Rabu, 09 Juni 2010

Guruku Kekasihku


Guruku Kekasihku

Cerita ini adalah modifikasi dari pengalaman pribadiku yang akan kutulis
dalam beberapa chapter. 70% true story dan sisanya fiksi. Bagi yang
berlangganan majalah Kartini, cerita ini pernah dikirim oleh guruku
dan dimuat di rubrik O Mama O Papa terbitan tahun 1996.
Namaku Rafi. Aku adalah seorang konsultan dalam bidang information
technology. Pekerjaanku ini mengharuskanku untuk siap ditempatkan
dimana saja. Saat ini, aku harus menangani sebuah perusahaan manufaktur di Bogor yang mengakibatkan aku harus mencari tempat pemondokan di kota hujan itu. Untunglah, tanpa sengaja aku bertemu dengan guru SD ku yang kebetulan memiliki rumah besar di Bogor dan ia mempersilakanku untuk menyewa salah satu kamar di rumahnya.
“Ibu, apa kabar..” sapaku sambil menyalami ibu Eva. Ia adalah guru kesenian dan bahasa SD ku di kawasan menteng Jakarta. Dalam usianya yang ke 40, ia masih tanpak muda dan segar. Wajah dan tubuhnya sangat
mirip dengan Ully Artha pemain sinetron yang juga sudah berusia kepala 4 namun masih saja cantik itu. Dengan baju santai berpotongan leher V, ibu guruku itu nampak seksi sekali. Belahan buah dadanya yang belum terlihat kerutannya itu tampak menyembul dan menunjukkan huruf Y yang tegas. “Baik Fi.. gimana keluargamu? Baik?” jawabnya tersenyum manis. “Alhamdulillah, baik bu” “kalau begitu masuk deh.. sini biar ibu bantu..”bu Eva membungkukkan badannya hendak membantu membawa barang-barangku. Ketika itu
pula tampak kedua buah dadanya yang besar bergayut di hadapanku. Buah dada yang putih itu ditutupi oleh BH tipis berwarna hitam. Sayang putting susunya tak sempat terlihat. “eeh.. jangan bu.. biar saya bawa sendiri..”
Rumah bu Eva sungguh asri dan besar. Ada 5 kamar tidur dengan 2 kamar mandi. Rumah yang besar itu dihuni oleh bu Eva, adiknya Atika, dan anaknya Amari. Ketika itu, para pembantunya belum pulang dari mudik lebaran. Di rumah itu tak ada laki-laki yang tinggal. “Sejak ibu ditinggal kawin lagi oleh suami, rumah ini tidak pernah ada penghuni laki-lakinya. Suami Atika kan pelaut. Ia datang kesini 4 bulan sekali. Itupun hanya sebulan tinggal, kemudian berlayar lagi… kamu adalah lelaki pertama yang kembali menghuni
rumah ini.. wellcome..” Keluarga ini adalah keluarga pecinta musik. Demi cintanya pada musik, dibuatlah sebuah kamar kedap suara dan –entah kenapa juga kedap cahaya — untuk dipakai bermain piano sepuas-puasnya. Di ruangan itu juga terdapat ranjang tua terbuat dari rangka besi. Belakangan aku tahu bahwa ranjang itu selalu digunakan oleh bu Eva untuk melepaskan penatnya setelah bermain piano.
Kamarku ternyata sangat lengkap. Tempat tidur busa ukuran king size, AC, meja kerja, dan meja rias. “Hehe.. ibu tau kamu ngga perlu itu” katanya tersenyum geli sambil menunjuk meja rias. “Tapi ibu ngga tau mesti ditaruh dimana lagi..” “nggak apa lah bu.. jangan repot-repot..fasilitasnya diatas ekspektasi saya.. terimakasih banyak..” Kami berdua duduk di pinggir ranjang, dan bercerita tentang masa kecil ku. Ia menceritakan betapa pangling dirinya melihatku yang tumbuh menjadi pemuda berusia 25 tahun yang tegap. “Tapi nggantengnya ngga berubah kok..”candanya. Ia juga menceritakan tentang keluarganya. Mantan suami bu Eva – yang bernama Irwan –ternyata masih sering mengunjungi anaknya di rumah itu paling sedikit sebulan sekali. “Sesak rasanya Fi.. kalau mengingat itu..tapi apa boleh buat.. itu yang terbaik buat Amari..”. Perempuan setengah
baya itu sudah menjanda 7 tahun lamanya. Tak dapat kubayangkan bagaimana ia memenuhi kebutuhan biologisnya. Dan aku tahu ia bukan tipe perempuan penganut paham free sex. Bu Eva membaringkan tubuhnya di atas ranjangku sambil meletakkan tangannya di belakang kepala. Posisi itumembuat bajunya tertarik ke atas dan memperlihatkan buah dadanya yang tertekan oleh tarikan bajunya itu. Tampak garis BH nya tercetak dengan jelas dan.. My dear.. kedua putingnya yang cukup besar itu juga terlihat jelas tercetak
di dadanya. Posisi itu juga membuat kedua pahanya yang putih itu tersingkap. Duuhh..mulusnya.. kuperhatikan bentuk kakinya yangindah belum termakan oleh usia. Memang ada beberapa bagian yang sudah ada
guratan lemaknya.. namun secara keseluruhan kaki itu bisa dibilang perfect. “Ibu rajin fitness ya ??” tanyaku spontan sambil memandang pahanya “kok tau ??” “habis badan dan paha ibu terlihat masih kencang .. tanda ibu rajin berolah raga..” Ibu Eva tersenyum manis padaku sambil dengan segera membenahi posisi badannya dan menutupi kedua pahanya. Mukanya tampak memerah karena malu bercampur senang. “that is very sweet Rafi..terima kasih.. ini pujian pertama yang ibu rasakan bukan gombal dari seorang laki-laki sejak ibu menjanda..”
Sore itu aku diperkenalkan pada Atika dan Amari. Atika adalah adik perempuan bu Eva yang berusia 35 tahun. Badan dan wajahnya miripDian Nitami. Tinggi, berhidung masam, pinggul besar dan buah dada sedang. Ia tampak seperti seorang wanita yang kesepian. Dari cara bicaranya yang selalu meminta perhatian terlihat sifat kekanak-kanakannya yang masih kental. Amari nampak lebih dewasa dari Atika. Ia gadis berumur 18 tahun berbadan tinggi, kulit agak gelap, mata besar dan muka oval.Dengan gaya rambutnya yang keriting basah itu, ia tampak lebih tua dari umurnya. Amari mewarisi sifat keibuan bu Eva. Tidak seperti Atika yang cerewet
dan bersuara keras itu, Amari lebih sabar dan bersuara lembut..persis seorang putri kraton..
Malam itu aku tak bisa tidur. Entah kenapa, wajah dan tubuh bu Eva selalu membayang di pelupuk mataku. Buah dadanya yang berukuran 36,kakinya yang mulus, wajahnya yang mirip ully artha.. my.. I can’t believe that she is 40 … dan harus kuakui perempuan itu membuatku terangsang ..hasratku untuk menidurinya begitu menggebu.. bahkan dengan berpikir seperti ini saja sudah membuat penisku berdiri.. oh ya bicara soal penis..aku dianugerahi penis berukuran cukup besar.. 16 cm dengan diameter3-4 cm.. bila sedang berdiri bentuknya persis seperti pisang ambon berukuran besar.. well terus terang.. senjataku ini cukup digila-gilai
teman-teman kencanku.. nah.. kembali soal guruku tadi, aku juga yakin iasebenarnya mempunyai keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan sentuhan seorang lelaki.. hanya saja ia menekan kuat-kuat hasrat itu.. tapi bagiku untuk begitu saja menidurinya tentu tidak mungkin.. harus ada jalan halus untuk mencapai tujuan itu.. aku terus berpikir dan berpikir dan berpikir.. sampai akhirnya …aku tertidur
Seminggu sudah aku tinggal di rumah bu Eva. Aku sudah mulai hafal dengan kebiasaan hidup perempuan itu. Dari pagi sampai sore 5 hari seminggu, ia mengajar di sebuah lembaga bahasa inggris terkenal di Bogor. Malamnya, aku perhatikan bahwa sehabis bermain piano sepuas puasnya ia pasti tertidur di kamar kedap suara itu.. dan kalau ia sudah bermain piano, tak ada seorangpun berani mengganggunya.. aku melihat sebuah peluang disitu.. dan seketika itu sebuah rencana tercipta di benakku.. besok adalah malam minggu.. hari dimana bu Eva menghabiskan malamnya dengan bermain piano.. hari dimana Atika dan Amari tidak berani mengganggu ibunya ..
Malam minggupun tiba.. selesai mandi dan makan malam aku hampiri bu Eva “bu.. boleh saya temani ibu bermain piano? Saya juga penikmat musik klasik..” “tentu Fi.. be my guest.. tapi keliatannya kamu bakal
jadi satu-satunya penonton, karena Atika dan Amari mungkin pulang agak larut..” “nggak apa bu..”kataku tersenyum.. yes.. my plan is running quite well so far.. tepat jam 8 malam pintu ruang piano ditutup dan AC pun
dinyalakan.. semenit kemudian alunan lagu-lagu klasik karya Mozart, Johan Strauss, dan beethoven pun mengalun dengan merdu dari jari-jari lentik bu Eva.”bu.. kalau haus ini saya siapkan minumnya..” “Okey.. oh..you are so sweat fi.. thanks..” Dengan sekali tenggak bu Eva menghabiskan sirup dingin yang telah kucampur dengan obat tidur itu..setelah itu aku langsung pamit “bu, saya mau pergi ke luar dulu cari angin.. setelah itu saya akan langsung tidur..” “Okey.. selamat jalan-jalan.. sampai besok ya?” bu Eva tersenyum manis padaku sambil menghentakkan symphoni ke 9 nya beethoven. Aku keluar dan menutup pintu.
Setengah jam kemudian, kubuka kembali pintu ruang piano perlahan-lahan. Tak ada suara terdengar dari ruang kedap suara itu. Aku menyelinap masuk, kukunci pintu, dan kulihat bu Eva tidur terlentang di ranjang tua di sisi piano itu. Gotcha ! rupanya KO juga dia terkena obat tidurku. Wah.. mudah-mudahan reaksinya tidak terlalu keras.. soalnya, bisa merusak seluruh rencanaku… Saat itu ia menggunakan daster terusan berwarna putih dengan belahan dada rendah. Buah dadanya menyembul dari BH tipis berwarna putih. Kedua kakinya terlihat mengangkang seakan menanti seseorang untuk menindihnya. Melihat tubuh tak berdaya itu, mendadak celanaku terasa sempit. Penisku sudah dalam keadaan tegak berdiri.
Dengan cepat kubuka daster ibu Eva dan kupeloroti dari tubuhnya. Seketika itu aku terpesona melihat tubuh yang masih sintal itu tergolek mengangkang dihadapanku hanya mengenakan BH dan celana dalam tipis. Pori-pori buah dadanya begitu jelas di mataku. Dan putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman tampak jelas dibalik BH tipis berwarna putih itu. Ketiaknya yang putih dan wangi itu ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang cukup lebat. Di selangkangannya kulihat gundukan daging yang tertutup oleh bulu-bulu yang juga lebat. Sedemikian lebatnya, sehingga begitu banyak bulu-bulu kecil yang menyelip keluar dari celana dalamnya. Kata orang wanita yang berbulu lebat memiliki libido yang tinggi.. wow.. this must be my lucky day !!
Model CD nya benar-benar membuat aku terangsang .. yaitu model CD yang
menggunakan tali sehingga dengan satu kali tarikan celana itu akan terbuka..Ouwwhh.. ingin rasanya aku segera menggumuli tubuh itu..but wait..that was not the plan.. so, dengan segera ku keluarkan beberapa sapu tangan yang sudah kupersiapkan, lalu aku ikat kedua tangan bu Eva ke jeruji ranjang besi dekat kepalanya, dan kuikat juga kedua kakinya ke jeruji ranjang besi dekat kakinya. Kupandangi wajah cantik yang mirip ully atha itu.. kemudian dengan lembut kubelai keningnya.. terus turun ke pipi..bibir..dagu..leher.. terus ke dada..kuputar-putarkan tanganku disekitar buah dadanya yang besar sebelum kuselipkan tanganku ke balik BHnya dan seketika itu tanganku dipenuhi oleh gumpalan daging yang kenyal dan empuk berukuran besar itu. Alangkah menggairahkannya buah dada bu Eva..”emhhh..” tiba-tiba bu Eva bergumam sambil mengeleng kepalanya ke kanan.. dengan cepat kutarik tanganku dari balik BH nya dan kumatikan lampu kamar. Ruang yang kedap cahaya itu langsung gelap gulita..aku bahkan tak dapat melihat tanganku sendiri.. dengan meraba-raba aku kembali duduk di pinggir tempat tidur dan mencari tubuh permpuan itu. Tangan kiriku memegang paha kiri bu Eva. Dengan perlahan aku mengusap bagian dalam paha kiri bu Eva..kunaikkan tanganku lebih ke atas… terus
sampai batas selangkangannya.. seketika itu tanganku memegang gundukan daging yang ditutupi oleh bulu-bulu lebat yang masih ditutupi oleh celana dalamnya yang tipis.. jariku mulai menggosok-gosok gundukan
daging itu.. ke atas dan ke bawah sementara itu telapak tangan kananku menyusup ke balik BH nya yang terasa benar terlalu kecil untuk buah dada berukuran 36 itu…dengan bernafsu kuremas-remas buah dada montok itu..
“Ohh..ooohh..” terdengar suara guruku itu yang nampaknya sudah mulai sadar dari idurnya. Tiba-tiba kurasakan seluruh otot tubuhnya menegang.. bu Eva mencoba bangkit dari tidurnya..”A..apa..apaan ini ??” terdengar suara perempuan itu berteriak “kok gelap sekali?? Si..siapa kamuh..hh?? Ahhhh..jangan sentuh saya !! lepaskan tanganmu dari dada saya.. kurang ajar !! lepaskan ikatan tangan dan kaki saya.. tolooong…tolooong..” ia memperkuat jeritannya. Sebuah perbuatan yang sia-sia di ruang kedap suara itu. Bersamaan dengan itu bu Eva mulai meronta-ronta kekiri dan kekanan. Rontaannya yang kuat sempat membuat aku kawatir akan melepaskan
ikatan tangan dan kakinya.. namun setelah beberapa saat, aku yakin ikatanku cukup kuat. Akibat gerakannya itu, buah dadanya juga ikut berguncang ke kiri dan kanan. Terasa nikmat di telapak tanganku. Perlawanan bu Eva membuat aku semakin bernafsu. Dengan kasar kutarik BH nya hingga robek, dan dalam kegelapan kudekatkan bibirku ke buah dada kiri bu Eva , dan seketika itu juga kumasukkan hampir separuh dari dada montoknya ke dalam mulutku. “Ohh.. ohhhh.. ooohh..” bu Eva masih meronta dengan nafas yang mulai memburu..”Ohhh.. get off your mouth from my breast !! Siapa kamu ??” kembali terdengan ia menjerit.. “Irwan !! kamukah itu ?? Irwan !! ini tidak lucu !! lepaskan aku !!!” rupanya ia menyangka aku bekas suaminya.. “Irwan !! Aku tau kamu suka dengan permainan ikat mengikat ini !!! Aku juga tau kamu masih berharap untuk bisa menikmati tubuhku lagi ..tapi sejak kamu menyakiti aku.. aku sudah bersumpah sampai matipun tak akan kuberikan tubuhku lagi padamu.. ouuuuhhh… ouuhhhh..” teriakannya bercampur dengan rintihan-rintihan kecil ketika tangan kiriku yang sedari tadi mengusap-usap perutnya dengan cepat kuselipkan kedalam CD nya. Ahhh..Jembutnya yang lebat itu memenuhi telapak tanganku. Jari telunjuk dan tengahku kugunakan untuk menyibak bulu-bulu itu untuk mencari pintu masuk ke vaginanya. Begitu tersentuh, kuletakkan jari tengahku di sepanjang pintu tersebut. Terasa benar kelembabannya semakin meningkat. Ujung jari tengahku menyentuh ujung bawah vaginanya dan pangkal jari tengahku mencari-cari klitorisnya..kuputar-putar sejenak jari tengahku itu sampai kutemukan sebuah tonjolan yang sudah terasa bengkak di pangkal vaginanya. Dengan cepat kuputar-putar dan kugesek-gesek klit nya yang semakin lama terasa semakin bengkak. “Ohhh..Ohhhh..” rontaan perempuan itu mulai mengendur dan rintihannya terdengar semakin kuat..kupermainkan lidahku di ujung putingnya yang terasa mulai mengencang dan sesekali kugigit dengan lembut.. “Ohhh.. ahhhh.. who are you..siapa kamuuhh.. ohh.. tolong… whoever you are.. jangan perkosa saya.. please..”rintihnya dengan suara serak. Sambil terus memainkan klit nya kulepaskan sedotanku di dadanya dan menjawab dengan suara yang disamarkan “I am not gonna rape you maam.. I only want to love you…with my touch.. I know you want it.. I know you want it so bad..” perempuan itu terdiam sejenak. Bibirku kembali menyusuri buah dadanya dari sebelah kiri menuju ke kanan ketika sampai pada puttingnya dengan sedikit kasar kusedot daging kecil yang sudah menegang itu “yess.. I want it so bad..I want it so bad for long..” bisiknya mengakui pernyataanku seraya menggelinjang kegelian “hhhh…but I don’t want to do it this way.. I want to see your face.. I want to touch your body.. I want to touch your..” Kuhentikan sedotanku diputingnya dan kuhentikan juga aktivitas jariku di selangkangannya dan dengan cepat kuturunkan resleting celanaku lalu kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang seperti pisang ambon itu.. “you wanna touch this maam ?” kataku melanjutkan kata-katanya seraya dalam kegelapan menempelkan penis tegangku di pipi kirinya..terasa bu Eva menggesek-gesekkan pipinya di penisku.. ia menggerakkan kepalanya untuk membelai penisku dengan pipinya seakan ia sedang menyayangi kucing piaraannya.. tiba-tiba kurasakan bahwa ia menggerakkan kepalanya dan berusaha untuk menggapai penisku dengan mulutnya.. oh no you don’t .. kataku dalam hati..ini belum saatnya.. lalu dengan cepat kugesekkan penisku itu perlahan-lahan ke lehernya.. turun terus ke dada.. di atas bukit kembar yang montok itu kugesekkan bagian bawah kepala penisku ke putingnya yang.. wow.. sangat tegang itu.. “ohh noo…No…please don’t do this to me.. tolong lepaskan ikatan kakiku please..ooohhh..” terasa oleh tangan kiriku bahwa bu Eva sedang berusaha merapatkan kedua pahanya untuk digesekkan satu sama lain. Usaha tersebut tentu saja sia-sia.. karena kakinya kuikat dalam posisi mengangkang. Gairah bu Eva yang mulai memuncak mendorongnya untuk merasakan klitnya digesek-gesek untuk mencapai puncak kepuasannya.. Dengan intens aku masih menggesek ujung penisku ke putting susunya, bahkan cairan licin yang sudah keluar dari lubang penisku kutempelkan di ujung putingnya untuk kugesek-gesekkan lagi sehingga terasa licin di bawah kepala penisku.. suara ranjang besi itu kini berbunyi dengan irama beraturan menandakan tubuh bu Eva yang menggeliat-geliat menikmati sensasi-sensasi erotis yang kuberikan padanya. Bisa kubayangkan dalam gelap, dengan kedua tangan dan kaki terikat di sisi kiri dan kanan kasur, bu Eva menggerak-gerakan pinggulnya dan menendang-nendang kakinya untuk bisa segera melepaskan diri dari ikatan dan merapatkan kedua kakinya.. “kamu bukan Irwan..ohhh..I am sure you are not him..” bisiknya serak ketika kuturunkan peniskudari buah dadanya menuju perutnya. Penisku dari ujung hingga testis kuletakkan di atas kulit perutnya yang mulus itu. “Its not his size.. its too big for him.. oohhhhh.. please.. who are you ?” rintihnya penasaran karena tak bisa melihat laki-laki yang tengah memberikannya kenikmatan yang telah lama tak diperolehnya itu.. “I am one of your student.. saya sangat mengagumi tubuh ibu yang masih sangat menggairahkan ini.. dan saya sangat mudah terangsang oleh tubuh sexy seorang wanita seusia ibu.. I am your secret admire bu.. I want to help you to get something you miss for along time…” bisikan manisku itu ternyata membuat bu Eva begitu terangsang sehingga ia menggerak-gerakkan pantatnya naik turun dengan keras seperti orang yang tengah bersenggama sambil mengerang dengan keras “Ooohh please.. do what ever you want..please.. don’t make me suffer any longer…” Dapat kubayangkan betapa merangsangnya kedua buah dada montoknya ikut terguncang kesana kemari seiring gerakan-gerakan histerisnya.. Dengan segera pula kubuka baju dan celanaku sehingga dalam waktu 20 detik aku sudah bugil. “Oohh.. I wish I could see you..” ibu Eva merintih ketika ia mendengar aku membuka seluruh pakaianku..”kenapa lampunya ngga dinyalain aja sih..? kamu takut apa? Don’t worry.. saya ngga akan marah.. I
am yours tonight..” Tanpa menjawab pertanyaannya aku menaiki ranjangnya dengan posisi bertekuk lutut diantara dua kakinya yang mengangkang itu. Kuraba bagian pinggul wanita yang masih tertutup celana dalam itu. Kupegaang tali CD nya dan dengan sekali tarik jatuhlah penutup terakhir tubuh ibu guruku itu. Aku mendekatkan mukaku ke selangkangannya yang basah olehh keringat itu dan seddetik kemudian mulutku sudah terbenam dalam rimbunan rambut hitam yang melindungi vaginanya. Bibirku dengan cepat menemui klitorisnya dan dengan lembut kusedot-sedot sambil sesekali kugigit “AAAHHH..GOOOOODDDD…nikmatnya.. terus.. terruuusss… ” rintihnyasambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Kunaikkan bibirku ke arah perut dan kutelusuri keatas menuju buah dadanya..sesampainya disana kugesekkan muka,pipi dan hidungku ke bukit kembar yang montok itu sementara penisku menempel di atas vaginanya. “o My dear.. o My dear.. ooohhhh..untie me pelleaaaase…!!!” jerit wanita berusia 40 an itu ketika penisku menggesek-gesek klitnya. Pinggulnya diangkatnya dengan liar setinggi-tingginya untuk menggesekkan klitnya ke penisku. Terasa benar vagina bu Eva sudah banjir. Gesekan penisku di mulut vaginanya mengeluarkan suara kecipak yang keras. “Oohh kiss me please..kiss mee..ouhh..” desahnya sambil mencari cari bibirku yang masih sibuk mengulum kedua putting susunya bergantian. Aku sengaja tak ingin menciumnya karena bila kulakukan maka dengan segera ia akan mengenaliku.. Aku sudah amat terangsang dan dengan segera kupegang penisku, kutempelkan di pintu vagina yang sudah teramat sangat becek itu , lalu kuedesakkan perlahan-lahan mengingat vagina ini sudah tidak pernah kemasukan penis selama hampir 7 tahun ! Ternyata ukuran diameter penisku agak menyulitkan penetrasi kali ini.. baru kusadari kalau vagina bu Eva ternyata berukuran cukup kecil.. “Aaaahh..aaaakkhh.. pelan-pelaaannn.. pelan-pelaaannhh..ouh.. its soo biig..hh” kumasukkan lagi penisku hingga setengahnya, bu Eva kembali menjerit kesakitan.. dari suaranya kutahu ia menggeleng-gelengkan kepalanyadengan keras ke kiri dan ke kanan.. aku menjadi kasihan “Do you want me to stop maam?” “NOOOOO..please don’t … its hurt at the beginning.. tapi ennaakkhh.. AAAAAKHHHHH…” bu Eva menjerit keras ketika ku amblaskan seluruh penisku sedalam-dalamnya di liang vagina ibu guruku yang cantik itu.. beberapa saat kami terdiam … terdengar suara nafas perempuan itu tersengal-sengal dan dari suara nafas dan desahnya.. ku tahu ia tengah meringis merasakan kombinasi antara rasa perih dan nikmat.. tiba-tiba bisikannya memecah kesunyian..”Oohhh.. it has been sooo long since last time I had this thing inside me..ohhh…” bu Eva mulai menggoyang pinggulnya naik turun sambil berputar-putar.. penisku yang juga mulai kugerakkan naik turun merasa seperti dipilin-pilin.. ohh benar-benar nikmat.. ditambah lagi dengan buah dadanya yang besar itu terasa betul nikmatnya tergencet oleh dadaku.. Tubuhku meindih tubuh sintal bu Eva yang tak berdaya terikat kaki dan tangannya di ranjang.. tanganku menyangga badanku dengan siku. Telapak tanganku kadang meremas buah dadanya, kadang mempermainkan bulu ketiaknya yang sudah basah oleh keringat itu.. kedua tubuh kami yang saling bergesekan itu terasa licin oleh keringat yang sudah bercampur dengan lendir dari vaginanya dan penisku..setiap tusukan penisku selalu diikuti oleh jeritan histerisnya..”aahhh..aaahhh..aahhh..” Tiba-tiba.. TUUUUUT terdengar suara telephon antar kamar yang terletak di dinding sebelah kiri piano berbunyi.. “Eva..Eva.. kamu di dalam ?” terdengan suara wanita di speaker telephone itu.. “My dear !! Atika!!!!” suara bu Eva terdengar kaget seraya menghentikan goyang pinggulnya..”Eva .. are you in there?? Jawab doongg..” suara Atika kembali terdengar ..”Ayo cepat.. bukakan ikatannya.. I have to answer her.. kalo ngga dia bisa curiga.. o My dear.. oMy dear..” bu Eva kedengaran mulai panik. “Oke hang on..” kataku tersenyum sambil melepaskan ikatan kakinya. Sementara itu penisku masih dengan tenang berbaring tegak di dalam vaginanya. Ketika kakinya terbebas, dengan refleks bu Eva merangkulkan kakinya ke pinggangku. Aku mulai kembali memompakan penisku keluar masuk keluar masuk dengan irama yang makin cepat.. sementara tanganku melepaskan ikatan tangannya. “Eva… is everything OK?? Jawab dong.” Kembali suara Atika terdengar…Begitu kedua tangannya terlepas, aku kembali menindih
tubih sintal itu dan dengan cepat mencari bibirnya yang sedikit lebar dan seksi itu.Ketika bibirku bertemu dengan bibirnyya, tanpa membuang waktu kulumat sampai habis.. dan tanpa kusangka bu Eva segera memeluk leherku dan membalas ciumanku dengan sangat ganas.. kami saling mengulum lidah.. dan goyangan pinggulkupun ku percepat.. “Mmmmphh.. mmmmmmhhhh.. mmmhhh..” jeritnya sambil terus mengulum lidahku..”Eva.. aku seperti denger suara-suara jeritan kamu di dalam sana.. are you OK or its just me..” suara Atika mulai terdengar kawatir.. bu Eva melepaskan ciumannya dan meletakkan tangannya didadaku untuk menghentikan gerakanku seraya berkata..”please..stop.. saya harus jawab Atika.. kalo ngga she will spoil the whole thing..” aku seperti kesetanan memegang kedua tangan perempuan itu dan ku lentangkan di tempat tidur “she can wait..” kataku sambil mempercepat hujaman penis besarku ke dalam vagina sempit dan becek guruku itu. Suara ranjang bercampur dengan kecipak vagina bu Eva dikombinasikan dengan jeritan-jeritannya sungguh membuat nafsuku naik ke kepala. Bibirku mencium dan menjilat kuping bu Eva sehingga ia menggelinjang kegelian. “Evaa.. answer me..” suara Atika lagi-lagi terdengar “AAAHHH.. AAAAHHH.. AAAAHHH..” bu Eva menjerit-jerit sambil tetap mengimbangi genjotan penisku. Kedua tubuh kami berguncang-guncang dengan cepat.. “Eva if you don’t answer..” “AAAAHHH…faster..faster… AAAAHHH…” pinggul kami bergoyang semakin cepat.. “if you don’t answer Eva..” “OOHHHH YES.. YESSS…sebentar lagi saya mau..sebentar lagiihh..’buah dadanya berguncang semakin cepat.. “I’ll call the police..!!” Hening sejenak. Kami berdua tertegun mendengar suara Atika. Goyangan pinggul kami tiba-tiba terhenti. Namun dengan cepat ku gendong tubuh bu Eva tanpa melepaskan penisku dari vaginanya. Kupegang kedul buah pantat bu Eva yang merangkulkan kedua kakinya di pinggangku dan kedua tanganku di bahuku.. kubopong tubuh sintal itu ke dekat telephone..”Eva…”"YESSSS Atika.. I’AM ALIVE !!!” bu Eva menjawab Atika dengan nada kesal..dan nafas yang tersengal sengal.. “kok lama banget sih ?? aku kan kawatir.. soalnya aku denger ada suara kamu menjerit-jerit.. cuma aku ngga yakin soalnya ruangan piano kan kedap suara..” sambil tetap dalam posisi menggendong ,kucium buah dada bu Eva dan ku gigit putting susunya.. “NO.. NO.. auwhhh.. IT’S.. IT’s ONLY YOUR IMAGINATION..aahhh..sss..” “Eva are you OK? Is there somebodyelse with you ?” kusedot putting susu kirinya dan kuputar-putar pinggulku sehingga penis besarku mengocok-ngocok vaginanya “ouuhh.. cut it out will ya..” bisiknya manja di kupingku “YES, I AM OK ..TIKA.. AND I AM ALL ALONE.. AS USUAL.. GOOD NIGHT.. and have a nice sleep..AAAAHH..” gagang telephone terjatuh ketika dengan ganas aku mulai mengangkat dan menurunkan pantat bu Eva sehingga vaginanya keluar masuk penisku.
Tiba-tiba PYAAAARR.. ruangan menjadi terang benderang.. oh My dear !! whats happening !! who is turning on the light ? Mataku berkunang-kunang karena tak terbiasa dengan terang.. semenit kemudian.. kulihat wajah bu Eva yang dibasahi oleh keringat tampak terpana melihat wajahku..tangannya masih memegang saklar lampu yang terletak tepat di sebelah telephone.. “Rafi.. ITS YOU ??.. oh My dear .. ibu ngga nyangka kalo itu
kamu.. oh My deard… Rafi… YOU’RE ****ING ME !!! YOUR ****ING YOUR OWN TEACHER !!” “Yeaah ” jawabku sambil mempercepat naik turunnya pantat bu Eva “and you like it right ??” “OUHHH.. DAN KAMU LUAR BIASA….AAAHH..” bu Eva melingkarkan tangannya di leherku dan mulai menciumi bibirku.
Mula-mula ia mencium-cium kecil kedua bibirku, kemudian ia mulai menggigit kecil bibir bawahku. Tiba-tiba dengan ganasnya ia menguak mulutku dengan kedua bibirnya dan seketika itu juga kurasakan lidahnya sudah menjilati langit-langit mulutku dan sesekali lidahku disedot oleh mulutnya yang lebar seksi itu. Sambil mencium dan mengulum lidahku bu Eva terus menerus menjerit dan merintih seiring dengan pergerakan pinggulku. Beberapa saat kemudian kurebahkan tubuh bu Eva kembali diatas ranjang. Kami berdua saling memandang penuh sayang sambil terengah-engah. Tubuh sintal bu Eva terlihat mengkilat oleh keringat yang bercucuran. Buah dadanya penuh dengan tanda merah bekas sedotanku. Kembali kami berciuman penuh gelora dan kasih sayang. Kaki bu Eva melingkari pinggangku dan tangannya memeluk erat leherku. Kupompakan kembali penisku dengan cepat.. “OOHH..RAFI HONEY..saya mau keluar..”"Yeah.. me too bu..me too.. ohhh..”
pinggulku bergerak melingkar mengikuti goyangannya. Penisku mulai terasa berdenyut-denyut.. kami kembali berciuman dengan penuh nafsu..kurasakan otot-otot bu Eva mulai mengejang.. “OOOH..HONEY..HONEY.. I’M COMING.. I’M OMIIINGG..EMMMMMMHHHHHHH..” bu Eva mengangkat pinggulnya setinggi-tingginya.. tangannya memeluk leherku dengan keras.. dan mulutnya menyedot bibir dan lidahku dengan kuat.. ketika itu juga aku merasakan sesuatu yang melesat kuat dari batang penisku menuju ujungnya..dan …”Aaaahhh..ibu..ibu.. saya juga…aaahhh..” aku menggelepar-gelepar dan penisku memuncratkan maninya yang sangat banyak itu ke vagina bu Eva yang juga tengah mengeluarkan cairan orgasmenya.. kontraksi vaginanya terasa sangat luarbiasa memilin-milin penisku.. tubuh kami ambruk saling brtindihan dengan lemas.. tak terasa 1 jam lebih kami melakukan permainan ini.. kuangkat kepalaku dari sisi kepalanya. Kupandangi wajahcantik yang kini berwarna kemerahan karena letih.. aku tersenyum..”You are so beautiful bu..” kataku sambil mengecup keningnya.. dan ia mendekapku dengan mesra.. penuh kasih sayang.. dan .. “I love you
honey..”bisiknya sambil mengecup bibirku dengan lembut. Aku berguling ke samping dan berbaring di samping bu Eva sambilmemandang langit-langit.. “bu.. menurut ibu, Atika curiga nggak?” tanyaku sambil memeluk tubuh bugil guruku..”Naah.. don’t worry about her.. saya akan cari alasan kenapa suara saya seperti sedang lari marathon waktu ngomong sama dia.. my..” “so, whats your plan for tomorrow bu??” “my plan ? well .. let me see.. beli obat anti hamil.. dan.. jamu kuat.. untuk menandingi si ini nih..”katanya seraya meremas penisku dengan gemas. Remasannya itu ternyata seperti listrik bagi penisku. Mendadak ia membesar dan berdiri tegak hingga nyaris mencapai puserku. “My dear.. barangmu sudah berdiri lagi Fi.. ” bu Eva bangkit dari tidurnya memandangnya dengan takjub seraya mengelus-elus penisku yang sudah mulai berdenyut-denyut menanti ronde berikut.. “and look at him..” sambungnya dengan nada kagum “I ‘ve never seen such a real big thing like this.. saya ngga percaya barusan benda ini ada di dalam vagina saya..” “ready for the second round bu ?” tanyaku sambil mulai menggerayangi buah dadanya.. “no honey.. this is too shocking for me.. I am a little bit tired.. lets save it for tomorrow okey ? and one more thing.. please call me mbak Eva, will ya..” aku tersenyum lebar “sounds more sexy to me…” dan kamipun berciuman dengan mesra sekali.. Keesokan paginya, seperti tak ada kejadian apa-apa aku, mbak Eva dan Atika menikmati sarapan pagi bersama sambil bercerita kesana kemari.. Atika sama sekali tidak menyinggung tentang kejadian semalam. Entah mbak Eva sudah meyakinkannya atau Atika yang tidak ambil pusing. Pembicaraan kami begitu akrabnya sampai-sampai Atika tidak sungkan-sungkan lagi untuk menyampaikan problemnya tentang suaminya yang pelaut itu. Ia mendengar kabar dari temannya bahwa suaminya sedang berurusan dengan polisi di Dubai karena ketahuan meniduri istri orang. Aku dan mbak Eva berusaha untuk menenangkan dirinya dengan mengingatkan bahwa itu baru kabar burung.. belum ada bukti.. “Tapi aku punya perasaan bahwa ini benar..” kata Atika sambil termenung “Disinipun aku pernah memergokinya melakukan hal yang sama.. kamu aja ngga kuberitau Ev.. namun dia meminta ampun sejadi-jadinya dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi.. sehingga aku luluh.. dan kumaafkan…” Atika menghela nafas panjang. “Tapi yah.. keliatannya sebuah sumpah baginya tak lebih dari sekedar kata-kata tanpa makna..”Tak ada air mata, tak ada tangis kepedihan, dan tak ada sumpah serapah seperti yang sering terlihat di sinetron-sinetron kita…aku jadi kagum pada Atika. Dibalik tingkahnya yang kekanak-kanakan ternyata ia menyimpan ketegaran yang luar biasa. “Lalu apa rencanamu Tik ?” Tanya mbak Eva “Tau lah Ev.. keliatannya aku akan tunggu dia pulang bulan depan.. baru kuajak dia bicara..” Tiba-tiba handphone ku yang tergeletak di ranjangku berbunyi. Ternyata bossku menelepon dari Jakarta. Ia mengharapkan bertemu aku pagi itu juga di suatu hotel untuk membicarakan masalah bisnis. Damn..I hate this.. kenapa sih orang harus membicarakan masalah bisnis di hari Minggu ? Sepeti ngga ada hari lain lagi… Kusampaikan berita buruk ini pada mbak Eva ketika Atika sudah kembali ke kamarnya. Kelihatannya rencana kami untuk melanjutkan petualangan kemarin terpaksa harus ditunda. Walaupun tampak kecewa, namun wanita itu tetap tersenyum “It’s OK honey.. don’t worry.. kita masih punya banyak waktu kan..” katanya sambil menepuk-nepuk pipiku dengan lembut.. Man.., aku benar-benar mulai menyukai perempuan ini.. di dadaku mendadak tumbuh suatu keinginan kuat untuk menyayangi janda cantik ini.. Heii c’mon..Fi.., you are dealing only with sex right?.. not love… !! ya itu betul …tapi itulah aku… aku lebih menikmati hubungan sex yang dilandasi oleh rasa sayang…kenikmatannya tidak hanya terasa secara fisik tapi juga.. mental.. rasa….. Hari itu praktis aku dan mbak Eva tidak saling jumpa karena akupulang larut..
Keesokan harinya aku bangun pukul 8 pagi dan langsung pergi ke kamar mandi. Seselesainya, dengan hanya dibalut handuk sebatas pinggang, aku berlari kecil menuju kamarku. Ketika melewati kamar mbak Eva yang
terbuka pintunya, kulihat ia sedang mematut di depan cermin tengah bersiap hendak ke kantor “Wow cantiknya..” Bebyaku sambil berdiri di ambang pintu kamarnya “mau ke mana mbak? kok formal amat?”mataku tak lepas dari tubuh ibu guruku yang sintal itu… “hi honey.. capek ya kemarin ? teganya kamu ninggalin aku sendirian… well ini baju seragam tutor kursus yang baru.. hari ini semua tutor harus memakainya.. gimana cantik nggak?” sambil tersenyum menggemaskan, janda cantik itu memutarkan tubuhnya di hadapanku memamerkan baju yang tampak pas pasan membalut tubuh montoknya itu.. aku mengangguk sambil tersenyum. Mbak Eva berhenti berputar dan menatap tubuh setengah telanjangku yang hanya ditutupi sebuah handuk.. mata bundarnya menatap sesuatu yang menonjol dari balik handukku di daerah selangkanganku “Wowww seksinya… sini dong masuk..” Bebyanya sambil menjulurkan tangan kanannya menyuruhku masuk “ah, ngga ah.. ngga enak sama Atika dan Amari.. ” jawabku sambil celingukan, takut pembicaraan ini terdengar oleh Atika atau Amari. Mbak Eva mendelikkan matanya seraya sekali lagi mengayunkan tangan kanannya ke arahku “Cck.. c’mon Fi.. do you think I’m nuts? Mereka udah pergi setengah jam yang lalu..ayo lah masuk..” melihat aku masih ragu-ragu, dengan tak sabar tubuh montok itu menghampiriku.. merapatkan tubuhnya ke tubuhku yang setengah telanjang.. melingkarkan tangannya di pinggangku…matanya menatapku dengan manja “honey.., mana morning kiss saya..?” sambil tersenyum kupeluk bahunya dengan erat.. kutundukkan wajahku.. dan dangan lembut kucium bibir ranum milik janda cantik itu.. mbak Eva tampak sangat menikmati ciumanku ini.. matanya terpejam.. nafasnya mendesah.. dan bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku.. jari jemari lentik guruku itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku.. penisku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang.. bagian bawah kepala penisku itupun langsung tergencet oleh perut mbak Eva yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku..jari-jemarinya mulai meraba kedua buah pantatku .. mula-mula rabaannya melingkar perlahan.. makin cepat.. makin cepat..sampai akhirnya dengan suara mendesah diremas-remasnya dengan penuh nafsu.. aku mencium dan menjilati telinga mbak Eva membuat tubuh janda cantik itu menggelinjang-gelinjang “ohhhhh Fi…. gellliii…ssssss….” kuturunkan bibirku dari kuping ….. menelusuri leher….. terus turun ke dada…. jari jemarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya mengecupi areal dadanya, jemariku membuka satu persatu kancing seragam kebanggaannya itu hingga terlihat belahan buah dadanya yang besar menyembul dari balik BH hitam tipis yang pernah kulihat di jumpa pertama kami. Kuteruskan membuka kancing bajunya hingga sebatas perut, lalu kuselipkan tangan kiriku ke balik cup BH kanannya, lalu kuambil buah dada besar itu keluar dari cupnya. Karena tali BH nya belum terlepas maka cup tersebut menahan bagian bawah buah dada itu.. sehingga bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah mukaku.. amboiii seksinya… tanpa mebuang waktu kulahap buah dada itu dengan gemas.. kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang itu.. Tiba-tiba tangan kanan mbak Eva berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu. Kulirik kaca lemarinya, disana terlihat badan tegpku yang bugil tengah menunduk menghisap buah dada wanita berbadan montok yang masih dibalut pakain kantornya. Di kaca itu pula kulihat mbak Eva mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku dan… slepp !! dalam sekejap penis besarku itu sudah berada dalam genggamannya. Ketika memegang penisku mbak Eva sekali lagi tak dapat menutupi kekagumannya.. karena ketika menggenggam kemaluanku jempolnya tidak dapat bertemu dengan jari-jarinya yang lain menandakan betapa besarnya diameter penisku itu.. Dengan lembut dan penuh perasaan ia mulai mengocok penisku.. ke atas.. ke bawah.. ke atas.. ke bawah.. ufffff… tak bisa ku ceritakan nikmat yang kurasakan di selangkanganku itu.. apalagi ketika sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala penisku.. “aaahhhh..mbaak..aaahhhhh.. ” aku hanya bisa mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati buah dadanya yang kedua-duanya kini telah kukeluarkan dari BH hitamnya. Sambil mencium, kulanjutkan membuka kancing bajunya sampai habis.. namun aku tak ingin menelanjangi perempuan ini.. aku ingin merasakan tubuhku yang bugil ini menyetubuhi seorang perempuan yang masih menggunakan pakaian kantornya.. wow bayangan sekajap itu mampu membuat sensasi yang sedemikian hebat membuat urat-urat penisku semakin menegang saja… Tiba-tiba mbak Eva mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang busanya dan ia sendiri kemudian berlutut di hadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu.. bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala penisku..kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi
dengan cairan lengket berwarna bening “honey..” suaranya yang serak terdengar sayup “I don’t know why I am doing this.. but to be honest with you.. saya belum pernah melakukan oral sex sebelum ini.. my ex husband did’nt like this.. so, please kasih tau saya kalau rasanya ngga enak.. ” Aku tersenyum dan menundukkan kepala untuk mencium bibirnya “It’s OK mbak.. jangan kawatir.. juast have it your way..” mbak Eva menyeringai mendengar kata-kataku yang mirip sebuah iklan itu.. Tiba-tiba ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya.. dan apa yang kurasakan berikutnya adalah kenikmatan yang tak terlukiskan..mbak Eva memasukkan dan mengeluarkan penisku di dalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala penisku itu.. “Aaaaahhh… Ouuhhhh… mbaaak.. its great.. mbak.. you’re doing it good.. ouhhh..” aku hanya bisa terduduk sambil mengerang nikmat dan mbak Eva tampak begitu menikmati penisku yang berada di dalam mulutnya sampai-sampai ia memejamkan matanya. Tangan kiriku kembali meremas-remas buah dada mbak Eva sedangkan tangan kananku menyibakkan rok bawahnya ke atas dan meraba pahanya yang mulus ke atas…. terus ke atas…. sampai tersentuh bagian bawah buah pantatnya yang dilapisi oleh CD tipis berwarna hitam. “Mmmh.. Mmmmhh…Emmhhhh..” rintihnya sambil terus mengulum penisku ketika kuraba-raba vaginanya dari luar CDnya.. mbak Eva semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tak keruan… deakan tak mau kalah, kumasukkan tanganku ke balik CDnya dari arah perut dan dengan mudah jemariku mencapai vagina yang sudah sangat basah itu.. begitu basahnya sampai-sampai terdapat noda basah di CD hitam itu. Dalam 3 detik kusibakkan bulu-bulu lebatnya itu dan jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas vagina guruku ini.. jari tengah dan telunjukku segera mengocok klit mbak Eva dengan cepat. “Mmmmmmhh.. mmmmhhh…aaaahhh..” mbak Eva melepaskan penisku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitnya. Sekitar 5 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba mbak Eva menengadahkan mukanya ke arahlu dan merintih “Fi.. honey.. please do it now..” Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya ku angkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya. Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin rias sehingga mbak Eva kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah. Kupeloroti CDnya hingga kaki, kurenggangkan kedua kaki mulusnya, dan kusingkap roknya.. lalu kugosok-gosokkan penisku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menulusuri tulang ekornya.. anus.. dan … kutempelkan di pintu belakang vaginanya. Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam vagina kecil yang sudah sangat banjir itu.. “aaaaahhhhh…” mbak Eva menggigit bibirnya menikmati centi demi centi penisku yang tengah memasuki vaginanya…. semakin dalam kumasukkan penis besarku itu.. semakin dalam.. “oooohhhh…hhoneyy..ooohhhh..” dan ..”AAAAAAKHH…” jeritnya ketika dengan keras kusodokkan penisku sedalam-dalamnya di vagina guruku yang cantik itu. “My Beby….” terdengar suara bisikan orang dengan nada takjub sekaligus ngeri datang dari arah pintu kamar mbak Eva yang sedari tadi memang terbuka.. suara seorang wanita… aku terkesiap karena kaget.. dengan hati-hati kulirik ke arah pintu masuk.. SHIT!! Kulihat Atika sedang mengintip perbuatan kami dari balik pintu sambil menjepitkan tangannya dengan kedua paha di selangkangannya .. sudah berapa lama dia berdiri disitu?? Oh man.. apa yang harus kulakukan ?? kulihat mbak Eva tidak menyadari kehadiran adiknya. Tampak janda cantik itu masih menggigit bibirnya menikmati besarnya penisku yang terbenam penuh di dalam vaginanya. Akhirnya aku mengambil keputusan.. let’s finish the ****ing first.. and deal with Atika later. Dengan segera kupompakan penisku dengan cepat dari arah belakang.. kutempelkan perut dan dadaku dipunggung perempuan itu dan kedua tanganku dengan keras meremas-remas danmemelintir kedua puting buah dada mbak Eva yang sudah sangat keras itu.. “ohhhh..ohh.. auuw.. honey.. jangan keras-keras ngeremesnya.. sakiitt..ouww..” rintihnya sambil terguncang-guncang oleh sodokan penisku. Dengan sigap kuturunkan tangan kananku untuk mencari klitnya yang segera kutemukan tanpa kesulitan. Dengan lincahnya kuputar dan kukocok kian kemari daging sebesar kacang itu membuat tubuh mbak Eva menggelinjang keras dan jeritannya terengar sampai ke luar kamar. Kulirik ke arah pintu kamar..Atika dengan ekspresi takjub dan terangsang memperhatikan aku menyetubuhi kakaknya dengan ganas. Atika tampak betul menikmati ketidak berdayaan kakaknya yang hanya diam dalam posisi menungging dan enjerit-jerit histeris menerima sodokan-sodakan penisku. Melihat ekspresi Atika dalam mengintip, akupun semakin bernafsu untuk memperlihatkan padanya bagaimana aku memuaskan nafsu birahi kakaknya. Tiba-tiba mbak Eva mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kamipun berciuman dengan posisi mbak Eva yang tetap membelakangi aku.. Karena ia menegakkan badannya, mbak Eva menaikkan kaki kirinya ke atas meja riasnya untuk memudahkan aku terus menyodokkan penisku. Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua buah dadanya. Tangan kiri mbak Eva menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Bulu ketiaknya yang lebat menyebarkan wangi khas yang membuat aku semakin bernafsu lagi. Saat itu aku benar-benar berada dalam kondisi full capacity. Semua anggota badanku digunakan semaksimal mungkin untuk mencapai puncak kenikmatan. Bibir mengulum, tangan meremas buah dada, dan penis memompa vagina. Tiba-tiba mbak Eva merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya mengekspresikan seakan-akan kesakitan, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremas buah dadanya untuk kembali memainkan klitorisnya, goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat tak terkendali, dinding vaginanya mulai terasa berdenyut-denyut, tiba-tiba “aaaahhh.. honey… honeyy… FIIII..SAYA kELUAAAARRR…AAAAAHHH..” Seketika itu juga aku merasakan penisku disiram oleh cairan hangat dan dinding vagina wanita berusia 40 itu terasa memilin-milin penisku.. mbak Eva melepaskan bibirnya dari bibirku, pinggulnya masih bergoyang dengan irama perlahan menikmati sisa-sisa orgasmenya, sambil memejamkan matanya ia tersenyum. “kamu bener-bener hebat Fi.. aku belum pernah mengalami sensasi seks seperti ini.. never…” Kembali aku melirik ke arah pintu, kulihat Atika masih mengintip dengan ekspresi bahagia bercampur iri. Bahagia karena ternyata kakaknya mendapat kepuasan sexual yang belum pernah dirasakannya selama ini, iri karena kakaknya mendapatkan kepuasan itu saat ini dan bisa memperolehnya lagi kapan saja sedangkan Atika masih harus menunggu sebulan lagi sampai suaminya pulang. Itupun kalau si suami bisa memuaskannya lahir batin. Terutama sesudah kasus di Dubai. Aku mencium pipi mbak Eva aku berbisik “Saya belum keluar mbak..” Perempuan itu membuka matanya dan memandangku dengan penuh kasih sayang “honey.. saya jamin.. kamu akan keluar dalam waktu tidak lebih dari 3 menit..” Ia mencabut penisku dari vaginanya dan membalikkan badannya. Kembali ia berlutut di hadapanku sambil mulai mengocok penisku “my Beby Fi… punya kamu ini kok keliatannya makin lama makin besar aja sih..” Kulihat Atika masih juga mengintip dengan mulut sedikit ternganga. Ia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya melihat besarnya ukuran penisku dibandingkan dengan jemari dan mulut kakaknya. Tanpa menunggu jawabanku, mbak Eva mulai mengulum dan menyedot penisku dengan cepat. Tangannya yang satu mengocok penisku dan yang
lainnya meremas-remas kedua bola ku. Kombinasi tangan, bibir, dan lidahnya ini benar-benar tidak mampu mebuatku bertahan lebih lama lagi. Kurasakan penisku semakin menegang.. semakin menegang…”mbaaak..saya..saya mau mbaak..” mbak Eva mempercepat kocokan dan sedotannya seraya mengangguk memberi tanda OK untuk memuncratkan maniku di dalam mulutnya. Aku mengerutkan alisku, wajahku menyeringai nikmat, mataku terpejam..”mbaaakk..saya ngga kuat lagi mbaakk..OAAAAAAHHHH” craaat..craaat.. craaat.. pada 3 muncratan pertama ini mata mbak Eva terbelalak ketika menerima muncratan maniku di dalam mulutnya.. tampak ia gelagapan sejenak karena belum terbiasa..beberapa tetes mani mulai mengalir keluar dari ujung bibirnya.. mbak Eva memejamkan matanya dan GLEK.. dia menelan semua mani yang ada di mulutnya..dan dengan cepat mengeluarkan penisku dari mulutnya seraya masih terus mengocoknya dan..crat..crat..crat.. 3 muncratan berikutnya mengenai mata, pipi, dan bibirnya.. kulirik Atika ternganga melihat kakaknya yang berusia 40 tahun itu bisa dengan buasnya menjilati air mani seorang bekas muridnya yang baru seminggu tinggal di rumahnya. Kulihat Atika meremas buah dadanya sendiri beberapa kali sebelum ia menyelinap dan hilang dari pandanganku. Aku mengangkat tubuh mbak Eva dan kupeluk ia erat-erat “I think we need to hurry.. we’re getting late..” bisikku. “Yes you’re right.. honey… saya pergi duluan ya… see ya tonight ” janda montok itu mengedipkan matanya sambil membenahi bajunya. Aku bergegas keluar sambil memikirkan Atika. Bagaimana aku menjelaskan semua ini padanya ? Aku masuk kembali ke kamar mandi untuk take the second shower .. sayup-sayup terdengar teriakan mbak Eva “honey… saya duluan ya.. byeee..” lalu terdengar suara mobilnya keluar dari garasi. Sambil menikmati siraman air hangat beberapa skenario penjelasan keluar di benakku tapi tak ada satupun yang kelihatannya masuk akal untuk Atika.. tapi..wait a minute… kenapa aku harus menjelaskan padanya? kenapa tidak melibatkannya saja sekalian dalam permainan ini… dan dia punya alasan untuk melakukan ini.. kesepian…. suami pengkhianat….. YES!! THAT’S THE ANSWER !! Cepat-cepat aku menyelesaikan mandiku kemudian dengan mengenakan handuk di pinggang aku berjingkat menuju kamar Atika. Aku yakin ia ada di dalam. Kuintip dia dari jendela.. YES.. dia ada di dalam.. tapi apa yang sedang dilakukannya..? Tampak Atika tidur membelakangiku menghadap lemari kaca. Kuperhatikan dengan seksama tubuh tinggi semampai mirip Dian Nitami itu. Baru kusadari bahwa Atika memiliki tubuh yang sangat menggairahkan. Tinggi semampai, kulit putih dengan otot kencang tanpa kerutan, wajah manis, buah dada sedang dan ketat, pinggul besar…..BOY.. I really.. really want her.. and I mean..NOW… tanpa sadar penisku kembali berdiri tegak. Dalam hati aku mengutuk suami Atika..Stupid husband !! Sudah punya istri begini cantik dan menggairahkan, masih saja cari-cari di luar… (untung aku berlum menikah.. jadi bisa maki-maki seperti itu..). Sambil berbaring Atika menggesek-gesekkan kedua pahanya. Ia juga memasukkan jari tangan kanannya ke dalam CD tipisnya yang berwarna pink. CD nya terlihat karena rok mini hitamnya telah melorot sampai di bawah pinggul. Dari kaca di hadapannya kulihat tangan kiri Atika sambil memejamkan matanya sedang meremas-remas buah dadanya yang sedang namun penuh terisi sambil sesekali memilin-milin puting merah jambunya yang terlihat tegang berdiri itu.. Beby.. rupanya ia sedang bermasturbasi untuk menyalurkan birahinya yang bangkit akibat melihat aku menyetubuhi kakaknya. Hmm perfect time.. pikirku. Diam-diam aku masuk ke dalam kamarnya dan dengan berjingkat mendekati kasur busanya. Kujatuhkan handukku sehingga dalam waktu sedetik aku sudah dalam keadaan telanjang bulat dan penisku sudah berdiri dengan gagah perkasa menanti tempat untuk berlabuh.Lapat-lapat kudengar istri kesepian itu merintih seirama dengan gerak tangannya di selangkangan. Secepat kilat dan tanpa terdengar aku berbaring dibelakangnya, menyusupkan tangan kiriku melalui kepala kirinya untuk memiting lehernya dengan siku sebelah dalam. Bersamaan dengan itu, dengan tak kalah cepatnya aku menyusupkan tangan kananku ke dalam CD Atika, meminggirkan jermarinya dengan paksa, dan mulai mengocokkan jari tengah dan telunjukku di klitnya yang sudah sangat membengkak itu… “WAAAAAAA” Atika menjerit kaget melihat tubuhnya dipiting oleh seorang laki-laki bugil yang tangannya kini tengah mempermainkan klitorisnya. Ia pun terlihat shock ketika penis besarku menggesek kulit punggungnya yang putih mulus itu “R..Rafi !!! NGAPAIN KAMU !!” bentaknya sambil merapatkan kedua pahanya dan berusaha menarik tangan kananku yang semakin cepat mempermainkan klit dan vaginanya yang sudah banjir tak keruan itu.. Tangan kiriku yang kupergunakan untuk memiting dengan cepat kuturunkan ke arah dadanya dan dengan sigap meremas kedua buah dadanya yang nampak ranum dan telah terlepas dari BH pink nya. Puting nya yang berwarna merah jambu kecoklatan itu sudah menegang pertanda birahinya sudah sampai di puncak “OUH..bangsat kamu Fi.. BANGSAAAT..” makinya sambil meronta-ronta mencoba melepaskan dari pelukanku, remasanku di kedua buah dadanya, dan kocokanku di klitorisnya “leppaskan aku.. LEPASKAN !!” “Aku akan melepaskan kamu kalau kamu jawab pertanyaanku” Aku berbisik sambil menempelkan pipi kiriku ke kupingnya “Berapa lama kamu mengintip kami tadi..?” Atika terkejut dan menghentikan rontaanya, sehingga tanpa sadar pinggulnya mulai bergerak menahan rasa geli dan nikmat atas kocokan jariku di klitorisnya “Jawab Tika…” kataku sambil mulai menjilati telinga kanannya. Atika meringis kegelian. “Sejak.. sejak dia menghisap barangmu pertama kali…” SHIT ! So she saw the whole thing !! Tiba tiba tubuh Atika kembali meronta dan ia menjerit “You bastard.. you.. you ****ed my sister !!” Perempuan
ini rupanya tidak gampang menyerah.. harus ada sedikit shock therapy. “YES, I ****ED HER !! I ****ED YOUR SISTER !! But I ****ed her because she needed it… she wanted it ..so bad .. AS BAD AS YOU DO !!!” bentakku sambil dengan kasar sambil menurunkan CD nya dan dengan bantuan kaki kulempar CD itu ke lantai. Atika tampak shock mendengar kata-kataku ini badannya bergetar menahan emosi sedang matanya terlihat membenarkan perkataanku itu. Ia menghentikan rontaannya. Dengan cepat kuletakkan kembali jemari kananku di vagina adik mbak Eva itu dan.. .”AAAUWW..” Atika menjerit sambil menggigit bibirnya ketika kutusukkan jari tengahku ke dalam vaginanya. Ia meringis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.. “No.no..Fi.. you can’t do this.. I AM MARRIED !!!”"Yes you’re right Tik.. you’re married.. dan sementara kamu kesepian disini.. suamimu berpesta pora dengan isteri orang di tempat lain.. wake up Tika.. wake up.. kamu begitu sering kesepian..begitu sering dikhianati.. dimataku kamu terlalu cantik dan terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini oleh suamimu.. you don’t deserve this..” Atika terdiam tak ada lagi perlawanan dalam dirinya.. ia memejamkan matanya rapat-rapat..di ujungnya terlihat air mata menetes selama 5 detik..yang kemudian dihapus oleh tangannya sendiri… sesaat kemudian seraya masih menggigit bibir, pinggulnya mulai bergelinjang seirama dengan tusukan-tusukan tanganku di vaginanya. Terdengar bunyi kecipak pertanda vaginanya sudah dalam keadaan yang sangat banjir..Aku yakin, air matanya itu adalah air mata dendam pada suaminya yang menerlantarkan dan mengkhianatinya…bukan karena perlakuanku padanya saat ini… Tampak Atika menahan nafasnya ketika kumasukkan juga jari telunjukku ke dalam vaginanya “ssssshh… ssssshhh..” desisnya tanpa memberikan perlawanan lagi.. YESS dia mulai menikmatinya.. Aku mulai menciumi lehernya.. menjilati kuping kanannya… Tubuh Atika mulai menggelinjang geli.. “Atika sayang..” bisikku lembut “Gimana kalau untuk sementara kamu melupakan bahwa kamu isteri orang ? Pikirkan saja tentang kesendiranmu.. kesepianmu.. sakitmu karena dikhianati.. kamu butuh belaian laki-laki Tika.. persis sperti kakakmu dan kamu berdua memiliki aku… you can share right ? You have nothing to loose…” Sambil berkata demikian ku arahkan penisku ke pintu vaginanya. Dari arah belakang kutempelkan kepala penisku tepat di bibir dalam vaginanya.. Atika terkseiap, kurasakan otot-otot badannya menegang.. ia menoleh ke arahku dengan pandangan memohon.. “Fi.. please… not now…a..aku masih ragu.. aku takut..” “takut apa non..?” tanyaku mesra seraya mulai memasukkan kepala penisku ke dalam vaginanya dan kuputar-putar di dalamnya.. “HHH..Fi…g.ggellii..j..jangan Fi.. please..” bisiknya memelas bercampur dengan rintihan kenikmatan “a..aku takut karena aku belum pernah nyeleweng.. ouhh..” Aku terus memutar kepala penisku di dalam vaginanya sambil ku dorong milimeter demi milimeter.. “Fi..ouh..please.. jangan dulu j..jangaAAAAKHHH…AAAAAHH..!!!” Atika menjerit keras ketika dengan sekali sodok kuamblaskan penis raksasaku ke dalam vagina yang ternyata lebih kecil dari milik kakaknya. Kulihat mata Atika terbelalak..mulutnya ternganga.. wajahnya mencerminkan rasa terkejut bercampur cemas.. nafasnya semakin memburu.. buah dadanya bergerak naik turun dengan cepat.. “Tika..” bisikku mesra “Setelah ini kamu tidak akan pernah berpikir lagi bahwa kamu isteri orang..” Aku mulai memompapenisku perlahan-lahan.. kemudian makin cepat.. makin cepat.. “Aahhh.. Fi.. pelan-pelannn.. pelan-pelaannn.. punyamu besar betul..aku takut sakiit,, Ufff.. no wonder Eva loves to suck it sooo much…” Selepas 5 menit Atika mulai menaikkan paha kanannya untuk memudahkan goyanganku… dan rintihannya sudah berubah menjadi erangan-erangan keras.. ia pun sudah membiarkan tanganku dengan bebas meremas-remas buah dadanya dan memelintir putingnya yang ternyata lebih kencang dari kakaknya.. Ooohh Atika.. akhirnya menyerah juga kamu.. gerakan-gerakan Atika mulai terlihat rileks dan natural namun suasana tegang akibat pemaksaanku di awal permainan ini ternyata belum cair. Well keliatannya aku harus membuat suasana yang enjoy untuk kedua belah pihak.. Tiba-tiba kuhentikan pompaanku dan kukeluarkan penisku dari vaginanya. Atika menoleh ke belakang menatapku dengan pandangan bertanya-tanya “W..why ?” “You want me to stop..? I don’t know.. may be for some reason.. ya know..” pancingku sambil tersenyum mengBebya.. Atika menyeringai lebar.. belum pernah kulihat ia tersenyum semanis itu.. kubalikkan badan Atika, kupegang kedua pipinya, kudekatkan wajahke ke wajahnya… lalu dengan lembut ku kecup bibirnya yang mungil itu ?Tika..” bisikku dengan suara serak “Aku akan menggantikan suamimu selama dia tidak disini.. dan tak akan kubiarkan kamu sendirian dan kesepian lagi..” Atika menatapku dengan pancaran mata penuh kebahagiaan “Promise..?” tanyanya sambil terus menatapku. Hening sejenak sebelum aku menjawab dengan mantap “I promise !” Tiba-tiba Atika merangkul leherku dan mencium bibirku dengan buas membuatku sempat gelagapan sejenak.. bibirnya yang mungil itu melumat bibirku dan lidahnya menjelajahi seluruh rongga mulutku. Nafasnya yang mendengus-dengus bercampur dengan rintihan kenikmatan ketika buah dadanya bergencetan dengan dada bidangku. Dengan tak kalah buasnya ku dorong tubuh Atika sehingga terhempas di atas kasur lalu dengan sekali renggut kubuka baju dan BH nya yang memang sudah hampir lepas sedari tadi. Atika pun dengan tak kalah cepatnya melepaskan roknya dan melemparkannya ke lantai sehingga kami berdua sudah dalam keadaan bugil. Dengan segera kutindih tubuh sintal wanita berparas mirip Dian Nitami. Kami dengan buasnya saling berciuman, menggigit, menjilat telinga, leher, dan puting.Suara-suara kecupan dan rintihan terdengar riuh di dalam kamar bernuansa biru muda itu. Air liur kami berceceran di seluruh tubuh. Tak kusangka gaya bercinta Atika seperti itu … beda sekali dengan kakanya yang halus dan lembut.. Atika dalam menyalurkan birahinya cenderung berperilaku histeris. Ini terbukti dengan jeritan-jeritannya dan gerakan-gerakan tubuhnya yang nyaris tak terkontrol. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi kutempelkan kepala penisku di liang vaginanya dan dengan sekali tojosan penisku tenggelam di dalam vagina berbulu lebat itu.. “OAAHHH.. besar sekali.. **** ME HARD FI.. **** ME HARD !!!” jeritnya histeris. Tanpa basa basi aku memompakan penisku dengan keras dan cepat ke dalam vagina kecil itu. Tubuh langsing Atika terguncang-guncang dan buah dadanya tampak terlempar ke kiri dan ke kanan. Paha atasku berbenturan dengan pantat Atika menimbulkan suara yang berirama cepat…”plak..plak..plak..plak..plak..” Aku terus memompa sambil mengulum kedua buah dadanya. Pompaanku ini terus berlangsung selama 5 menit. Tiba-tiba aku merasa seluruh syarafku menegang..penisku mulai berdenyut-denyut “Tika.. I think I am gonna cum..” erangku sambil mempercepat sodokanku. Atika memelukku dengan erat dan mencium bibirku sekuat-kuatnya .. pinggulnya berputar-putar semakin cepat juga “Mmmph.. me too…hh.. me too..hhh.. emphhh… emmmph.. EMPHHHHHHH FIIIIII” jeritnya seraya memanggil namaku ketika kurasakan seluruh otot perempuan itu menegang. Atika mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menyemburkan cairan hangat di dalam vaginanya ..disaat yang hampir bersamaan aku menyemprokan cairan maniku ke dalam vagina kecil yang sudan sangat becek itu.. selama kurang lebih 5 menit kami bertindihan
dengan lemas menikmati sensasi-sensasi seksual di seluruh tubuh kami.. ketika aku mengangkat wajahku tampak wajah Atika bersemu merah tanda ia mencapai kepuasan yang tiada taranya.. bibirnya menyunggingkan senyum dan matanya masih terpejam. Aku mengecup bibirnya “puas Tik?” Atik membuka matanya seraya menghela nafas “Kamu benar-benar seperti oase di padang pasir buatku Fi.. thanks to open my eyes..” Kami berdua berbaring dan berpelukan dengan mesra untuk beberapa saat “Tika.. I hate to say this.. but I have to go to the office..” “No Fi.. please.. not until I taste your cum.. like what Eva had..” Bisiknya sambil tersenyum. Aku tertawa. My Beby..this girl.. setengah jam yang lalu ia masih meronta-ronta menolakku.. tapi sekarang malah minta nambah… dasar.. “Lunch time OK?” aku bergegas ke kamar mandi lagi.. Another shower !! Siang itu aku sengaja pulang ke rumah untuk lunch dan memuaskan birahi Atika yang ternyata sangat besar.. hampir aku tak percaya bahwa perempuan yang berlibido nyaris seperti seorang penderita hipersex itu bisa menjalani hidup tanpa sentuhan lelaki selama 4 bulan berturut-turut. Siang ini, aku memenuhi permintaan Atika untuk menyetubuhinya di atas meja dan di bawah pancuran air kamar mandi. Dan… tentunya, seperti permintaannya, kubiarkan dia menelan habis maniku ketika ia membuatku orgasme dengan kepiawaian oral sexnya…
Pembaca setia, tentunya anda bertanya-tanya bagaimana aku memanage hubunganku dengan mantan guruku mbak Eva dan adiknya Atika. Sehari sesudah permainan histerikku dengan Atika, mbak Eva menemuiku. “Atikatold me what you did to her yesterday..” Kata-kata singkat itu di ucapkan dengan nada bergetar menahan emosi. Aku betul-betul lemas mendengarnya.. yah.. kejadian juga.. bisa-bisa malah aku kehilangan mbak Eva karena perbuatanku ini.. Akhirnya aku mengusulkan untuk melibatkan Atika dalam pembicaraan ini yang akhirnya membawa kami bertiga pada suatu diskusi paling terbuka yang pernah aku alami. Mbak Eva, Atika , dan aku saling membagi perasaan kami dengan apa adanya, tanpa basa-basi, tanpa maksud terselubung.. luar biasa !! keterbukaan ini, ajaibnya, membuat perasaan kasih sayang diantara kami semakin kuat. Akhirnya kami sepakat, bahwa dalam seminggu 2 hari waktuku untuk mbak Eva, 1 hari kosong, 2 hari berikutnya untuk Atika, dan 2 hari sisanya kosong. Karena hubungan kami ini murni hubungan sexual, maka sengaja kami masukkan hari-hari kosong untuk memberi kesempatan tubuhku beristirahat. Tapi ya… dalam praktek sih.. itu terserah aku.. kalau aku sedang mood untuk permainan kasar.. ya aku temui Atika.. kalau sedang mood permainan lembut.. ya aku temui kakaknya.. GILA ! Ini memang pengalamanku yang paling gila !! But its REAL !!!
“Buka mulutnya dong mas Rafi..” Amari menyodorkan sepotong kue ke
mulutku. Aku menyambutnya sambil pura-pura menggonggong sehingga membuat
anak gadis mbak Eva itu tertawa geli melihat tingkahku. Hari ini genap sudah
sebulan aku tinggal di keluarga mbak Eva. Seminggu terakhir ini load
pekerjaanku agak berkurang sehingga hari-hari ‘kosong’ ku selain kupergunakan
untuk memberi kepuasan ‘extra’ pada mbak Eva dan Atika (’kan hari
‘kosong’ mestinya istirahat..), juga kupergunakan untuk mengenal Amari
lebih dekat. Anak gadis yang semula kutaksir berusia 18 tahun itu ternyata
berumur 21. “Mama memang kawin muda.. dia melahirkan Ria ketika berumur 19
tahun..!! Hebat ya ” Katanya ketika kutanya usia sesungguhnya. Ya, aku
tahu kalau mamamu hebat Amari.. mamamu dan tantemu adalah wanita-wanita yang
hebat di atas ranjang.. hebatnya lagi, mereka bisa menutupinya darimu….”Kalau
kamu sendiri gimana ?” tanyaku memancing “Yaaa.. yang penting
kuliah selesai dulu.. tapi, ngga juga sih.. namanya juga jodoh.. kita
ngga pernah tau.. kalau besok tiba-tiba datang seorang pangeran tampan yang
kaya raya dan baik hati lalu melamar Ria ? Masak nolak?” “Kalau gitu
kuliahnya ngga selesai dong..”"Lho mas ini gimana, ya kasih syarat dong.. boleh
kau melamarku tapi biarkan aku menyelesaikan studi ku.. gitu looo..”
Amari memang anak yang sangat cerdas. Buktinya tahun depan ia akan
meraih gelar insinyur di IPB. Dengan pengetahuannya yang luas ia selalu
menjadi teman diskusi yang menyenangkan ditambah lagi dengan sifat keibuan dan
perhatiannya yang tinggi pada orang lain, membuat Amari menjadi
sosok ideal bagi setiap pria untuk dijadikan seorang pendamping hidup..
Oh satu lagi.. soal fisik ! Tubuh Amari adalah kombinasi antara mbak Eva
dan Atika. Tubuhnya tinggi semampai, ukuran buah dadanya persis
seperti ibunya dan jauh lebih kencang dan ketat, maklum… perawan. Gadis ini
juga mempunyai hobi mengkoleksi BH yang bentuknya aneh-aneh… entah
dari mana didapatnya itu.. Seperti saat ini karena ia mengenakan kaos
komprang bergambar Tweety favoritnya maka bila lengannya diangkat, maka
terlihatlah buah dadanya yang besar itu dibalut oleh BH nya yang bermodel
bikini dimana cupnya berbentuk sarang laba-laba sehingga kulit buah
dadanya yang putih itu dapat terlihat. Putingnya ditutup oleh gambar seekor
laba-laba kecil. Bila sedang bercerita dengan semangat, tampak gundukan
besar itu bergoyang-goyang. Wuih.. syurr juga aku dibuatnya. Urusan wajah,
Amari lebih mirip ayahnya yang asli Solo. Kalau dicari bandingannya
raut wajahnya bisa dimirip-miripkan dengan Widi AB THREE. Hanya saja,
hidung Amari lebih mancung dan tubuhnya lebih tinggi dan seksi. Secara
keseluruhan, Amari jauh lebih menarik dibanding Widi. Terus
terang, aku betah duduk berlama-lama di dekatnya.. “So, gimana Fi ? Bisa ngga kamu nganter si Ria survey ?” mbak Eva
bertanya seraya memberikan piring penuh dengan nasi hangat kepadaku. Sore
itu aku ia mentraktir seluruh keluarganya karena mendapat promosi menjadi
direktur program di kursus bahasa Inggris tempatnya bekerja. “Iya mas, Ria
harus survey tentang pola tani di daerah perbukitan. Ini juga baru
survey lokasi kok.. belum penelitiannya.. jadi paling lama cuma makan waktu 2
hari..” Seekor kucing kelaparan tentu tak akan menolak diberi ikan asin.
Dan bagiku, Amari adalah ikan kakap !! “Sure.. ngga masalah.. kapan
kita berangkat ?” Tanyaku enteng.. “Gimana kalo malam ini juga mas…”
“Malam ini ?” seruku be rsamaan dengan Atika. Mbak Eva tak kuasa untuk menyembunyikan senyumnya. Ia mengerti, karena malam ini seharusnya aku adalah ‘jatah’ Atika. Dan hari Senin, suami Atika akan pulang
dari Dubai. “Iya, malam ini, supaya Minggu sore kita sudah sampai lagi ke
Bogor.. soalnya kalau Minggu pulangnya kemalaman, kasian mas Rafi.. Senin
kan harus ngantor… gimana mas ?” Amari memandangku dengan kerlingan
mata bundarnya yang indah.. “I don’t mind.. lets go then..” jawabku
seraya melirik Atika. Istri kesepian itu tak dapat menyembunyikan
kekecewaannya. Alisnya mengkerut, bibirnya merengut, dan matanya menatapku
kesal. Well.. I am sorry my dear.. keliatannya aku harus mengecewakanmu nanti malam…
Aku berjalan sambil menggendong ransel tentara di pundak. Aku dan Amari tengah menyusuri sebuah sungai yang terletak 60 km di selatan
Bogor. Kami sedang bersiap-siap melintasi sungai itu untuk mencapai desa Batu
Sumur yang terletak di areal yang berbukit-bukit. Dari deskripsi yang
diberikan oleh dinas pembinaan desa Pemda Jawa Barat, desa tersebut
tampaknya ideal untuk proyek penelitian akhirnya Amari. Masih terngiang bisikan
mbak Eva ketika melepaskan kepergian kami “Fi.. promise me.. please don’t
touch her.. she is still a virgin.. “. Saat itu aku hanya tersenyum..
dan aku bersyukur bahwa I don’t give my word to Eva, karena semakin lama
berdua dengan Amari, semakin sexy penampilannya dimataku.. (dasar mata
keranjang… susah..!!) “Wah, jembatan kayunya masih 2 km lagi
dari sini mas..” Ria menunjuk lokasi jembatan itu di peta “Tapi jembatan
tali sudah keliatan.. tuh dia..” Gadis manis itu menunjuk ke sebuah jembatan
darurat terbuat dari tali tambang yang disimpul erat. Kuperhatikan wajah
manis yang menggunakan topi tentara, kemeja lapangan berwarna coklat,
dan celana pendek komprang dengan warna yang sama. Kemeja itu tak dapat
menyembunyikan keindahan tubuhnya. Di bagian dada tampak
kancing-kancingnya agak tertarik karena desakan dua buah dadanya
yang besar itu (kutaksir sekitar 36..). Namun karena badannya yang
tinggi (sedikit lebih pendek dariku yang 176 cm..) bentuknya jadi
proporsional.. dan indah…. titik-titik keringat berkumpul di ujung hidung
mancungnya.. bibirnya yang mungil nampak kering oleh panasnya udara.. kain di
sekitar ketiaknya basah oleh keringat. Aku memandang jembatan tali itu
dengan agak kawatir.. “Apa kuat menahan beban tubuh kita ? Apa tidak
sebaiknya kita pergi menuju ke jembatan kayu ?” tanyaku sambil melihat potongan
ilalang dan bercak tanah merah yang menempel di betis dan pahanya yang
mulus itu. “And walk for another 2 Kilo ?.. hmm.. mas Rafi..sebentar lagi
kayaknya mau hujan deh.. jadi kita harus cepat-cepat, no risk no gain..”
katanya sambil tersenyum. Benar juga. Soalnya dari sungai itu kita masih
harus jalan 5 km lagi untuk sampai ke desa. Tampak tangannya membuka
kancing kemejanya yang ke satu dan kedua.. sehingga putihnya gundukan
besar buah dada itu terlihat olehku. Udara mendung sore itu semakin terasa
gerah saja.. “Ok kalau begitu biar aku dulu yang nyeberang.. baru
kamu.. sungainya juga keliatan ngga terlalu dalem kok.. ” kataku seraya menapakkan kakiku di jembatan tali itu.. Aku merayap
perlahan-lahan.. memang tali itu sangat kokoh sehingga kekhawatiranku berkurang..
“Mas.. Ria juga naik ya …. talinya kuat kan.. ” Tanpa menunggu
jawabanku, gadis bertubuh tinggi sintal itu mulai merayap di belakangku.. tali
mulai bergoyang-goyang.. ingin aku berteriak untuk menyuruhnya kembali,
namun kuurungkan karena kawatir ia terkejut.. geraknya semakin cepat ke
arahku yang masih menunggu.. tiba-tiba kaki gadis itu tergelincir…
badannya yang dibebani ransel kehilangan keseimbangan dan.. “Mas..
AAAAAAAAIII… ” BYUUURRRR.. Amari tercebur ke dalam sungai berwarna coklat itu..
Aku terkejut melihat gadis itu menggapai-gapai.. My Beby..Amari
rupanya tidak bisa berenang !! Tanpa pikir panjang kulempar ranselku dan terjun
ke sungai. Tanganku memeluk lehernya dari belakang dan kuseret ke
sisi tujuan kami. Tubuh Amari terasa berat karena ia masih membawa ransel.
Amari megap-megap dengan wajah pucat karena terkejut. “Ngga apa..ngga
apa..its OK.. you’re save now..” Kataku sambil memeluk erat tubuh sintal
Amari.. wouww.. dalam suasana panik seperti itu masih juga dadaku terasa berdesir.. benar-benar montok tubuh perawan ini terasa dalam
pelukanku.. dengan spontan kucium keningnya untuk menenangkan Amari yang
masih pucat dan gemetar karena kaget. Tetesan air dari langit perlahan
mengetuk-ngetuk muka kami.. dan dalam 1 menit hujan turun dengan lebatnya diikuti
oleh kilat yang menyambar.. What a day… aku melepaskan pelukanku dan
menyapu sekelilingku dengan pandangan.. ahhhh thank Beby, kuliat sebuah
gubuk kira-kira 200 m di depan kami. “Amari.. disitu ada gubuk” kataku
riang “ayo kita kesana..” kuangkat tubuh gadis itu dan kupapah menuju
gubuk itu. Gubuk itu rupanya tak berpenghuni. Perfect! lalu kubuka ransel
Amari. Hanya ada bivak untuk bermalam dan kaleng makanan dan minuman..
shit.. pakaian kering ada di ransel satu lagi yang kulepaskan ketika
terjun ke sungai.. dan ransel itu seingatku juga tercebur ke dalamnya.. ya
nasib.. akhirnya ku bentangkan bivak sebagai alas duduk, dan kududukkan
Amari di atasnya “ahhhh…” terdengan gadis itu menghela nafas lega seraya tersenyum “mas Rafi.. thanks ya Ria udah ditolongin…” Aku balas
tersenyum “its OK non.. lain kali lebih hati-hati ya ..?” Lalu
kubuka bajuku dan menggantungnya di tali jemuran tua yang masih ada di
dalam gubuk itu. Amari memandang tubuhku yang cukup atletis itu
terlihat pandangannya menyapu perlahan dari otot leherku.. otot dadaku
yang bidang.. otot perutku yang berbentuk kotak-kotak kecil….
pusarku yang mulai ditumbuhi bulu.. semakin kebawah.. dimana bulu-buluku makin
lebat… kebawah lagi… dan berhenti di tonjolan di balik celana pendekku
… Aku agak kikuk juga melihat penisku yang berdiri karena udara dingin.
Apalagi sambil dipandangi oleh mata cantik milik Amari itu. Entah apa
yang dipikirkannya… tiba-tiba kulihat Amari terbelalak melihat
pahaku “adduhh mas.. ada LINTAH !!” serunya sambil bangkit dan mendekat ke
pahaku. Akupun panik dibuatnya. “sebentar mas.. jangan bergerak.. ini ada satu..
dua..” lalu dengan serius ia berputar ke belakang, ke depan lagi..
tangannya tanpa sadar menyingkapkan celanaku yang cukup longgar semakin ke atas..”nah.. ada satu lagi mas..hhhhh” mendadak ia seperti hendaktersedak ketika matanya tertumbuk pada CD ku yang basah kuyup sehingga tak
kuasa menutupi testis dan batang penisku yang jelas tercetak di kain
basah itu. Mungkin seumur hidup, perawan itu baru sekali ini melihat testis
dan batang penis yang tengah berdiri tegak itu.. Aku yang masih
memusatkan perhatianku pada lintah-lintah di pahaku itu dengan polosnya
membuka celana pendekku dan memelorotkannya ke lantai “Ria.. tolong liat
lagi apakah masih ada lintah yang nempel di kakiku ?” Mata Amari makin
terbelalak, karena kini terlihat benar bentuk batang penisku yang
tengah berdiri itu dari luar CD basahku.. bahkan belakangan baru
kusadari kepalanya yang laksana helm perang dunia II itu menyembul keluar
mengarah ke pusar. “Emmm.. emmmm.. ngga deh mas.. cu..cuman tiga..”
jawabnya tergagap sambil terus menatap kepala penisku. Aku masih juga
belum ‘ngeh’ akan situasi yang sebenarnya bisa menjadi ‘opportunity’ … masih
dengan naifnya aku berkata pada anak mbak Eva itu “Ria.. jangan-jangan
di tubuh dan kakimu ada juga lintah menempel.. sebaiknya kamu periksa
dulu..” Mendengar itu Amari langsung berdiri dan bergegas membuka kemeja
basahnya. Dibukanya kancing kemejanya yang ketiga.. (belahan buah dadanya
semakin jelas..) keempat.. (buah dadanya sudah terlihat lebih jelas..
putih warnanya di bawah cahaya matahari menjelang senja..) dan
terakhir..Amari membuka bajunya dengan kedua tangannya ke samping.. di saat
itulah aku melihat kedua buah dada besar berukuran 36 itu menggelantung
menantang untuk di jamah. Dan BH nya… my Beby… model BH nya..!!! Amari
menggunakan BH berwarna merah dengan bentuk bikini yang talinya
hanya selebar 1/2 cm !! Tapi yang membuat kepala penisku semakin
menyembul dari CD ku adalah penutup putingnya yang terbuat dari bahan transparan
berbentuk bibir Mick Jagger. Akibatnya, mataku dapat melihat
dengan jelas puting berwarna coklat kemerahan itu berdiri tegak di tengah
dinginnya hujan. Karena terburu-buru melepaskan, pakaian Amari tersangkut
di kedua sikunya di belakang punggungnya. Gadis itu menggoyang-goyangkan
tangannya untuk bisa segera terbebas dari belitan bajunya. Akibatnya, buah
dadanya bergeletar dan bergayut ke kanan dan ke kiri. Getarannya persis
seperti getaran puding besar yang diguncang piringnya. Aku mulai
terangsang melihat gadis setengah telanjang itu menggeliat-geliat di
hadapanku. Kembali terngiang pesan ibunya di telingaku.. “Fi.. promise me..
please don’t touch her.. she is still a virgin.. “. Kembali kulihat buah
dada besar dengan putingnya yang bergelayut itu… Ou what the hell…kuhampiri tubuh mulus itu dan kuputar sehingga ia membelakangiku
“Sini kubantu Ri..” tanganku menarik bajunya hingga terlepas. “Sorry
Ria.. ini supaya cepat..” kutempelkan dada dan perutku di punggungnya yang
polos itu.. kujulurkan tanganku seakan memeluk perut depannya.. dan
tanganku membuka celana pendek komprangnya dan dengan cepat menurunkan
resleting. Ketika resletingnya sudah mencapai dasar dengan sengaja kutekan
resleting itu bersama jari-jariku ke selangkangannya “Ahhhh… mas Rafi…”
desahnya sambil melirik ke belakang dengan pandangan merajuk. Saat itu
praktis aku memeluk tubuh perawan itu dari belakang. Bagian depan tubuhku
kutempelkan ke punggungnya. Penisku yang semakin besar itu dengan tenangnya
berlabuh di belahan pantat Amari yang sekal itu.. Gadis itu rupanya merasa
bahwa penisku menempel di belahan pantatnya tiba-tiba aku merasakan
bahwa Amari sengaja menggerakkan otot pantatnya sehingga kedua buah pantatnya
bergerak menjepit penisku.. aaaawww.. nikmatnya… yess keliatannya gadis
ini sudah mulai terpengaruh suasana… saat itu pipi kananku menempel di
kuping kirinya. Dari balik punggungnya kulihat ke bawah buah dadanya
yang besar dan ketat itu berbentuk kerucut dengan putingnya yang sudah
menonjol.. entah karena dingin… atau karena suasana… “Ria..” bisikku
dengan serak.. “jangan panik ya.. di dada sebelah kiri kamu ada lintah..
Ria tercekat.. dengan raut muka ketakutan ia memandang buah dada
kirinya dan..”Iiiiiiih… mas… jijik.. buangin dooongg..” “ya..ya..
biar aku periksa dulu lainnya.. supaya yakin ada berapa lintah yang ada di
tubuh kamu..” Akupun melepaskan celana pendeknya, sehingga saat itu..
kami dua orang anak manusia berlainan jenis, berpelukan dengan hanya
memakai pakaian dalam. Bentuk CD Amari lagi-lagi lain dari pada yang
lain.. bentuknya sih standar.. tapi di daerah vaginanya ditutupi oleh
kain bermotif jaring, sehingga otomatis dari jaring itu keluarlah
bulu-bulu keriting yang sangat lebat itu.. nafsuku sudah naik ke kepala.
Aku sudah tak peduli dengan pesan-pesan ibunya… di dalam pikiranku
sekarang cuma ada satu kata.. “Perawani !!”. Tanganku mulai meraba-raba
punggungnya dari atas.. ke bawah…melewati pinggang.. pantat… buah pantat
kanan.. “mas…apa ngga bisa dilihat aja ? kalau diraba kan geli..”
ujarnya tersenyum.. belum juga bisa kutebak senyum itu.. apakah artinya..teruskan… atau..stop..!! “biar yakin aja Ria.. ” kataku sambil
meneruskan rabaanku ke buah pantat kiri.. lalu kutelusuri belahan pantatnya ke bawah.. melewati anus.. terus ke selangkangan.. dan
kutekan tanganku di vaginanya “Aaaaaa.. mas Rafi aaa.. tangannya kok
nakal.. nanti Ria marah nih..” Lagi-lagi anak mbak Eva itu melirikku dengan
pandangan merajuk.. kuputar lagi tubuhnya sehingga kita saling berhadapan,
kemudian aku berjongkok dan kulihat ada 2 lintah menempel di paha bagian
dalam kiri dan kanan.. bener-bener hebat lintah-lintah itu.. tau benar dia tempat-tempat strategis untuk menghisap darah.. tak lupa aku
memandang ke arah selangkangannya yang hanya tertutup jaring itu sehingga
tampak jelas segunduk daging gemuk yang ditutupi bulu-bulu keriting nan lebat
itu. Amari melihat tingkahku itu dan dengan segera menutupinya dengan
jari tangannya..”mas Rafiiii… kok malah ngintip sihh.. mbok tolong
buangin lintahnya.. nanti Ria bilangin mama lo..” rajuknya dengan manja. “Oke..Oke.. begini caranya… lintah ini akan kita taburi
garam.., lalu kita buang.. begitu sudah lepas.. sebaiknya bekas gigitan lintah
itu kita sedot dan buang darahnya ke lantai supaya tak ada racun yang
masuk.. is that clear..?” Ria mengangguk mendengar penjelasanku yang –
terus terang — cuma didasari oleh logika “ngeres” itu. Aku mengambil garam
yodium di ransel Amari, dan mulai kutaburi di lintah yang menempel di dada
kirinya.. “Ria .. sorry.. bisa dibuka BH nya semua ? aku takut kalau
lintahnya lepas malah jatuh ke dalam cup BH.. bisa berabe nanti.. ” Ria
mengangguk menuruti permintaanku yang ditunjang mimik serius itu.. ia
menjulurkan kedua tangannya ke belakang punggung dan… tassss.. terlepaslah
kedua buah dada cantik itu dan bergelayut dengan menantang. Begitu
dekatnya mataku sehingga aku bisa melihat urat-urat birunya di sepanjang
buah dada itu. Tangan kananku memegang buah dada kirinya, mengangkatnya..
“sssss… mau diapain mas..?” bisiknya mendesis geli..” supaya garamnya
ngga kemana-mana..” jawabku seenaknya.. lalu kutaburi lagi lintah itu
dengan garam seraya menempelkan jari telunjukku di ujung putingnya..
“mmass..” Amari menatap mukaku dengan mata sayu karena geli.. tubuhnya
mulai menggeliat pelan.. beberapa detik kemudian lintah itu
menggeliat-geliat dan dengan mudah kutarik dan kubuang…. Amari meringis ketika
sedotan lintah itu terlepas.. Lalu kuturunkan mukaku, kudekati bibirku ke
bekas gigitan lintah yang berwarna biru itu, lalu perlahan-lahan
kujilat.. “perih Ria..?” tanyaku.. “ehhhh.. g..geli..” rintihnya ketika aku
mulai mengecup-ngecup dadanya.. mula-mula perlahan.. kemudian sedikit
keras.. dan akhirnya kusedot dengan kuat.. “Ehhhhh mmas Rafiii..?!?!?”
rengeknya sambil menjambak rambutku.. mungkin maksudnya ingin mencegah..
tapi tak kulihat usaha sungguh-sungguh ke arah itu.. perlahan tapi pasti
kuperluas areal sedotanku bukan hanya di bekas gigitan lintah tapi bergeser
menuju putingnya..terus.. semakin dekat.. semakin dekat… dan….”AUUUUUUWWW…
!!!” Bersamaan dengan masuknya puting panjang Amari ke mulutku,
kuselipkan tangan kananku ke dalam selangkangannya melalui perut, kusibakkan
bulu-bulu keriting lebatnya, dan… kujamah vagina mungil yang
masih sempit itu.. Amari terbelalak dan menutup kedua pahanya. Ia belum
dapat menerima kedatangan benda asing di daerah terlarangnya. Wow..
berarti belum pernah ada tangan lain yang piknik kesana selain aku..
kenyataan itu membuatku semakin terangsang.. Amari menggelinjang kegelian
ketika kusedot dan kugigit puting kirinya.. ia sama sekali tidak menolak ketika tangan kiriku mulai meremas dan memilin buahdada dan puting kanannya. “Mmmasss..please.. stop dulu.. masih ada lintah yang mesti dibuang..” bisiknya dengan suara serak.. stop dulu katanya.. stop dulu..
kalau begitu pasti ada kelanjutannya.. “Ria.. coba kamu berbaring..” Amari
mengikuti permintaanku, “Sorry Ri..” kataku seraya membuka kedua belah
pahanya. Aku menelan ludahku berkali-kali.. susah betul kudeskripsikan dengan
kata-kata betapa merangsangnya ia dalam posisi itu.. lalu kutaburkan garam sebanyak-banyaknya di atas tubuh kedua lintah yang seharusnya
kuberi tanda jasa itu karena memberi kesempatan menelanjangi Amari di
hadapanku.. dan.. lintah-lintah itu menggeliat-geliat sebelum dengan mudah
kulemparkan ke luar… kupandangi CD nya yang merangsang itu, kupandangi
bulu-bulu keriting itu.., kiturunkan wajahku mendekati selangkangannya..
sekilas kulihat Amari mengangkat kepalanya ingin melihat apa yang akan
kulakukan di selangkangannya.. kutempelkan bibirku di paha dalam kanannya..
bukannya kusedot, malah kutelusuri paha bagian dalam itu ke atas mendekati
vaginanya. Bau khas vagina perempuan menusuk hidungku.. dan aku
sangat hafal.. bahwa ini bau vagina yang sudah banjir !!
“Ehhh…hhhhhh…ssssss masss.. ” desisnya sambil menggoyang pinggulnya ke kiri dan
kanan. Bibirku sampai sudah di vaginanya. Kukecup CD nya yang sudah basah oleh
cairan vagina Amari.. lalu dengan jari telunjukku kukuakkan CD di
selangkangannya itu ke samping sehingga tampak belahan vaginanya yang sudah mulai
terbuka namun masih tampak sempit itu.. kukecup bibir
vaginanya..kunaikkan bibirku ke arah atas dan kutemukan bagian yang menonjol sebesar biji
kacang lalu tiba-tiba…….kukecup dan kusedot-sedot..
“AAAAHHH…ssss…MASSS” jeritnya sambil tiba-tiba bangkit dari tidurnya sambil menjambak
rambutku untuk menghentikan aktifitasku..”mas..please..MAS RAFI..PLEASE…j..jangan mass.. nanti Ria keterusan… OUUUHHH..” lenguhnya
ketika tanpa menghiraukan kata-katanya aku mulai memasukkan dan
menggerak-gerakkan lidahku ke dalam vaginanya. Aku menghentikan jilatanku, kuangkatwajahku
ke hadapan wajahnya.. kami berdua kini berada dalam posisi
duduk…Kaki Amari mengangkang .. sedangkan aku berlutut di hadapannya..
kupandang wajah cantik yang kini tak berani memandang langsung mataku..
matanya hanya memandang bibirku yang semakin dekat ke bibirnya.. semakin
dekat dan.. Amari memejamkan matanya.. tangannya naik memeluk leherku..
tanganku memeluk bahunya dan merapatkan buah dadanya ke dadaku..kamipun
berciuman dengan mesranya.. desahan dan rintihan halus terdengar memenuhi
gubuk itu.. sesekali kulepas bibirnya dan ku kecup kupingnya seraya
membisikkan kata-kata mesra.. “Aku sayang kamu Ria.. kamu cantik sekali..”
kemudian kulanjutkan ciumanku dengan kuluman lidahku dalam mulutnya..
Amari ternyata cukup mahir dalam hal cium mencium.. ia melumat habis
bibirku dan menjelajah bersih seluruh rongga mulutku.. masih sambil menciumi bibirnya.. perlahan-lahan kubaringkan dan…… kutindaih tubuh
sintal Amari dengan tubuh tegapku sehingga buah dadanya yang besar itu
serasa hendak pecah tergencet oleh dadaku.. dengan cepat kuturunkan
celana dalamku sehingga penisku seakan meloncat keluar dan berdiri tegak
mencari tempat berlabuh.. dengan lembut kubimbing tangan kanan Amari ke
selangkanganku dan kugenggamkan penis gemukku itu di tangannya.
Sambil menggigit dan mengecup bibirku, mata perempuan itu mendelik
ketika tangannya memegang raksasa kecil di selangkanganku itu..tangannya
secara refleks mulai bergerak maju-mundur..maju-mundur.. my Beby..
nikmatnya.. betapa nikmatnya kocokan seorang anak perawan yang ibunya pun
sering kusetubuhi.. kedua tanganku turun ke pinggang Amari dan dengan
cepat menurunkan CD nya.. tiba-tiba Amari meronta, tangannya melepaskan
penisku dan berpindah menahan CD nya agar tidak diturunkan.. ia
melepaskan bibirnya dari ciumanku dan dengan nafas tersengal-sengal ia
mendesah “mas Rafi.. j..jangan mass.. Ria takut keterusan.. Ria takuut… Ria
belum siaap…” Aku mengecup kening dan pipinya dengan penuh kasih
sayang..”sh..sh..sh..sh..sh…. jangan takut sayang.. ibumu
mengalami hal ini 3 tahun lebih dulu dari usiamu yang sekarang.. dan dia ngga
menyesal kan?” “Oke..kalau begitu kita akan bermain tanpa mengganggu
keperawananmu.. aku akan memasuki hanya kalau kamu minta..
setuju??” Ria
tersenyum lega dan mencium bibirku. Tangannya kembali mengocok
penisku dan akupun dengan leluasa menurunkan CD nya.. akhirnya… Kaami
berdua bergumul dengan penuh nafsu dalam keadaan telanjang bulat…
Amari mulai menggelinjang-gelinjang histeris “Ouww..maaaass..maaaasss..
gellliiihhh aouww..” .. terutama bila kugesekkan penis raksasaku ke klit nya.
Untuk menambah kenikmatan gesekan itu.. Amari mengangkat kedua pahanya
sehingga kepala penisku menusuk-nusuk klitnya yang….ya ampuuun…sudah
sangat bengkak itu… tiba-tiba kurasakan hal yang aneh di kedua
pahaku…ya ampuuun.. lintah-lintah kurang ajar itu ternyata dengan santainya
masih menikmati darahku.. Kuhentikan kegiatanku “Ria.. tolong aku ya??
Tolong buang lintah-lintah di kakiku..” Ria tertawa seraya mendorong
badanku ke samping “Ya ampun..mas.. saking asyiknya Ria jadi lupa..” “Kamu
ngerasa asyik Ria ?” tanyaku memancing. Mariia tertunduk sambil tersenyum
lalu menganggukkan kepala. “Pernah ngerasain asyik yang seperti ini
dengan orang lain ? Pancingku lagi.. c’mon Fi.. cut it out.. it’s none
of your business.. tapi aku penasaran mendengar jawabannya.. sambil masih
terus menunduk Amari menggelengkan kepalanya.. tampak ia menggigit
bibirnya tanda menahan rasa malu.. yessss so I am the first time..
yessss…. to be the first selalu memberikan kebanggaan tersendiri… yesss ..
(dasar laki-laki !! first time aja diributin !!). Aku berbaring sambil
mengangkang, mata Amari tak bisa lepas dari penis gemukku yang
masih berbaring tegak dengan kepalanya yang nyaris menyentuh puser.
Tangannya menaburkan garam di tubuh lintah-lintah sialan itu.. dan tak
lebih dari semenit, binatang menjijikkan itu sudah pada berjatuhan. Amari melemparkannya jauh-jauh.. lalu langkah berikutnya ? Amari
mendekatkan mukanya ke arah selangkanganku perlahan-lahan.. semakin dekat..
semakin dekat.. dan terasa paha bagian dalam kaki kiriku di sedot..
setelah beberapa saat ia berpindah meneyedot bekas gigitan lintah di kaki kananku.. ketika itu kugesekkan penis raksasaku d pipinya
..tiba-tiba ia melepaskan sedotannya lalu membaringkan kepalanya di atas penisku
lalu seraya memejamkan mata ia membelainya dengan pipi kanan dan
kiri.. seperti sedang menyayangi anak kucingnya.. lalu ia menciumi dan menjilati
batang penisku dari arah testis keatas..terus ke atas.. perlahan tapi
pasti terus ke atas… sejenak ia berhenti di urat di bawah kepala penisku
dan menggigitnya..”Yaaaahhh..ouwww Ria.. enaknya.. belajar dari mana
kamu..?” “movie..” jawabnya pendek dan seketika itu juga ia membuka
mulutnya lebar-lebar dan mengamblaskan seluruh penisku ke dalam
mulutnya… sungguh kasihan melihat Amari di saat itu.. ia persis seperti seorang
anak yang memasukkan 2 buah pisang ambon ke dalam mulutnya… besar
sekali.. Kemudian ia menaikkan kepalanya naik.. turun..naik.. turun..
tiba-tiba naik-turun, naik-turun, kebih cepat lagi..lebih cepat lagi… aku
bangkit duduk dan membelai punggung mulus Amari, yang dilanjutkan dengan
meremas kedua buah dada besar anak gadis itu terasa benar kenyanya di
telapak tanganku..”Mmmmhhh..Emhhhhh…Emhhhhhhh” ia menjerit-jerit sambil
terus mengulum ketika kuperas keras-keras kedua buah dadanya…
tiba-tiba aku berbaring kembali, namun tubuhku kupindahkan sedemikian rupa
sehingga wajahku tepat berada di bawah vaginanya..yess 69 position..
dan… kubenamkan wajahku dalam hutan lebat milik perawan ini.. Aku
menjilati seluruh bagian bibir luar maupun dalam vagina Amari.. Perempuan
itu menggelinjang-gelinjang dengan dasyat di atas perutku. Ia juga
tak menolak ketika kuselipkan lidahku ke dalam vaginanya..semakin dalam..
semakin dalam.. lalu dengan lidah ditegangkan aku menggerakkan mukaku
maju-mundur di bawah vagina Amari. Perempuan itu sungguh-sungguh sedang dalam
puncak birahinya sehingga ia benar-benar lupa diri.. satu-satunya hal
dalam benaknya adalah.. kepuasan seksual.. apapun itu namanya…
Kugulingkan kembali Amari, lalu kutindih tubuh sintalnya.. kembali kuciumi
kuping dan lehernya.. mata Amari tampak terpejam dan kulihat ia sudah
mengangkangkan pahanya seakan menanti sesuatu.. aku agak ragu-ragu melihat
sikapnya itu.. tapi tak ada salahnya mencoba.. kuarahkan kepala penisku ke dalam vaginanya. Kutempelkan di pintunya yang sempit itu.. tak ada
perlawanan.. hanya rintihan penantian yang menggairahkan.. “mas.terus
masss…” aku mulai memasukkan penisku ke dalam vagina sempit itu.. 1 cm..3
cm.. 5 cm.. Amari menggigit bibir.. ia menghayati betul masuknya penisku
centi demi centi… 7 cm.. “aaaaahh…..” 10 cm… “aaaAAAHH…” dan…16 cm
..”AAAAAAAAHHHHH…”BLESSSSS.. amblas sudah keperawanan Amari.
Tampak darah segar meleleh dari vaginanya dan membasahi bivak di bawah.
Amari menggigit bibir..alisnya berkerut..expresinya menunjukkan ia
sedang merasakan kesakitan… buah dadanya yang bergeletar kesana kemari
kuremas dan kusedot… tiba-tiba aku mulai menggenjot penisku keluar
masuk vagina Amari.. “aaahhhh..mas…aduh enaknyah..aduh
enaknyahhh..aaaahhhh..” Amari menjerit-jerit histeris mirip tantenya Atika. Gerakanku semakin
cepat dan semakin cepat.. tiba-tiba kurasakan otot-otot vagina Amari
berkontraksi.. seluruh tubuh wanita itu menegang..Amari memelukku dan mencium
bibirku erat-erat…Juga pinggulnya berputar semakin cepat.. Aku semakin
cepat menggenjot penisku.. makin cepat.. makin cepat.. tiba-tiba
kurasakan sesuatu menyemprot dari penisku… “RIIIAAAAAA…” “mmas RAFIII…AAAAAAHH…” crat..crat..crat..crat…crat….. aku menembakkan spermaku seraya menerima siraman air panas dari vaginanya. Kami terhempas setelah mengarungi samudera birahi penuh nafsu ini. Amari memejamkan matanya. Tampak ada air mata meleleh di ujungnya.. “Ria bahagia mas…Ria puas..” Kami saling bercumbu mesra sambil berpelukan selama kurang lebih lima belas menit, sebelum memutuskan untuk menggunakan baju lembab dan meneruskan perjalanan ke Batu Sumur. Survey itu sukses, dan aku sempat sekali lagi bersetubuh dengan Amari disebuah motel di Bogor sebelum kembali ke rumah.
Sampai bulan ke 6, aku menjalani kehidupan sex yang paling mengggairahkan selama hidupku. Setiap minggu aku harus menyetubuhi at least mbak Eva dan anaknya Amari… juga Atika bila suaminya berlayar.. Sesudah
bulan ke-6 aku kembali ke Jakarta. Hubunganku dengan Amari berlanjut hingga kini. Mbak Eva hanya tau bahwa kita pacaran, tanpa tahu bahwa hubungan kami sudah seperti suami istri. Semenjak aku menjalin hubungan serius dengan Amari, aku berhenti berhubungan sex dengan mbak Eva. Janda cantik itu setahun kemudian menikah dengan seorang duda tanpa anak. Atika melahirkan seorang anak hasil hubungannya denganku. Namun, suaminya hanya tahu bahwa itu adalah anaknya. Atika mendapatkan sensasi yang luar biasa karena bisa memperoleh anak dari bukan suaminya. Sensasi ini berupa perasaan dendam yang terbalas. Aku hidup bersama dengan Amari yang tak pernah mengetahui hubunganku dengan ibu dan tantenya…dan aku menghentikan petualangan sex ku setelah Amari ada di sisiku..at least sampai hari ini… entah besok, atau lusa..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar