Rabu, 09 Juni 2010

akibat-hujan


Akibat Hujan


Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi
sebelum saya mengenal lebih dalam soal internet. Hanya luarnya
saja. Ketika itu saya masih kursus di sebuah lembaga sebut
saja ITK (bukan universitas). Saat itu saya masih belum begitu
kenal dengan internet, dan saya masih dalam taraf pemula dan
baru sampai dalam soal hardware. Sejak berkenalan dengan
seorang teman di ITK saya mulai mengenal apa itu internet. Dan
saya suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya
berada di sana. Semakin lama saya suka sekali ber-chatting ria
sampai suka lupa waktu dan pulang malam hari.

Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet
mulai jam 18:00, dan saya langsung mengecek e-mail. Setelah
selesai saya suka browsing sambil chat. Pada saat itu hujan
deras mengguyur seisi kota disertai angin. Pada saat saya
membeli minuman (di dalam warnet), saya melihat dua orang
gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena
kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih
dan biru (cewek yang satunya), dan celana pendek. Dari balik
kaos putih basah itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah
muda, juga sepasang payudara montok agak besar. Saya kembali
ke meja dan melihat mereka berdua menempati meja di depan
saya. Sambil menunggu jawaban dari chat, saya mencuri pandang
pada dua gadis itu. Semakin lama saya lihat saya tidak bisa
konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yang hanya
mengenakan celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih
mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yang tercetak jelas
akibat baju yang basah.

Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga
warnet terlihat sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera
menyala dan meminta agar netter sabar. Tetapi 30 menit berlalu
dan tidak ada tanda-tanda bahwa listrik akan menyala sehingga
sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya
masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi saya tidak
bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa
motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah
membayar uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih
deras. Mereka hanya bisa duduk di sofa yang disediakan pihak
warnet (sofa yang digunakan untuk netter apabila warnet sudah
penuh dan netter bersedia menunggu), wajah mereka tampak
gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yang
terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak
bisa pulang.

Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi hawa
menjadi dingin akibat angin yang masuk dari lubang angin di
atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa.
Ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ saya
mengetahui nama mereka adalah, Tuti (baju putih) dan Erni
(baju biru). Lagi enak-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh
seorang cewek yang masuk ke dalam sambil tergesa-gesa. Dari
para penjaga yang saya kenal, cewek tadi adalah pemilik
warnet. Saya agak terkejut karena pemilik warnet ini ternyata
masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy. Cewek tadi
menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala
sampai besok pagi.

Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.
"Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan,
sekalian nemenin Mbak ya.." kata cewek yang punya nama Riyas
ini. Kemudian berjalan ke depan dan menurunkan rolling door.
"Saya bantu Mbak," kataku.
"Oh, nggak usah repot-repot.." jawabnya. Tapi aku tetap
membantunya, kan sudah di beri tempat berteduh. Setelah
selesai aku menyisakan satu pintu kecil agar kalau hujan reda
aku bisa lihat.
"Ditutup saja Dik, dingin di sini.." kata Riyas, dan aku
menutup pintu itu. Entah setan mana yang lewat di depanku,
otak ini langsung berpikir apa yang akan terjadi jika ada tiga
cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yang tertutup tanpa
orang lain yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di
dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan
mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yang tidak tahu
akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara.
"Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju.." kata Riyas.

Aku bertanya dengan nada menyelidik, "Mbak tinggal di sini
ya?"
"Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian
baterai lampu sudah mau habis, ya.." katanya.

Kami bertiga mengikuti Mbak Riyas ke atas. Warnet itu terdapat
di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk
warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan tempat istirahat
penjaga, lantai tiga inilah rumah Riyas. Menaiki tangga ke
lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang akan menghentikan kita
apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak merasa
berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yang besar, kami
disuruh duduk di ruang tamu. Riyas bilang dia akan mandi dan
menyalakan sebuah notebook agar kami bertiga tidak bosan
menunggu dia mandi.

Ternyata notebook itu tidak memiliki game yang bisa membuat
kami senang. Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan
17Thn (ketika itu masih 17tahun.zip), aku menduga ini adalah
permainan, ketika kubuka ternyata isinya adalah cerita yang
membuat adikku berdiri. Tuti dan Erni pun agak malu melihat
cerita-cerita itu. Tapi yang membuat aku tidak tahan adalah
mereka tidak memperbolehkan aku menutup program itu dan mereka
tetap membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa
terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah
selesai membaca, Tuti merapatkan duduknya dan aku bisa
merasakan benda kenyal menempel di lengan kananku. Erni pun
mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku. Sambil
mereka melihat cerita yang lain, aku merasakan sakit di dalam
celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu,
mereka semakin menjadi-jadi, bahkan Tuti membuka kaosnya
dengan alasan merasa panas, sedangkan Erni membuka kaosnya
dengan alasan kaosnya basah dan takut masuk angin. Aku merasa
panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan posisi
adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku
membuka baju juga.

Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku
semakin panas karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yang
menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga
iman ini, aku menaruh notebook itu di meja di depanku dan aku
menciumi Tuti dengan nafsu yang sudah memuncak, Tuti pun tak
mau kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar. Sedangkan
Erni sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku
kulingkarkan pada Erni dan mulai meremas buah dada yang masih
tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di
tubuh Tuti dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah
dadanya. Erni mulai membuka celanaku dan menghisap penis yang
sudah tegang itu.

"Ouhh.. mmhh.. yahh.." aku mulai menikmati jilatan Erni pada
kepala penisku. Tuti pun jongkok di depanku dan menjilat
telurku. Aku hanya bisa pasrah melihat dan menikmati permainan
mereka berdua. Kemudian Riyas keluar dari kamar dengan
selembar handuk menutupi tubuh, dia menarik meja di depanku
supaya ada cukup tempat untuk bermain. Riyas berlutut sambil
membuka celana Tuti. Setelah celana Tuti lepas, dia mulai
menghisap vagina Tuti. "Ooohh.. Ssshh.. ahh.." Tuti mendesah.
Tak lama kemudian Tuti membalikkan tubuhnya dan sekarang
posisi Riyas dan Tuti menjadi "69". Aku pun sudah tak tahan
lagi, segera kuangkat Erni dan membaringkannya di lantai dan
membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap
vagina yang sedang merah itu. "Auuhh.. Ooohh.. Sayang.."
desahan Erni semakin membuatku bernafsu.

Dengan segera aku mengarahkan penisku ke vagina Erni, dan
mulai menusukkan secara perlahan. Erni merasa kesakitan dan
mendorong dadaku, aku menghentikan penisku yang baru masuk
kepalanya itu. Selang agak lama Erni mulai menarik pinggangku
agar memasukkan penis ke vaginanya, setelah masuk semua aku
menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara
perlahan-lahan. "Ahh.. ayo Sayang.. ohh.. cepat.." Aku pun
mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Tuti dan
Riyas saling menggesek-gesekkan vagina mereka. "Auuhh..
oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh.." desahan Erni berubah
menjadi teriakan histeris penuh nafsu.

Tak lama kemudian Erni mencapai orgasme, tapi aku terus
menusukkan penis ke arah vagina Erni. "Gantian donk, aku juga
pingin nih.." kata Tuti sambil menciumi bibir Erni. Aku pun
menarik penisku dan mengarahkan ke vagina Tuti setelah dia
telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa licin sekali
dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami
orgasme bersama Riyas. Tampaklah Erni dan Riyas tertidur di
lantai sambil berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot tubuh
Tuti sampai akhirnya Tuti sudah mencapai puncak dan aku
merasakan akan ada sesuatu yang akan keluar. "Aahh.." suara
yang keluar dari mulutku dan Tuti. Akhirnya kami berempat
tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah kejadian itu
aku tidak pernah bertemu dengan Tuti dan Erni. Riyas sekarang
sudah menikah dan tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan aku
masih sibuk dengan urusan kerja dan tidak pernah ke warnet itu
lagi karena sudah ada sambungan internet di rumahku.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar