget sih kont*lnya, dipakai in obat apa sih sampai besar begini”, kataku sambil mengocok lembut kont*lnya. “Kamu sukakan sama kont*lku”, bukan menjawab dia malah balik bertanya. “Suka banget pak, kalau sudah masuk semua rasanya mem*k Ines sesak deh kemasukan kont*l bapak, apalagi kalau udah bapak enjot, gesekan kont*l bapak ke mem*k Ines terasa banget. Ines udah gak sabar nih pak, udah pengen ngerasain kont*l bapak nggesek mem*k Ines”. jawabku penuh napsu. Kocokan lembut jari-jariku itu membuat kont*lnya semakin ngaceng mengeras. Dia mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan sejalan dengan itu bibir mungilku itu menyentuh pentil nya. Lidahku bergerak lincah menjilatinya. Dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku makin cepat mengocok kont*lnya yang semakin berdenyut-denyut ngaceng. “Ayo ke ranjang”, bisiknya, “Kita tuntaskan permainan kita.” Aku bangkit berdiri, Dia memelukku. Diangkatnya tubuhku dan lidahnya yang terus menerabas leherku membuat nafasku terengah-engah nikmat. Toketku lembut menempel lekat di dadanya. Aku direbahkan di tempat tidur yang lebar dan empuk, Dia menarik pengikat bra dan CD ku. Aku biarkan dia melakukan semuanya sambil ber desah2 menahan napsuku yang makin menggila.

Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di tubuhku, ia mundur dan memandangi tubuhku yang telentang bertelanjang bulat, bersih dan wangi sabun karena habis mandi. Ia memandangi rambutku yang kepirangan tergerai sampai kepundak, toketku yang padat dengan pentil yang sudah mengeras, perutku yang rata dengan lekukan pusernya, pahaku yang mulus dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang bulat padat dan di sela paha itu terlihat gundukan hitam lebat jembutku. “Ngapain pak hanya dilihatin saja,” protesku. “Aku kagum akan keindahan tubuhmu Yang”, jawabnya. “Semuanya ini milik bapak weekend ini”, kataku sambil merentangkan tanganku. Dia mendekatiku dan duduk dipinggir tempat tidur. Aku dipeluknya dengan erat. “Pak, Ines mau menjilati bapak, gantian ya”, kataku. Dia berbaring, kemudian mulutku mulai menjelajahi seluruh dada termasuk pentilnya dan perutnya, terus menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahanya. Dengan lincah aku lepaskan belitan handuk dipinggangnya. kont*lnya yang sudah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak. Dengan mulut kutangkap kepala kont*lnya itu. Lidahku dengan lincah memutar- mutar kont*lnya dalam mulutku. Dia mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi itu.

Puas mempermainkan kont*lnya aku merebahkan diri di sampingnya. Dia mulai beraksi. Disergapnya toket kananku sembari tangan kanannya meremas-remas toket kiriku. Bibirnya mengulum pentil toketku yang mengeras itu. Toketku juga mengeras diiringi deburan jantungku. Puas toket kanan mulutnya beralih ke toket kiri. Lalu perlahan tetapi pasti dia turun ke perutku. Aku menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Dia menjilati perutku yang rata dan dijulurkannya lidahnya ke dalam pusarku. “Auu..” aku mengerang, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritku semakin keras. Mulutnya semakin mendekati pangkal pahaku. Perlahan-lahan pahaku membuka dengan sendirinya, menampakkan mem*k ku yang telah merekah dan basah. Jembut yang hitam lebat melingkupi mem*k yang kemerah-merahan itu. Dia mendekatkan mulutnya ke mem*kku dan dengan perlahan lidahnya menyuruk ke dalam mem*kku yang telah basah membanjir itu. Aku menjerit dan spontan duduk sambil menekan kepalanya sehingga lidahnya lebih dalam terbenam. Tubuhku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Pantatku menggeletar hebat sedang pahaku semakin lebar membuka. “Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritku keras. Dia terus mempermainkan itilku dengan lidahnya. Aku menghentakkan pantatku ke atas dan memegang kepalanya erat-erat. Aku melolong keras. Pada saat itu kurasakan banjir cairan mem*k ku. Aku sudah nyampe yang pertama.

Dia berhenti sejenak membiarkan aku menikmatinya. Sesudah itu mulailah dia menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhku. Kembali erangan suaraku terdengar tanda napsuku mulai menaik lagi. Tanganku menjulur mencari-cari batang kont*lnya. kont*lnya telah ngaceng sekeras beton. Aku meremasnya. Dia menjerit kecil, karena nafsunya pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian. Aku didorongnya sehingga rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan dia naik ke atasku. Aku membuka pahaku lebar-lebar siap menerima masuknya kont*lnya. Kepalaku bergerak-gerak, mulutku terus menggumam. Mataku terpejam menunggu. Dia menurunkan pantatnya. kont*lnya berkilat-kilat dengan kepalanya yang memerah siap menjalankan tugasnya. Dia mengusap-usapkan kont*lnya di bibir mem*kku. Aku semakin menggelinjang. “Cepat pak. Ines sudah nggak tahan!” jeritku. Dia menurunkan pantatnya perlahan-lahan. Dan.. BLESS! kont*lnya menerobos mem*kku diiringi jeritanku. Aku tidak perduli apakah tamu disebelah kamar mendengar jeritanku atau tidak. Dia berhenti sebentar membiarkan aku menikmatinya. Lalu ditekannya lagi dengan keras sehingga kont*lnya yang panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam liang mem*kku. Aku menghentak-hentakkan pantatku ke atas agar kont*lnya masuk lebih dalam lagi. Aku terdiam sejenak merasakan sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan dia mulai mengenjotkan kont*lnya. Pantatku kuputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Toketku tergoncang-goncang seirama dengan genjotannya di mem*k ku. Mataku terpejam dan bibirku terbuka, berdesis-desis menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan dan kemudian akhirnya menjadi jeritan. Dia membungkam jeritanku dengan mulutnya. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kont*lnya leluasa bertarung dengan mem*kku. “OH..”, erangku, “Lebih keras pak, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!” Tanganku melingkar merangkulnya ketat. Kuku-kukuku membenam di punggungnya. Pahaku semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir mem*kku seirama dengan enjotan kont*lnya. ”Aku mau ngecret, Yang”, bisiknya di sela-sela nafasku memburu. “Ines juga pak”, sahutku, “Di dalam aja pak ngecretnya. Ines ingin bapak ngecret di dalam.” Dia mempercepat enjotan kont*lnya. Keringatnya mengalir dan menyatu dengan keringatku. Bibirnya ditekan ke bibirku. Kedua tangannya mencengkam kedua toketku. Diiringi geraman keras dia menghentakkan pantatnya dan kont*lnya terbenam sedalam-dalamnya. Pejunya memancar deras. Aku pun melolong panjang dan menghentakkan pantatku ke atas menerima kont*lnya sedalam-dalamnya. Kedua pahaku naik dan membelit pantatnya. Aku pun mencapai puncaknya. kont*lnya berdenyut- denyut memuntahkan pejunya ke dalam mem*kku.

Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu perlahan- lahan Dia mengangkat tubuhnya. Dia memandangi wajahku yang berbinar karena napsu yang telah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku. “Bapak hebat sekali”, kataku, “Rasanya lebih nikmat dari yang kemarin”. “Kamu juga luar biasa Yang”, sahutnya, “Aku sungguh puas karena kamu lebih binal dari sebelumnya, itu yang membuat napsuku juga berkobar2. Kamu tidak menyesal kan Yang ng***** denganku?” “Tidak”, kataku, “Ines malah pengen dipuasin lagi.” “Jangan kawatir, stok pejuku masih banyak” jawabnya. Dia mencabut kont*lku dan rebah di sampingku. Kami beralih ke kamar mandi. Dia memandikanku di shower. Kedua tangannya menyabuniku seluruh tubuhku, toket, puser, jembut dan mem*kku menjadi sasaran elusan tangannya yang dipenuhi busa sabun. Gesekan, rabaan dan remasan tangannya akhirnya merangsang napsu ku kembali. Aku heran juga, mengapa napsuku cepat sekali naik, padahal dia baru selesai meng*****i ku. “Pak, Ines sudah napsu lagi, pengen ngerasain kont*l bapak keluar masuk di mem*k Ines lagi”, kataku sambil meremas2 kont*lnya yang juga mulai mengeras. “Iya Yang, sambil ngeremas2 toketmu, aku juga napsu, main lagi yuk, tapi di kamar mandi ya”., jawabnya. Luar biasa kasiat supplemen yang diminum Dia, dalam waktu singkat sudah membuat kont*lnya ngaceng lagi, keras sekali kont*lnya ketika ku kocok2.

Dia duduk di atas closet dengan kont*lnya yang sudah ngaceng mengacung tegak ke atas. Aku mengangkangkan pahaku dan mendekatinya dari depan, siap-siap untuk di*****. Aku sudah duduk merapat di pahanya. kont*lnya yang sudah ngaceng tanpa halangan langsung menerobos mem*k ku, bersarang sedalam-dalamnya. Aku disuruhnya segera menggoyang pantatku. Terasa nikmat sekali. Kedua toketku diremas2nya dengan penuh. Dia juga mengenjotkan kont*lnya kedepan kebelakang, walaupun dalam gerakan yang terbatas, tapi ini membuat aku mengerang keras dan sudah terasa mau nyampe lagi. Hebat benar dia merangsang napsuku, baru sebentar goyang sudah mau nyampe saking nikmatnya. Aku menjadi semakin liar dalam menggoyang pantatku. Aku sudah makin terangsang sehingga akhirnya badanku mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan. “Auu.. pak!” jerit ku. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat. “Yang, aku belum ngecret kok kamu udah nyampe”, katanya. “Habis, nikmat banget sih rasanya kont*l bapak nyodok2 mem*k Ines”, jawabku terengah. “Kita terusin ya Yang”, aku hanya mengangguk lemas.

Dia mengajakku berdiri dan menyuruhku membungkuk di wastafel dan membuka pahaku lebar2. Dia mendekat dari belakang. Tangannya menyapu lembut pantatku yang mulus tapi padat. Aku menggigit bibirku dan menahan napas, tak sabar menanti masuknya kont*lnya yang masih keras. Tangannya melingkari kedua pahaku lalu diarahkannya kont*lnya ke mem*k ku. Perlahan-lahan kepala kont*lnya yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu menerobos mem*kku. Aku mendongak dan mendesis kenikmatan. Sejenak Dia berhenti dan membiarkan aku menikmatinya, lalu mendadak dihentakkan pantatnya keras ke depan. Sehingga terbenamlah seluruh kont*l nya di mem*k ku. “Aacchh..!!”, aku mengerang keras. Rambutku dijambaknya sehingga wajahku mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot mem*k ku, tangannya meremas2 kedua toketku yang berguncang2 karena enjotannya yang keras, seirama dengan keluar masuknya kont*lnya di mem*kku. Terdengar bunyi kecipak cairan mem*kku, aku pun terus mendesah dan melenguh. Mendengar itu semua, Dia semakin bernafsu. Enjotan kont*lnya dipercepat, sehingga erangan dan lenguhan ku makin menjadi2. “Oohh..! Lebih keras pak. Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagii!” Keringatnya deras menetesi punggung dan dadaku. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambut ku semakin keras disentak. Kepalaku semakin mendongak. Dan akhirnya dengan satu sentakan keras, dia membenamkan kont*lnya sedalam-dalamnya. Aku menjerit karena kembali nyampe untuk yang kedua kalinya. Kedua tangannya terus meremas2 toketku dengan penuh nafsu. Ia pun makin keras menghentakkan kont*lnya keluar masuk mem*kku sampai akhirnya pejunya menyemprot dengan derasnya di dalam mem*kku. Rasanya tak ada habis-habisnya. Dengan lemas aku rebah di wastafel dan dia menelungkup di atas punggungku.

Beberapa saat kami diam di tempat dengan kont*lnya yang masih menancap di mem*kku. Kemudian Dia membimbingku ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi.Kembali lagi enersiku terkuras ngelayani si bapak. Dia keluar lebih dulu, terdengar dia menelpon room service untuk memesan makan malem dan minumannya. Kemudian dia kembali ke kamar mandi dan memelukku yang masih berada dibawah shower air hangat. “Yang, nikmat sekali ng***** dengan kamu”, katanya. “iya pak, Ines juga nikmat sekali, masih ada ronde ketiga kan pak?” harapku. “Pasti dong”, jawabnya sambil tersenyum. Terdengar bel pintu, Dia menyarungkan handuk di pinggangnya dan keluar kamar mandi, ternyata room service. Setelah itu dia kembali ke kamar mandi, shower dimatikan dan badanku dikeringkannya dengan handuk. “Yang, kamu masih punya daleman yang lain?” tanyanya. “Ada pak”, jawabku. Aku pun keluar dari kamar mandi bersama dengan dia, terbungkus handuk. Aku mengambil dalemanku yang kedua dan kemabli ke kamar mandi. Kali ini aku memakai bra tipis model bertali dan g string mini yang juga bertali, keduanya tipis sehingga sangat terbayang bagian2 tubuhku yang ditutupinya. Karena g string ku lebih minim daripada CD sebelumnya, praktis jembutku yang lebat itu berhamburan ke mana2. Aku keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa disebelah Dia. Dari jendela kamar terlihat lampu2 sudah menyala karena memang tidak terasa sudah gelap di luar sana. Matanya ber binar2 memandangi aku dengan CD yang lebih minim lagi. Kelihatan sekali dia berusaha menahan napsunya karena perut sudah keroncongan. Kami makan malam sambil berpelukan. Nyaman rasanya dalam keadaan yang hampir telanjang dipeluk olehnya. Aku menyandar di dadanya yang bidang. “Pak, Ines bahagia sekali dengan bapak, mau rasanya Ines jadi istrinya bapak, supaya bisa ngerasaain di***** sampai lemas”, sambil mengelus2 pentil nya. Dia mengangkat daguku dan mencium bibirku dengan mesra sekali. Selesai makan, kembali kamu berpelukan di tempat tidur walaupun seprei sudah kucel akibat pertempuran seru tadi siang, toh sebentar lagi kami akan membuat seprei itu lebih kucel lagi.

Aku tidur dipelukannya, rambutku yang basah di elus2nya. Karena kenyang, lemas dan nyaman, aku sampai tertidur dipelukannya. Tidak tahu berapa lama aku tertidur, tahu aku terbangun karena keningku diciumnya dengan lembut. “Kamu tidur pules sekali Yang, gimana masih mau lagi tidak?” tanyanya sambil tersenyum. Aku menggeliat, terbangun dan menuju ke kamar mandi karena ingin kencing. Selesainya aku kembali ke pelukan dia. Handphone nya berbunyi, dia bangun dan mengambil hp nya. Terus dia duduk disebelahku di tempat tidur, sambil tersenyum dia bertanya “Yang, mau main bertiga enggak?” “Pak, ng***** sama bapak saja Ines udah lemas begini, apalagi kalo di***** sama 2 cowok”, jawabku. “Bukan 2 cowok yang, tapi 2 cewek’ gimana, tadi ada cewek yang kirim sms nanyain kenapa kok aku belum jemput dia. Memang sih aku ngebook dia untuk malem ini kawatir kamu gak bisa nemenin aku. Ayu namanya” jawabnya menerangkan. Walaupun aku cemburu lagi mendengarnya, sepertinya dia akan melaksanakan niatnya “Ya terserah bapak aja deh”. “Ya udah, sekarang kamu tidur2an aja lagi, aku mau jemput Ayu, enggak jauh kok tempatnya dari hotel”, katanya sambil keluar kamar. Karena masih lemas aku tertidur lagi sampai terdengar ketukan dipintu. Aku bangun dan membukakan pintu. Dia masuk dengan cewek abg yang dibawanya. Aku diperkenalkan dengan Ayu, Ayu terbelalak melihat aku yang hanya mengenakan bra dan g string mini yang tipis, dan membuka jaketnya. Ayu hanya pakai tanktop ketat dan celana pendek yang mini. Toketnya besar, kayanya lebih besar dari toketku. Bulu tangannya panjang2 dan kelihatan ada kumis tipis diatas bibirnya. Pantas pak Kacab napsu sekali ingin meng*****i Ayu. Dia memang biasa ng***** dengan oom oom, katanya setiap weekend dia selalu ng***** dengan oom oom. “Sori ya mbak, Ayu enggak tahu sih kalau si oom sudah janjian dengan mbak”, katanya. “Gak apa2 kok YU, kan si oom yang menentukan dia mau sama siapa”, jawabku. Pak Kacab memperkenalkan aku sebagai Yayang, dia tidak mau menyebutkan namaku yang sebenarnya.

Pak Kacab keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk, rupanya dia sudah tidak sabar lagi untuk segera ng***** dengan Ayu. Ayu segera duduk disebelahnya di sofa. Dia merangkul Ayu dan mencium bibirnya. Tangannya mulai mengelus toket Ayu yang montok itu, desah nafas nikmat terdengar dari mulut Ayu. Ayu pun tidak tinggal diam, tangannya menerobos handuk dan menggenggam kont*lnya yang sudah ngaceng sekeras tank baja. “Besar banget kont*lnya oom”, kata Ayu. “Memangnya kamu enggak pernah ngelihat kont*l segede ini YU”, katanya sambil meringis2 kenikmatan karena Ayu mulai meremas2 kont*lnya. “Ngelihat yang gede sih sering oom, tapi yang segede ini sih Ayu belum pernah lihat. mem*k Ayu sudah empot2an ngelihat kont*l oom segede ini, udah pengen dienjot oom”, kata Ayu yang juga sudah mulai napsu. Dia makin getol meremas2 toket Ayu dari luar tanktopnya. Kayanya dia mau Ayu yang aktif lebih dahulu. Ayu segera melepas lilitan handuk dia sehingga kont*lnya yang besar panjang itu langsung tegak menantang. Mulut Ayu langsung menyergapnya, kont*lnya yang sudah tegang itu langsung diemutnya. Cukup lama Ayu mengemut kont*lnya, sampai akhirnya pak Kacab sudah tidak dapat menahan napsunya lagi. Segera tanktop Ayu dan celana pendeknya dilepas, kemudian menyusul bra dan CDnya sehingga Ayu sudah bertelanjang bulat. Toket Ayu besar dan kencang, dihiasi dengan sepasang pentil hitam yang besar juga, mungkin karena sering dihisap oom oom yang meng*****inya. Jembutnya lebih lebat dari jembutku, mengitari mem*knya, sehingga mem*knya tertutup oleh lebatnya jembut hitam itu. Dia menarik Ayu ke tempat tidur, aku memberi tempat untuk mereka. Kulihat dia berbaring merapat ke Ayu. Kakinya diangkat dan digesek-gesekkan diatas paha Ayu, sementara tangannya kembali meremas toket Ayu yang pentilnya sudah menonjol keras. Perlahan dia turun menciumi leher Ayu dan memutar-mutarkan lidahnya di pentil toketnya, sementara tangannya menjelajah ke pangkal paha Ayu, menyibak jembutnya yang hitam lebat. Dia mengusap bibir mem*k Ayu sehingga Ayu menggelinjangkan pinggulnya. Kuperhatikan Ayu memejamkan matanya menikmati sentuhan dan rangsangannya sambil meremas2 perlahan kont*lnya. Dia memainkan ujung jarinya menyapu bibir mem*k Ayu yang sudah membasah. Pentil Ayu terus dijilatinya bersamaan dengan menggosok perlahan perlahan itil Ayu dengan ujung jari telunjuknya. Serta merta Ayu menggoyangkan pantat dan pinggulnya, menggeleparkan dan membuka lebar pahanya dan membusungkan dadanya, sementara tangannya menggenggam erat kont*lnya yang mengeras dan berdenyut-denyut. “Uuff oom, diapakan tubuhku ini,” Ayu mengerang menahan kenikmatan. Tubuhnya menggelinjang keras sekali, paha Ayu bergetar hebat dan kadang menjepit tangannya dengan erat saat jarinya masih menyentuh itil Ayu. kont*lnya terus dicengkeram Ayu dengan keras. Dia juga terus meremas perlahan toket Ayu yang tambah mengeras dan membusung itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terjepit diantara kedua paha Ayu. Ayu terus meremas kont*lnya, tangan satunya memeluk pak Kacab erat sementara paha dan kakinya menggelepar keras sekali hingga sprei putih itu berserakan tak karuan, Ayu sudah nyampe sebelum di*****. Memang dia luar biasa kalau merangsang cewek. Tanpa berhenti itil Ayu terus dimainkan pelan. Aku yang menonton adegan itu menjadi sangat terangsang sehingga mem*kku juga sudah kuyup, tetapi giliranku belum tiba sehingga aku harus bersabar sambil menonton adegan super hot itu.

Pentil Ayu terlihat menonjol keras kecoklatan, mungkin Ayu sudah terangsang kembali. Pahanya telah dibuka lebar-lebar. mem*k nya basah, demikian pula jembut hitam lebat di seputarnya. Dia segera menaiki Ayu, kont*lnya yang sudah menegang diarahkan ke mem*k Ayu. Ujung kont*lnya menguak perlahan-lahan bibir mem*k Ayu. Ayu mendesah nikmat ketika dia perlahan-lahan menyuruk masuk. kont*l yang besar itu menerobos mem*k Ayu yang telah basah berlendir. Ketika separuh kont*lnya telah menerobos mem*k Ayu, dia berhenti sejenak dan membiarkan Ayu menikmatinya. Kulihat ekspresi wajah Ayu yang menggelinjang kenikmatan. Tangannya meremas-remas kain seprei. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat. Setelah aku menikmati ekspresi penuh kenikmatan wajah Ayu di saat itulah pantat pak Kacab kucium. Dia terkejut karena geli. Reaksinya tak terduga. Dia menyodokkan kont*lnya dengan keras ke arah Ayu. kont*lnya yang besar dan panjang itu langsung menerobos mem*k Ayu sehingga tertanam sepenuhnya. Ayu tersentak dan membelalakkan matanya sambil mengerang hebat. “Aaoohh oom”, erang Ayu penuh kenikmatan. Ayu menhentak2kan pantatnya ke atas untuk menerima kont*lnya sepenuhnya. Pahanya yang membelit pinggang pak Kacab. Setelah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Ayu untuk menikmati sensasi ini, dia mulai bergerak. kont*lnya dienjotkan maju mundur. Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh Ayu bergetar-getar seirama dengan enjotan kont*lnya. Mulut Ayu terbuka dan mendesis-desis. Dia segera melumat bibir Ayu dan Ayu membalasnya. Tubuhnya mulai berkeringat, menetes dan menyatu dengan keringat Ayu. Ayu membuka pahanya lebar-lebar sehingga dia dapat leluasa menggenjot mem*k Ayu. Terdengar kecipak bunyi cairan mem*k Ayu karena sodokan kont*lnya. “Aku mau nyampe oom” erang Ayu. “Ayo, oom.. Lebih keras! Auu!!” Dia mempercepat gerakannya dan dalam hitungan dua menit, Ayu menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan pantatnya ke atas. Tubuhnya menggeletar karena rasa nikmat yang luar biasa. Pahanya ketat membelit pinggang pak Kacab dan tangannya memeluk dengan eratnya. Desah puas terdengar dari mulutnya.

“Yayang masih menunggu Yu”, katanya mengingatkan. Ayu mengangguk dan melepaskan pelukannya. Dia mencabut kont*lnya yang masih tegak keras dan berkilat-kilat karena dilumuri lendir mem*k Ayu. Dari mem*k Ayu kulihat aliran lendir mem*knya. Ayu tetap berbaring dengan paha terbuka dan mata tertutup. Toketnya membusung ke atas, agak memerah karena remasan dan gigitan pak Kacab. Pak Kacab menoleh ke arahku “Sekarang giliranmu Yang”. dia melepaskan bra dan g string yang melekat ditubuhku dengan cepat, dia sudah tidak sabar untuk segera meng*****iku. Dia tahu bahwa aku sudah sangat bernapsu dari g stringku yang sudah basah itu. Langsung dia menyuruh aku menungging, dia rupanya ingin melakukan lagi doggie style seperti yang dilakukannya di kamar mandi beberapa saat yang lalu. “Ayo,pak, aku udah nggak sabar, nih. Pengen cepat dienjot kont*l bapak yang gede itu.” “Siapa takut!” sahutnya. Karena aku sudah sangat terangsang, dia tidak menunggu lama-lama. Langsung saja diarahkannya kont*lnya ke arah mem*k ku. Jembutku yang hitam lebat itu disibaknya tampaklah bibir mem*kku yang berwarna merah muda dan basah berlendir. Aku menurunkan kepalaku hingga bertumpu ke bantal. Pantat kuiangkat. Aku meremas ujung-ujung bantal dengan nafasnya berdesah tak teratur. Bulu-bulu halus tubuhku meremang, menantikan saat-saat sensasional ketika kont*lnya akan menerobos mem*kku. Dia makin merapat. Dia mengelus-elus kedua belahan pantatku. Perlahan-lahan dia mempermainkan jembut lebat disekitar mem*kku yang sudah basah itu dan kemudian menggesek itilku. Aku mengerang-erang menahan napsuku yang semakin menggila. Pantatku bergetar menahan rangsangan tangannya. “Ayo, pak”, erang ku. “Udah nggak tahan nih!” Dia mengarahkan kont*lnya yang masih sangat keras itu ke arah mem*k ku. Diselipkannya kepala kont*lnya di antara bibir mem*kku. Aku mendesah. Kemudian perlahan tapi pasti dia mendorong kont*lnya ke depan. kont*lnya menerobos mem*k ku. Aku menjerit kecil sambil mendongakkan kepalaku ke atas. Sejenak dia berhenti dan membiarkan aku menikmatinya. Ketika aku tengah mengerang-erang dan menggelinjang-gelinjang, mendadak dia menyodokkan kont*lnya ke depan dengan cepat dan keras sehingga kont*lnya meluncur ke dalam mem*kku. Aku tersentak dan menjerit keras. “Aduh pak, enak!” jerit ku. Pak Kacab mempercepat enjotan kont*lnya di mem*kku. Semakin keras dan cepat enjotannya, semakin keras erangan dan jeritanku. “Aa..h.!” jerit ku nyampe. Aku terkapar di tempat tidur telungkup, sementara dia belum juga ngecret. Kemudian aku ditelentangkan dan dia menaiki tubuhku, pahanya menempel erat dipahaku yang mengangkang. Kepala kont*lnya ditempelkan Ke itilku. Sambil menciumi leher, pundak dan belakang telingaku, kepala kont*lnya bergerak- gerak mengelilingi bibir mem*kku yang sudah basah. Aku merem melek menikmati kont*lnya di bibir mem*kku, akhirnya diselipkannya kont*lnya. “Aah”‘ jeritku keenakan. Aku merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit dimasukkannya kont*lnya. Aku menggoyangkan pantatku sehingga kont*lnya hampir seluruhnya masuk. “Pak enjot dong kont*lnya, rasanya nikmat sekali”. Perlahan dia mulai mengenjot kont*lnya keluar masuk mem*kku. Aku menarik2 sprei tempat tidur saking enaknya, sementara paha ku kangkangin lebar-lebar, hingga akhirnya kakiku melingkar di pantatnya supaya kont*lnya masuk sedalam-dalam ke mem*kku. Aku berteriak-teriak dan merapatkan jepitan kakiku di pantatnya, sambil menarik kuat-kuat sprei tempat tidur. Dia membenamkan kont*lnya seluruhnya di dalam mem*kku. “Pak, aku nyampe lagi.. Ahh.. Ahh.. Ahh,” jeritku. Beberapa saat kemudian, dia membuka sedikit jepitan kaki ku dipantatnya, paha ku dibukanya lebar2 dan akhirnya dengan cepat di enjotnya kont*lnya keluar masuk mem*kku. Nikmat sekali rasanya. setelah delapan sampai sembilan enjotan kont*lnya di mem*kku dan akhirnya kurasakan ada sesuatu yang meledak dari dalam kont*lnya. Croot.. Croot.. Croot.. Croot.. “Yang, Aku keluar”, erangnya. Pejunya muncrat banyak sekali memenuhi mem*kku. Tanganku mencekal pahaku dan menarik erat-erat ke arah kont*lnya, sehingga kont*lnya terbenam makin dalamnya di mem*k ku. Aku bersimbah keringat, keringatnya yang bercampur dengan keringatku sendiri. Aku mencengkam seprei kuat-kuat, menahan rasa nikmat yang melanda sekujur tubuhnya. Dia membiarkan kont*lnya tetap menancap di mem*kku dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Kami berpagutan erat. “Oh! nikmatnya!” kataku. “Bapak luar biasa ya, udah ronde ketiga, bisa bikin aku 2 kali nyampe, dan ngecretnya tetap banyak”. Dia mencabut kont*lnya dari mem*k ku. Pejunya bercampur cairan mem*k ku, menetes membasahi pahaku. Kami bertiga rebah di tempat tidur. Dia ditengah diantara Ayu dan aku. Aku mencium pipinya, kami hanya berbaring diam merasakan kenikmatan yang masih membekas. Akhirnya aku kembali terlelap karena kelelahan.

Pagi harinya aku terbangun karena tempat tidur bergoyang dengan keras dan terdengar erangan Ayu, rupanya dia sudah memulai aktivitas pagi dengan meng*****i Ayu. Ayu yang telentang mengangkang menjerit keenakan “Aa..”, jeritnya. kont*lnya yang besar dan panjang itu menerobos ke luar masuk mem*k Ayu. Ayu menghentak-hentakkan pantatnya ke atas sehingga kont*lnya menyuruk lebih dalam lagi. Dia berhenti dan membiarkan Ayu menikmatinya. Ayu terus mendesis-desis dan mengerang-erang nikmat. Dia terus mengenjotkan kont*lnya keluar masuk. Erangan Ayu semakin keras. Toketnya bergoncang-goncang seirama dengan enjotannya. Ayu mencengkam kedua lengan dia sementara dia tetap saja mengocok kont*lnya keluar masuk dengan cepat. “Cepat.. oom..” gumam Ayu, “Ayu mau nyampe..” Dia lebih mempercepat tempo enjotannya. Tiba-tiba Ayu menarik tubuhnya hingga dia rebah sepenuhnya di atas tubuh Ayu. “Aaahh..”, jeritnya. Tubuh Ayu bergetar hebat. Pantatnya dihentak- hentakkannya ke atas. Pahanya terangkat dan membelit pantat pak Kacab sehingga menyatu sepenuhnya. Nafasnya terengah-engah. Dia mencabut kont*lnya yang berlumuran dengan cairan mem*k Ayu, masih keras karena belum ngecret.

“Sekarang giliranmu Yang”, bisiknya. Tubuhku diraihnya dan toketku menjadi sasaran remasannya. Tangan satunya merambah jembutku yang lebat. “Aah pak”, erangku. “Bapak kuat sekali ya”. dia tidak menjawab, hanya terus saja meremas2 toketku. Ayu bangun dan segera mengemut kont*lnya, dijilati cairan yang melumuri kont*l itu, dan kemudian kepalanya yang besar itu terbenam didalam mulut Ayu. Ayu mengangguk2kan kepalanya sehingga kont*l besar itu keluar masuk di mulut Ayu. Dia mengerang keenakan. Jari2nya terbenam di dalam mem*kku yang sudah basah karena menonton adegan syur antara dia dan Ayu, napsuku juga sudah berkobar2 dari tadi. Aku telentang dengan mata tertutup dan pahaku sudah mengangkang lebar siap untuk di*****. Ayu menyudahi emutannya. dia menaiki aku dan mengarahkan kont*lnya yang masih keras ke mem*kku. kont*lnya diusap-usap di bibir mem*k ku. Aku mendesis dan mulai menggelinjang. Kepala kont*lnya perlahan-lahan mulai menguak bibir mem*kku yang telah basah. Dia menekan kont*lnya sedikit demi sedikit dan kurasakan kont*lnya mulai memasuki mem*kku. Aku mulai mendesah-desah. Tiba2 dia menyurukkan kont*lnya ke dalam mem*kku. “Aaa..” jeritku keras. Mataku membelalak. kont*lnya menancap dalam sekali di mem*kku. Kemudian dia mulai menggerak-gerakkan kont*lnya keluar masuk. Tangannya menyusup ke punggungku dan memelukku erat. Mulutnya terbenam di leherku. “Lebih keras lagi pak”, erang ku. Dia memompa kont*lnya keluar masuk semakin bersemangat. Keringat mengucur dari seluruh tubuhku, bercampur dengan keringatnya. Dia mengangkat sedikit dadanya. Mulutnya segera menerkam toket kiriku yang berguncang-guncang itu. Dari toket kiri dia beralih ke kanan. ” Pak, aku mau nyampe lagi”, kataku terputus-putus. “Aku juga”, sahutnya. Dia meningkatkan kecepatan genjotan kont*lnya . Aku menjerit-jerit semakin keras, dan merangkulnya erat-erat. Aku sudah nyampe. Akhirnya dengan satu hentakan keras dia membenamkan kont*lnya dalam-dalam. Aku menjerit keras. Pantat kuhentak- hentakkan ke atas. Paha kurangkat membelit pinggangnya mengiringi muncratnya peju dia ke dalam mem*kku. Sungguh pagi yang meletihkan tapi sangat nikmat.

Sekitar sepuluh menit aku diam membiarkan kenikmatan itu mengendur perlahan-lahan. Dia melepaskan kont*lnya dan terhempas ke atas kasur empuk di antara Ayu dan aku. Setelah beberapa saat beristirahat, kami beralih ke kamar mandi dan membersihkan tubuh. Kami saling menyirami dengan air hangat. Ayu dan aku menggosokkan body foam ke badannya. Tidak dengan tangan tetapi dengan toket masing-masing. Diperlakukan seperti itu rupanya pak Kacab terangsang kembali. Perlahan-lahan kont*lnya mulai bangun lagi. “Wuii.. Si ujang sudah bangun nih”, goda Ayu sambil mengelus kont*lnya, “Sesudah ini kita makan dan mulai ronde berikutnya”, lanjutnya. Acara mandi selesai dan dia memesan makan pagi untuk kita bertiga. Ketika pesanan makan pagi datang, Ayu dan aku bergegas kembali ke kamar mandi karena masih bertelanjang bulat. Dia menerima pesanan makan itu hanya dengan berlilitkan handuk di pinggang. Makanan yang tersedia disantap dengan lahap, setelah selesai kembali kami berbaring di tempat tidur yang sudah acak2an sepreinya.

Ayu segera memulai aksinya, dengan penuh napsu segera kont*lnya diemutnya, dikocok2nya dikeluar masukkan ke mulutnya sehingga keras kembali. ”Ayo”, katanya, “Sekarang kalian menungging. Aku mau doggy-style”. Tanpa berkata-kata Ayu dan aku segera melaksanakan perintahnya. Dia memandang pantat kami, tangannya mengelus2 mem*k kami dari belakang. Itilku digesek2, aku yakin itilnya Ayu pun demikian. ”Ayo oom”, kata Ayu, “sudah nggak sabar nih!”. Dia mengarahkan kont*lnya yang sudah mengeras ke arah mem*k Ayu. Tanpa kesulitan, kont*lnya menembus mem*k Ayu yang telah basah itu. Beberapa menit mengenjot mem*k Ayu, dia lalu beralih ke aku. Aku menjerit kecil ketika kont*lnya menerobos mem*kku. Dia mengenjot perlahan lalu semakin cepat. Aku mengerang keras. Beberapa menit kemudian dia beralih ke Ayu. Begitu seterusnya berkali2. Akhirnya dia mengenjot mem*k Ayu dengan keras. Ayu menjerit keras dan terus mengerang-erang ketika kont*l dia bergerak keluar masuk mem*knya. dia mempercepat gerakan kont*lnya dan menghentak keras. Ayu menjerit keras, nyampe dan rebah ke atas tempat tidur. Melepaskan diri dari Ayu, dia beralih ke aku. Dengan cepat dia menelentangkan aku, kemudian dihujamkannya kont*lnya ke dalam mem*kku. Aku juga menjerit keras. Toketku berguncang2 seirama dengan enjotan kont*lnya. “Aaauu, pak” jeritku, “Aku mau nyampe!” “Aku juga”, balasnya sambil menghentakkan kont*lnya keras-keras. Dia rubuh ke atas tubuhku, aku ditindihnya. Di saat itu kurasakan deras pejunya memancar ke dalam mem*kku. Aku letih, juga dia dan Ayu. Ayu merangkak mendekat dan mengelus-elus kepalanya. Aku bangun. dia dan Ayu juga. Aku duduk di tempat tidur. Dari mem*kku pejunya bercampur dengan ciranku menetes keluar. Dia merangkul bahuku. “Terima kasih Yang, terima kasih Ayu”, kataku, “Terima kasih untuk weekend yang sangat nikmat ini”. “Harusnya aku yang berterima kasih ke bapak, karena bapak sudah memberikan kenikmatan yang sangat buat aku, juga buat pejunya yang selalu bapak muncratkan di mem*kku”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar